قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا

Katakanlah, “Sekiranya ada tuhan-tuhan bersama-Nya sebagaimana yang mereka katakan, tentu mereka mencari jalan kepada Pemilik Arasy.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ آلِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَqul law kaana ma'ahu aalihatun ka-maa yaquuluunakatakanlah, sekiranya ada tuhan-tuhan bersama-Nya sebagaimana yang mereka katakan
  2. إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَىٰ ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًاidzan la-btaghaw ilaa dzii l-'arsyi sabiilantentu mereka mencari jalan kepada Pemilik Arasy

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. لَوْlawsekiranya
  3. كَانَkaanaadalah
  4. مَعَهُma'ahubersamanya
  5. آلِهَةٌaalihatuntuhan-tuhan
  6. كَمَاka-maasebagaimana
  7. يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
  8. إِذًاidzanjika demikian
  9. لَابْتَغَوْاla-btaghawsungguh mereka akan mencari
  10. إِلَىٰilaakepada
  11. ذِيdziipemilik
  12. الْعَرْشِl-'arsyiArasy
  13. سَبِيلًاsabiilanjalan

Inti bacaan

Argumen logis lain menentang politeisme: jika ada banyak tuhan, mereka tentu akan 'mencari jalan kepada Pemilik Arasy' (bersaing untuk otoritas tertinggi), struktur kekuasaan yang terbagi secara logis tidak stabil, mendukung kesimpulan keesaan.

Penjelasan pilihan kata

'Pemilik Arasy' (dzii l-arsh), sebutan untuk Allah sebagai pemegang otoritas tertinggi; argumen ayat ini bersifat logis: jika benar ada tuhan-tuhan lain, mereka pasti akan berusaha mencari cara mendekati atau menyaingi Pemilik otoritas tertinggi, sebuah kompetisi yang tidak pernah terbukti terjadi.

Tafsiran

Ayat ini memberi argumen logis lain terhadap klaim politeisme: jika tuhan-tuhan lain benar-benar ada, mereka pasti berusaha mencari jalan menuju atau menyaingi kekuasaan tertinggi, sebuah dinamika yang tidak pernah terlihat karena memang tidak ada tuhan lain untuk melakukannya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang dipakai membantah bukan dalil dari luar, melainkan tabiat kekuasaan itu sendiri: yang berkuasa akan mencari jalan kepada yang lebih tinggi. Allah memakai jalan pikiran para penyembahnya sendiri. Bantahan yang berdiri di atas anggapan lawan jauh lebih sulit ditolak.
  • Kata yang dipakai mencari jalan, bukan menyerang. Yang digambarkan usaha mendekat, bukan menggulingkan. Bahkan di dalam pengandaian itu, yang di puncak tetap disebut sebagai tujuan, bukan sebagai lawan.
  • Sebutan yang dipakai Pemilik Arasy, bukan nama yang lain. Yang ditonjolkan kedudukan, bukan sifat. Di dalam kalimat tentang persaingan kekuasaan, Allah memilih menyebut diri-Nya dengan yang paling tak mungkin disaingi.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, k-w-n, a-l-h, b-gh-y, '-r-sh, s-b-l): aalihah diterjemahkan 'tuhan-tuhan' (jamak ilaah, dijaga harfiah); ibtaghaw diterjemahkan 'mencari' (akar b-gh-y); dhii l-'arsh diterjemahkan 'Pemilik Arasy' (akar '-r-sh). gloss '(Nabi Muhammad)/(lain)/(Tuhan)/(untuk mengalahkan atau menyaingi-Nya)' dibuang.