وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌwa-laa taqfu maa laysa laka bihi 'ilmunjanganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui
- إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًاinna s-sam'a wa-l-bashara wa-l-fu'aada kullu ulaa'ika kaana 'anhu mas'uulansesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya
Terjemahan per kata (16 kata)
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- تَقْفُtaqfuengkau mengikuti
- مَاmaaapa yang
- لَيْسَlaysabukanlah
- لَكَlakabagimu
- بِهِbihitentangnya
- عِلْمٌ'ilmunpengetahuan
- إِنَّinnasesungguhnya
- السَّمْعَs-sam'apendengaran
- وَالْبَصَرَwa-l-basharadan penglihatan
- وَالْفُؤَادَwa-l-fu'aadadan hati
- كُلُّkullusetiap
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- كَانَkaanaadalah
- عَنْهُ'anhudarinya
- مَسْئُولًاmas'uulanyang ditanya
Inti bacaan
Larangan mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan disertai penegasan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati nurani semuanya akan diminta pertanggungjawaban, setiap indra dan kapasitas kognitif yang dipakai untuk membuat keputusan turut dipertanggungjawabkan. Konkretnya: sebelum mengambil kesimpulan atau tindakan, memastikan informasi yang dimiliki cukup dan valid adalah kewajiban, 'ikut-ikutan' tanpa pengetahuan yang memadai tetap dipertanggungjawabkan secara personal.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melarang satu hal, lalu menyebut alasannya lewat tiga hal yang tak terduga.
Larangannya berbunyi jangan mengikuti sesuatu yang tidak diketahui. Yang dilarang bukan salah, melainkan mengikuti tanpa dasar. Sesuatu yang kebetulan benar tetap masuk larangan ini kalau diikuti tanpa diketahui, sebab yang dipersoalkan cara seseorang sampai ke sana, bukan tempat ia berhenti.
Alasannya disebut lewat tiga hal: “pendengaran, penglihatan, dan hati” (السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ, as-sam'a wa-l-bashara wa-l-fu'aada). Susunan persis ini hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ketiganya disebut sebagai yang akan dimintai pertanggungjawaban, bukan orangnya. Alat-alat itu sendiri yang ditanya.
Tiga hal yang sama disebut di tempat lain dengan nada yang berlawanan. Di 16:78 ketiganya disebut sebagai pemberian bagi manusia yang lahir tanpa mengetahui apa-apa, dan tujuannya dinyatakan agar bersyukur. Jadi ketiganya muncul dua kali dengan dua wajah: sekali sebagai anugerah, sekali sebagai yang akan ditanya. Yang diberikan cuma-cuma ternyata tetap dihitung pemakaiannya.
Kata yang dipakai untuk pertanggungjawaban itu sendiri berulang di dekat sini. “Akan diminta pertanggungjawabannya” (مَسْئُولًا, mas'uulan) muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (17:34, 17:36, 25:16, 33:15), dan yang pertama berada hanya dua ayat sebelum ini. Di sana yang akan ditanya adalah janji, di sini alat pengetahuan. Dua ayat berdekatan memakai kata yang sama untuk dua hal yang tampak berjauhan, yaitu apa yang seseorang ucapkan kepada orang lain dan apa yang ia masukkan ke dalam dirinya sendiri.
Susunan ketiga alat itu pun bergerak dari luar ke dalam: telinga, mata, lalu hati. Dua yang pertama pintu masuk, yang ketiga tempat penyimpanan. Urutan itu menggambarkan jalan yang ditempuh sebuah keterangan sebelum menjadi keyakinan, dan pertanggungjawaban dinyatakan berlaku di sepanjang jalan itu, bukan hanya di ujungnya. Orang tidak hanya ditanya apa yang ia yakini, melainkan juga apa yang ia biarkan masuk.
Larangannya sendiri berbentuk umum tanpa penyebutan pokok tertentu. Tidak dikatakan jangan mengikuti berita yang tak diketahui, dan tidak pula jangan mengikuti pendapat yang tak diketahui. Yang disebut “sesuatu yang tidak kauketahui” (مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ, maa laysa laka bihi 'ilmun), sehingga jangkauannya mencakup kabar, tuduhan, sangkaan, dan penilaian sekaligus. Keluasan itu membuat ayat ini sulit dijadikan aturan bagi satu bidang saja.
Satu hal terakhir pada bentuk kata kerjanya. Yang dilarang bukan mempercayai melainkan mengikuti, dan mengikuti adalah perbuatan yang terlihat. Larangan ini karena itu tidak berhenti di dalam kepala; ia menyangkut apa yang seseorang sebarkan, dukung, dan jadikan dasar bertindak.
Tafsiran
Ayat ini melarang mengikuti sesuatu tanpa dasar pengetahuan yang jelas, menegaskan bahwa ketiga alat yang dianugerahkan Allah, yaitu pendengaran, penglihatan, dan hati, bukan hanya nikmat pasif, melainkan sesuatu yang penggunaannya akan dipertanggungjawabkan. Yang paling tidak biasa pada susunannya, yang disebut akan ditanya bukan orangnya melainkan alat-alat itu sendiri.
Cara menyebut seperti itu memindahkan letak persoalan. Kalau yang ditanya orangnya, yang diperiksa adalah keputusannya. Kalau yang ditanya alatnya, yang diperiksa seluruh yang pernah melewatinya, termasuk hal-hal yang tak pernah sampai ke tahap keputusan. Apa yang didengar sambil lalu, apa yang dilihat tanpa dicari, dan apa yang dibiarkan mengendap di hati semuanya masuk ke dalam jangkauan itu.
Larangannya sendiri menyimpan satu hal yang menuntut kejujuran. Yang dilarang bukan yang salah, melainkan yang belum diketahui. Artinya seseorang bisa melanggar ayat ini sambil kebetulan berada di pihak yang benar, sebab yang dinilai bukan tempat ia berhenti melainkan cara ia sampai ke sana. Ukuran semacam itu tidak bisa dipenuhi dengan memperbaiki kesimpulan; ia hanya bisa dipenuhi dengan memperbaiki cara.
Kalau ayat ini dibaca bersama 16:78, gambarannya menjadi utuh. Di sana ketiga hal yang sama disebut sebagai pemberian bagi manusia yang lahir tanpa mengetahui apa-apa, dengan tujuan agar bersyukur. Di sini ketiganya disebut sebagai yang akan ditanya. Satu benda yang sama muncul dua kali dengan dua wajah, dan jarak antara keduanya adalah jarak antara menerima dan mempertanggungjawabkan. Yang diberikan cuma-cuma ternyata tetap dihitung pemakaiannya, dan justru karena diberikan cuma-cuma itulah ia dihitung.
Renungan dan Hikmah
- Tiga alat pengetahuan yang disebut sebagai anugerah di 16:78, dengan tujuan agar bersyukur, kini disebut lagi di sini sebagai sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan, dua sisi dari nikmat yang sama: diberikan sebagai karunia, namun penggunaannya bukan tanpa konsekuensi. Ketiga alat itu disebut sebagai anugerah di 16:78, yaitu di surah sebelumnya, dan disebut sebagai yang dimintai pertanggungjawaban di sini. Dua penyebutan itu berjarak dekat di dalam mushaf. Pemberian dan pertanggungjawabannya dipasang berdekatan, dan urutannya tidak dibalik: yang diberikan disebut lebih dulu.
- Allah melarang mengikuti sesuatu yang tidak diketahui, bukan melarang yang salah. Sesuatu yang kebetulan benar tetap masuk larangan ini. Yang dipersoalkan cara sampainya, bukan tempat berhentinya. Yang dilarang bukan berbicara dan bukan bertindak, melainkan mengikuti sesuatu yang tidak diketahui. Kata mengikuti mengandaikan penyerahan diri kepada sesuatu yang berjalan di depan. Jadi yang dilarang adalah menyerahkan langkah kepada hal yang belum diperiksa, dan larangan itu berlaku sama pada perkara besar maupun kecil.
- Susunan pendengaran, penglihatan, dan hati dalam bentuk seperti ini cuma sekali muncul di seluruh Al-Quran. Sekali saja. Dan sekali itu untuk menyebut apa yang akan ditanya. Rangkaian ketiganya (السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Urutannya bergerak dari yang paling luar ke yang paling dalam, yaitu telinga, mata, lalu hati. Itu urutan masuknya sesuatu ke dalam diri, dan yang dimintai pertanggungjawaban adalah seluruh jalurnya, bukan cuma ujungnya.
- Allah menyebut yang dimintai pertanggungjawaban itu pendengaran, penglihatan, dan hati, bukan orangnya, dan ketiganya yang sama Dia sebut sebagai pemberian di tempat lain. Kalau yang diberikan cuma-cuma tetap dihitung pemakaiannya, apa yang paling sering kita masukkan lewat ketiga pintu itu hari ini? Yang disebut akan dimintai pertanggungjawaban bukan orangnya melainkan alatnya. Susunan itu janggal kalau dibaca apa adanya, sebab alat tidak memilih apa pun. Apa yang dikerjakan bentuk seperti itu? Ia memisahkan pemakaian dari pemakainya, dan pemisahan itu membuat pertanyaannya lebih rinci: bukan apakah engkau bersalah, melainkan dipakai untuk apa masing-masing yang diberikan kepadamu.
- Ayat ini melarang mengikuti yang tidak diketahui, dan larangan itu berlaku sebelum diketahui apakah yang diikuti benar atau salah. Artinya seseorang bisa melanggarnya sambil kebetulan berada di pihak yang benar. Bagaimana mungkin mengikuti kebenaran disebut pelanggaran? Yang dinilai bukan isi yang diikuti melainkan cara mengambilnya. Orang yang benar karena kebetulan tidak punya alat untuk bertahan ketika keadaan berubah, sebab yang ia pegang bukan pemeriksaan melainkan nasib baik.
- Kata yang dipakai untuk hati di ayat ini bukan kata yang lazim dipakai di tempat lain. Akarnya berkaitan dengan sesuatu yang berkobar dan bergerak, bukan dengan wadah yang diam. Pilihan itu cocok dengan kedudukannya sebagai yang terakhir dalam urutan. Telinga dan mata cuma meneruskan, sedangkan yang ketiga mengolah dan memutuskan, dan Allah menyebut ketiganya sederajat di hadapan pertanyaan yang sama.