وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

Dan siapa yang buta di dunia ini, maka ia di akhirat pun buta dan lebih tersesat jalannya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰwa-man kaana fii haadzihi a'maadan siapa yang buta di dunia ini
  2. فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًاfa-huwa fii l-aakhirati a'maa wa-adallu sabiilanmaka ia di akhirat pun buta dan lebih tersesat jalannya
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar k-w-n, '-m-y, a-kh-r, d-l-l, s-b-l): a'maa diterjemahkan 'buta' (akar '-m-y); adallu sabiilan diterjemahkan 'lebih tersesat jalannya' (akar d-l-l putaran 78). gloss '(hatinya)' dibuang.

Aplikasi

Peringatan tajam: 'siapa yang buta di dunia ini, maka ia di akhirat pun buta', kebutaan spiritual/moral yang dibiarkan berlanjut di dunia cenderung berkelanjutan, bukan otomatis sembuh di kehidupan berikutnya. Konkretnya: mengatasi 'kebutaan' spiritual atau moral (menolak melihat kebenaran yang jelas) perlu ditangani sekarang, karena pola yang dibiarkan berlanjut cenderung menetap, bukan otomatis membaik dengan sendirinya.