وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا
Dan apabila Kami memberi nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri, dan apabila keburukan menimpanya, ia berputus asa.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِwa-idzaa an'amnaa 'alaa l-insaani a'radha wa-na'aa bi-jaanibihidan apabila Kami memberi nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri
- وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًاwa-idzaa massahu sy-syarru kaana ya'uusandan apabila keburukan menimpanya, ia berputus asa
Terjemahan per kata (12 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- أَنْعَمْنَاan'amnaaKami memberi nikmat
- عَلَى'alaaatas
- الْإِنْسَانِl-insaanimanusia
- أَعْرَضَa'radhaberpaling
- وَنَأَىٰwa-na'aadan menjauh
- بِجَانِبِهِbi-jaanibihike samping
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- مَسَّهُmassahumenyentuhnya
- الشَّرُّsy-syarrukeburukan
- كَانَkaanaadalah
- يَئُوسًاya'uusanyang berputus asa
Inti bacaan
Pola psikologis yang jujur diakui: kenikmatan memicu 'berpaling dan menjauhkan diri', sementara keburukan memicu 'berputus asa', dua respons ekstrem yang sama-sama tidak sehat, mengundang refleksi mencari respons yang lebih seimbang di kedua kondisi. Konkretnya: melatih respons yang lebih seimbang terhadap kenikmatan (tetap terhubung dan bersyukur, bukan lupa diri) dan kesulitan (tetap berharap, bukan putus asa) adalah kematangan emosional yang perlu dipraktikkan secara sadar.
Penjelasan pilihan kata
'Berputus asa' (ya'uusan): akar berbeda dari 'berputus asa' (yaqnatu) di 15:56, meski keduanya diterjemahkan kata Indonesia yang sama karena makna serupa; di 15:56 kata itu khusus terkait rahmat Allah dan dikaitkan dengan kesesatan, sedangkan di sini menggambarkan pola perilaku umum manusia menghadapi keburukan apa pun.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan dua reaksi ekstrem yang sama-sama bermasalah: berpaling saat mendapat nikmat, dan berputus asa saat ditimpa keburukan, sebuah pola ketidakstabilan yang menjadi kecenderungan umum manusia tanpa bimbingan.
Renungan dan Hikmah
- Dua reaksi ekstrem, berpaling saat senang, putus asa saat susah; menggambarkan ketidakstabilan yang perlu diwaspadai dalam diri sendiri: kestabilan sejati bukan berarti tidak merasakan nikmat atau kesulitan, melainkan tidak membiarkan keduanya menggeser arah dan harapan secara ekstrem.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar n-'-m, a-n-s, '-r-d, n-a-y, j-n-b, m-s-s, sh-r-r, k-w-n, y-a-s): an'amnaa diterjemahkan 'memberi nikmat' (akar n-'-m); a'rada diterjemahkan 'berpaling' (akar '-r-d); na'aa bi-jaanibih diterjemahkan 'menjauhkan diri' (akar n-'-y + akar j-n-b); massahu diterjemahkan 'menimpanya' (akar m-s-s putaran MSS); ya'uus diterjemahkan 'berputus asa' (akar y-'-s). gloss '(dari Allah dengan sombong)' dibuang.