وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai gunung dalam ketinggian.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًاwa-laa tamsyi fii l-ardhi marahandan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong
  2. إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًاinnaka lan takhriqa l-ardha wa-lan tablugha l-jibaala thuulansesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mencapai gunung dalam ketinggian

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. تَمْشِtamsyiengkau berjalan
  3. فِيfiidi
  4. الْأَرْضِl-ardhibumi
  5. مَرَحًاmarahandengan sombong
  6. إِنَّكَinnakasesungguhnya engkau
  7. لَنْlantidak akan
  8. تَخْرِقَtakhriqaengkau menembus
  9. الْأَرْضَl-ardhabumi
  10. وَلَنْwa-landan tidak akan
  11. تَبْلُغَtablughaengkau mencapai
  12. الْجِبَالَl-jibaalagunung-gunung
  13. طُولًاthuulantinggi

Inti bacaan

Larangan berjalan dengan sombong disertai alasan logis: 'engkau tidak akan dapat menembus bumi. mencapai gunung dalam ketinggian', kesombongan dipatahkan dengan fakta keterbatasan fisik yang jelas dan bisa diverifikasi.

Penjelasan pilihan kata

'Sombong' (marahan), kata yang menandai kesombongan dalam gaya berjalan, ditegur dengan argumen fisik sederhana: manusia tidak memiliki kapasitas menembus bumi atau menyamai tinggi gunung, sebuah pengingat kerendahan hati berbasis keterbatasan nyata.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian perintah etika dengan larangan kesombongan fisik, memakai argumen konkret yang menyoroti keterbatasan manusia dibanding skala alam: sebuah pengingat kerendahan hati yang menyeluruh.

Renungan dan Hikmah

  • Allah melarang berjalan di bumi dengan sombong. Cara berjalan yang diatur. Sikap hati ternyata terbaca dari hal sekecil langkah kaki.
  • Alasan pertama yang Allah pakai menunjuk ke bawah kaki. Yang diinjak-injak dengan angkuh ternyata tak tertembus oleh yang menginjaknya.
  • Alasan kedua menunjuk ke atas kepala. Dua arah sekaligus. Sikap angkuh diukur terhadap dua benda yang paling biasa dilihat orang, bukan terhadap gagasan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar m-sh-y, a-r-d, m-r-h, kh-r-q, b-l-gh, j-b-l, t-w-l): marahan diterjemahkan 'sombong (angkuh)'; takhriqa diterjemahkan 'menembus' (akar kh-r-q); tablugha diterjemahkan 'mencapai' (akar b-l-gh); tuul diterjemahkan 'ketinggian' (akar t-w-l). Selaras.