لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

Janganlah engkau menjadikan tuhan lain bersama Allah, nanti engkau menjadi tercela lagi terhina.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَlaa taj'al ma'a llaahi ilaahan aakharajanganlah engkau menjadikan tuhan lain bersama Allah
  2. فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًاfa-taq'uda madzmuuman makhdzuulannanti engkau menjadi tercela lagi terhina

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. تَجْعَلْtaj'alengkau menjadikan
  3. مَعَma'abersama
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. إِلَٰهًاilaahantuhan
  6. آخَرَaakharayang lain
  7. فَتَقْعُدَfa-taq'udamaka engkau duduk
  8. مَذْمُومًاmadzmuumanyang tercela
  9. مَخْذُولًاmakhdzuulanyang terhina

Inti bacaan

Larangan menyekutukan Allah disertai konsekuensi konkret: 'menjadi tercela lagi terhina', bukan sekadar pelanggaran abstrak, melainkan berdampak pada martabat dan posisi diri sendiri secara nyata.

Penjelasan pilihan kata

'Terhina' (makhdzuul): merujuk pada keadaan ditinggalkan tanpa pertolongan, sebuah konsekuensi ganda (tercela dan tanpa penolong) bagi siapa pun yang mempersekutukan Allah.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian perintah etika padat yang akan berlanjut hingga 17:39: dimulai dengan larangan paling mendasar, keesaan Allah, sebelum beralih ke perintah-perintah etika sosial yang lebih spesifik.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membuka rangkaian perintah etika dengan larangan ini. Sebelum yang lain. Yang paling pokok ditaruh di depan.
  • Dua akibat disebut: tercela, dan terhina. Berpasangan. Yang satu dari mulut orang, yang lain dari ketiadaan penolong.
  • Allah memakai kata bersama Allah. Bukan menggantikan. Yang dilarang penambahan, dan penambahan itu sudah cukup.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar j-'-l, a-l-h, a-kh-r, q-'-d, dz-m-m, kh-dz-l): ilaahan aakhar diterjemahkan 'tuhan lain' (ilaah dijaga harfiah); taq'uda diterjemahkan 'engkau menjadi (duduk)' (akar q-'-d); madhmuum/makhdhuul diterjemahkan 'tercela/terhina'. Selaras.