وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Kami turunkan dari bacaan ini sesuatu yang menjadi penawar dan pemberian rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim hanya akan menambah kerugian.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَwa-nunazzilu mina l-qur'aani maa huwa syifaa'un wa-rahmatun li-l-mu'miniinaKami turunkan dari bacaan ini sesuatu yang menjadi penawar dan pemberian rahmat bagi orang-orang mukmin
- وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًاwa-laa yaziidu zh-zhaalimiina illaa khasaaransedangkan bagi orang-orang zalim hanya akan menambah kerugian
Terjemahan per kata (13 kata)
- وَنُنَزِّلُwa-nunazziludan Kami menurunkan
- مِنَminadari
- الْقُرْآنِl-qur'aaniAl-Qur'an
- مَاmaaapa yang
- هُوَhuwaia
- شِفَاءٌsyifaa'unpenyembuh
- وَرَحْمَةٌwa-rahmatundan rahmat
- لِلْمُؤْمِنِينَli-l-mu'miniinabagi orang-orang beriman
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَزِيدُyaziidumenambah
- الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim
- إِلَّاillaakecuali
- خَسَارًاkhasaarankerugian
Inti bacaan
Al-Qur'an digambarkan sebagai 'penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin', namun 'hanya menambah kerugian' bagi yang zalim, teks yang sama menghasilkan efek berlawanan tergantung kondisi hati penerimanya, menegaskan lagi pola yang sudah muncul berulang kali.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut satu benda yang sama menghasilkan dua akibat yang berlawanan, dan sebabnya bukan pada bendanya.
Yang pertama disebut “penawar” (شِفَاءٌ, syifaa'un), dipasangkan dengan pemberian rahmat. Kata itu muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (10:57, 16:69, 17:82, 41:44). Tiga di antaranya menerangkan wahyu, dan satu menerangkan madu (16:69). Kesamaannya menarik: keduanya sesuatu yang masuk ke dalam dan bekerja dari dalam, bukan sesuatu yang dikenakan dari luar.
Pasangan akibat yang berlawanan ini pun berulang. Di 41:44 wahyu yang sama disebut petunjuk dan penawar bagi yang beriman, sementara bagi yang lain justru menjadi penghalang. Dua ayat di dua surah mengatakan hal yang sama dengan susunan yang berbeda.
Yang perlu diperhatikan, ayat ini tidak menyebut wahyu itu berubah. Isinya satu. Yang membedakan hasilnya adalah keadaan orang yang menerimanya. Obat yang sama bisa menyembuhkan satu orang dan memperburuk yang lain, bukan karena obatnya dua macam, melainkan karena tubuh yang menerimanya berbeda.
Akibat yang berlawanan itu disebut dengan kata yang juga berulang. “Kerugian” (خَسَارًا, khasaaran) muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (17:82, 35:39, 71:21). Yang menarik pada pemakaiannya di sini, kerugian itu tidak disebut sebagai hukuman yang dijatuhkan, melainkan sebagai sesuatu yang bertambah. Kata kerjanya menambah, bukan menimpakan. Yang digambarkan bukan pukulan dari luar, melainkan keadaan yang sudah ada lalu bertambah dalam.
Perhatikan pula siapa yang disebut sebagai penerima manfaatnya. Bukan orang yang pandai dan bukan orang yang berilmu, melainkan “orang-orang mukmin” (لِلْمُؤْمِنِينَ, li-l-mu'miniina). Syaratnya bukan bekal pengetahuan, melainkan sikap menerima. Sebuah obat bekerja pada orang yang meminumnya, bukan pada orang yang menganalisisnya, dan pembagian yang dipakai ayat ini mengikuti garis itu.
Ada satu hal yang mudah terlewat pada kata kerja pembukanya. Bentuk yang dipakai menyatakan perbuatan yang berlangsung dan berulang, bukan sekali selesai. Jadi yang digambarkan bukan sebuah kitab yang sudah selesai diberikan lalu tinggal dibaca, melainkan sesuatu yang terus diberikan kepada pembacanya. Bacaan seperti itu cocok dengan gambaran penawar: obat bekerja lewat pemakaian yang berulang, bukan lewat kepemilikan.
Penutupnya menyebut dua golongan tanpa menyebut jumlah masing-masing. Tidak dikatakan kebanyakan begini dan sedikit begitu. Yang disebut hanya dua arah akibatnya, sehingga pembacanya tidak diberi kesempatan menghitung dirinya termasuk golongan yang mana lewat perbandingan jumlah. Yang tersisa cuma memeriksa akibat apa yang selama ini ia rasakan sendiri, dan pemeriksaan semacam itu tidak bisa diwakilkan kepada siapa pun.
Tafsiran
Ayat ini menyingkap efek ganda dari wahyu yang sama, bukan karena isinya berubah, melainkan karena respons penerimanya yang berbeda menentukan apakah ia menjadi penawar atau justru memperbesar kerugian. Pernyataan semacam itu mengalihkan seluruh perhatian dari benda kepada penerimanya.
Gambaran obat yang dipilihnya bekerja lebih jauh daripada yang tampak. Obat tidak menyembuhkan karena dimiliki, tidak pula karena dipahami susunannya. Ia bekerja karena diminum, dan bekerjanya bergantung pada keadaan tubuh yang menerimanya. Tiga hal itu berlaku persis pada apa yang sedang dibicarakan ayat ini, dan itulah sebabnya perbandingan ini tidak berhenti sebagai hiasan bahasa.
Sisi keduanya perlu dibaca dengan hati-hati agar tidak salah tangkap. Tidak dikatakan bahwa wahyu merugikan orang zalim; yang dikatakan, ia tidak menambah bagi mereka kecuali kerugian. Kata menambah menyiratkan bahwa kerugian itu sudah ada sebelumnya. Yang datang tidak menciptakan keadaan baru, melainkan memperdalam keadaan yang sudah dipilih. Sesuatu yang menuntut jawaban selalu memperbesar akibat dari sikap yang diambil terhadapnya.
Bacaan seperti ini menutup satu kenyamanan yang lazim, yaitu anggapan bahwa berdekatan dengan sesuatu yang baik dengan sendirinya membawa kebaikan. Menurut ayat ini, berdekatan justru menajamkan dua arah sekaligus. Pernyataan yang sama diulang di 41:44 dengan susunan berbeda, dan di sana yang disebut bagi pihak kedua bahkan bukan kerugian melainkan ketulian. Dua tempat, satu gagasan: yang menentukan hasilnya bukan yang datang, melainkan yang menerima.
Renungan dan Hikmah
- Wahyu yang sama menjadi penawar bagi sebagian orang dan memperbesar kerugian bagi sebagian lain, bukan karena sifat wahyu itu sendiri berubah-ubah, melainkan karena sikap penerimanya yang menentukan efeknya; ini menyingkap bahwa 'manfaat' suatu ajaran tidak bisa dinilai lepas dari kesiapan hati yang menerimanya. Yang perlu ditambahkan: ayat ini tidak berkata bahwa wahyu itu menambah kerugian bagi golongan yang kedua. Yang dikatakan adalah bahwa ia tidak menambah bagi mereka kecuali kerugian, dan bentuk itu berupa pembatasan, bukan penyebab. Kerugiannya sudah ada; yang bertambah cuma kejelasannya, sebab keterangan yang datang membuat pilihan mereka berhenti bisa disebut ketidaktahuan.
- Kata penawar yang Allah pakai di sini muncul empat kali di seluruh Al-Quran (10:57, 16:69, 17:82, 41:44), dan salah satunya menerangkan madu. Dua-duanya masuk ke dalam. Dua-duanya bekerja dari dalam, bukan dikenakan dari luar. Kata itu (شِفَاءٌ) muncul di empat ayat, yaitu 10:57, 16:69, 17:82, dan 41:44. Di 16:69 ia menerangkan madu, dan di tiga tempat lain ia menerangkan wahyu. Jadi satu kata dipakai untuk sesuatu yang diminum dan untuk sesuatu yang dibaca, dan di kedua wilayah itu yang disembuhkan bukan penyakit yang disebut namanya.
- Pasangan akibat berlawanan ini Allah ulang di tempat lain dengan susunan berbeda. Dua ayat, dua surah. Isinya satu: yang membedakan hasilnya bukan bacaannya. Pasangan akibat yang berlawanan itu juga muncul di 41:44, dan di sana susunannya lebih tegas, yaitu bahwa bagi yang tidak beriman ia menjadi kebutaan. Dua ayat memakai bahan yang sama dan menyebut dua hasil yang berlawanan, dan tak satu pun dari keduanya menyalahkan bahannya.
- Allah menyebut bacaan yang sama menjadi penawar bagi sebagian dan menambah kerugian bagi sebagian lain, dan yang berubah bukan bacaannya. Kalau hasilnya memang ditentukan keadaan yang menerima, sedang dalam keadaan apa kita setiap kali membukanya? Sebuah obat yang menyembuhkan satu orang dan memperburuk yang lain bukan obat yang cacat. Yang menentukan bedanya adalah keadaan tubuh yang menerimanya. Perbandingan itu berlaku sepenuhnya di sini, dan ia menutup satu keberatan yang sering diajukan, yaitu bahwa kitab yang benar seharusnya berakibat sama pada semua pembacanya.
- Kalimatnya berbunyi Kami turunkan dari bacaan ini, memakai kata yang menandai sebagian. Bunyinya bukan Kami turunkan bacaan ini sebagai penawar. Perbedaan itu mudah terlewat padahal ia menahan satu pembacaan yang berlebihan. Apa yang ditahan? Anggapan bahwa setiap bagian dari bacaan ini berfungsi sebagai obat untuk keadaan apa pun. Yang dinyatakan lebih hati-hati dari itu, dan kehati-hatian Allah di dalam kalimat-Nya sendiri adalah alasan yang cukup untuk tidak melampauinya.
- Kata kerja yang dipakai untuk akibat pada golongan kedua adalah kata untuk menambah, bukan kata untuk menimpakan. Yang bertambah selalu sudah ada sebelum penambahannya. Apa yang dinyatakan pilihan kata itu? Bahwa bacaan ini tidak menciptakan keadaan mereka; ia cuma membuat keadaan yang sudah berjalan menjadi lebih nyata. Allah tidak disebut menaruh sesuatu ke dalam diri mereka, melainkan disebut menurunkan satu hal yang sama kepada semua orang, dan hasil yang berbeda muncul karena yang menerimanya berbeda.