وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, lalu mereka berbuat fasik di dalamnya, maka pastilah berlaku atasnya ketetapan, lalu Kami hancurkan ia sehancur-hancurnya.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةًwa-idzaa aradnaa an nuhlika qaryatandan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri
  2. أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَاamarnaa mutrafiihaa fa-fasaquu fiihaaKami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, lalu mereka berbuat fasik di dalamnya
  3. فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُfa-haqqa 'alayhaa l-qawlumaka pastilah berlaku atasnya ketetapan
  4. فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًاfa-dammarnaahaa tadmiiranlalu Kami hancurkan ia sehancur-hancurnya

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. أَرَدْنَاaradnaaKami menghendaki
  3. أَنْanuntuk
  4. نُهْلِكَnuhlikaKami membinasakan
  5. قَرْيَةًqaryatannegeri
  6. أَمَرْنَاamarnaaKami perintahkan
  7. مُتْرَفِيهَاmutrafiihaaorang-orang bermewah di sana
  8. فَفَسَقُواfa-fasaquumaka mereka menyalahi
  9. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  10. فَحَقَّfa-haqqamaka pastilah
  11. عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
  12. الْقَوْلُl-qawluperkataan
  13. فَدَمَّرْنَاهَاfa-dammarnaahaamaka Kami menghancurkannya
  14. تَدْمِيرًاtadmiirankehancuran

Inti bacaan

Pola kehancuran suatu negeri dijelaskan bermula dari 'orang-orang yang hidup mewah' yang justru berbuat fasik, kemewahan tanpa kendali moral disorot sebagai titik rawan yang bisa memicu kehancuran kolektif, bukan sekadar netral.

Penjelasan pilihan kata

'Orang-orang yang hidup mewah' (mutrafiihaa): kelompok yang secara spesifik disebut sebagai pihak yang diperintahkan, menyoroti peran kalangan berkecukupan/berkuasa dalam menentukan arah moral suatu masyarakat. 'Berbuat fasik' (fasaquu): respons mereka terhadap perintah itu, sebuah kata yang menandai pelanggaran batas yang sudah ditetapkan.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan mekanisme umum di balik kehancuran suatu negeri, bukan kehendak sewenang, melainkan respons terhadap kefasikan yang justru dimulai dari kalangan yang berkecukupan dan berpengaruh dalam masyarakat itu.

Renungan dan Hikmah

  • Penyebutan spesifik 'orang-orang yang hidup mewah' sebagai pemicu kefasikan yang berujung kehancuran menyoroti tanggung jawab besar yang melekat pada kalangan berkecukupan dan berpengaruh dalam masyarakat, kerusakan moral suatu komunitas sering kali dimulai dari mereka yang memiliki kekuasaan untuk menentukan arah, bukan dari kalangan yang lemah.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar r-w-d, h-l-k, q-r-y, a-m-r, t-r-f, f-s-q, h-q-q, q-w-l, d-m-r): nuhlika diterjemahkan 'membinasakan' (akar h-l-k); amarnaa mutrafiihaa diterjemahkan 'Kami perintahkan orang yang hidup mewah' (akar '-m-r + akar t-r-f); fasaquu diterjemahkan 'berbuat fasik' (akar f-s-q); haqqa alayhaa l-qawl diterjemahkan 'berlaku/pasti atasnya perkataan' (akar h-q-q + akar q-w-l); dammarnaa diterjemahkan 'menghancurkan' (akar d-m-r). gloss '(agar menaati Allah)/(azab Kami)' dibuang.