وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا
Dan sungguh Kami telah menjelaskan berulang untuk manusia dalam bacaan ini segala perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia menolak, kecuali kekufuran.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍwa-la-qad sharrafnaa li-n-naasi fii haadzaa l-qur'aani min kulli matsalindan sungguh Kami telah menjelaskan berulang untuk manusia dalam bacaan ini segala perumpamaan
- فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًاfa-abaa aktsaru n-naasi illaa kufuurantetapi kebanyakan manusia menolak, kecuali kekufuran
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- صَرَّفْنَاsharrafnaaKami menjelaskan berulang
- لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
- فِيfiidalam
- هَٰذَاhaadzaaini
- الْقُرْآنِl-qur'aaniAl-Qur'an
- مِنْmindari
- كُلِّkullisegala
- مَثَلٍmatsalinperumpamaan
- فَأَبَىٰfa-abaamaka ia menolak
- أَكْثَرُaktsarukebanyakan
- النَّاسِn-naasimanusia
- إِلَّاillaakecuali
- كُفُورًاkufuurankekufuran
Inti bacaan
Pengakuan jujur tentang respons yang beragam: penjelasan berulang dengan segala jenis perumpamaan tetap 'ditolak' oleh kebanyakan orang, realitas bahwa kejelasan penyampaian tidak menjamin penerimaan universal.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menutup satu paradoks yang sudah muncul sebelumnya di surah yang sama.
Kata kerjanya “menjelaskan berulang” (صَرَّفْنَا, sharrafnaa), yang berarti memutar sesuatu dan menghadirkannya dari sisi yang berganti-ganti. Kata itu muncul enam kali di dalam Al-Qur'an (17:41, 17:89, 18:54, 20:113, 25:50, 46:27), dan dua di antaranya berada di surah ini juga. Yang dijanjikan bukan penjelasan sekali jadi, melainkan penjelasan yang dicoba dari berbagai arah.
Cakupannya pun disebut penuh: “segala perumpamaan”, bukan sebagian. Kalau seluruh pintu masuk yang mungkin sudah dibukakan, maka kekurangan penjelasan tidak lagi bisa dijadikan alasan.
Kata yang dipakai untuk tanggapan mereka adalah “menolak” (فَأَبَىٰ, fa-abaa), kata yang sama dengan yang dipakai untuk penolakan Iblis ketika ia enggan bersujud (15:31). Yang digambarkan bukan orang yang tidak paham, melainkan orang yang paham lalu enggan. Penutupnya menyusun kalimat yang ganjil dan menusuk: mereka menolak “kecuali kekufuran”, sehingga satu-satunya hal yang mereka terima justru satu-satunya hal yang merugikan mereka.
Kata yang dipakai untuk penolakan mereka juga berulang. “Kekufuran” (كُفُورًا, kufuuran) muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (17:89, 17:99, 25:50), dan dua di antaranya berada di surah ini. Bentuk yang dipakai bukan kata benda biasa untuk kekafiran, melainkan bentuk yang menekankan sikap menolak mengakui kebaikan yang sudah diterima. Yang digambarkan bukan orang yang tidak percaya kepada sesuatu yang jauh, melainkan orang yang menolak mengakui sesuatu yang sudah sampai kepadanya.
Susunan kalimat penutupnya perlu dibaca teliti sekali lagi. Bentuknya penyangkalan yang disusul pengecualian, dan yang dikecualikan justru satu-satunya hal yang merugikan mereka. Kalau kalimat itu dibaca apa adanya, mereka digambarkan menolak segala sesuatu kecuali penolakan itu sendiri. Susunan seperti itu bukan hinaan melainkan gambaran yang teliti tentang sikap yang menutup pintunya sendiri.
Perbandingan dengan pemakaian lain kata kerja pembukanya memperluas jangkauannya. Di 25:50 kata yang sama dipakai untuk menjelaskan bahwa air pun disebarkan di antara mereka supaya mereka mengingat, dan tanggapan yang disebut sesudahnya juga penolakan. Jadi pola yang sama muncul dua kali dengan bahan yang berbeda: sekali penjelasan dalam bentuk kata, sekali dalam bentuk air yang turun. Keduanya diberi dari berbagai arah, dan keduanya ditanggapi dengan cara yang sama.
Yang perlu dicatat, kelengkapan penjelasan dan kepastian penolakan disebut di dalam satu ayat yang sama. Keduanya tidak dipisah menjadi dua pernyataan yang berdiri sendiri, sehingga tak seorang pun bisa memakai yang satu untuk membatalkan yang lain.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kembali paradoks yang sudah muncul di 17:41: penjelasan berulang dari berbagai sudut justru direspons dengan penolakan oleh kebanyakan orang, sebuah pola yang menyoroti bahwa masalahnya bukan kekurangan penjelasan. Yang membuatnya lebih tajam, pola itu disebut sesudah kelengkapan penjelasan dinyatakan, bukan sebelumnya.
Urutan seperti itu menutup pembelaan yang paling wajar. Kalau sifat manusia disebut lebih dahulu, penjelasan yang menyusul akan terbaca sebagai usaha yang sudah tahu akan gagal. Karena disebut belakangan, yang tergambar sebaliknya: penjelasannya diberikan penuh, dan barulah kenyataan tentang tanggapannya disebutkan. Yang pertama tidak dibatalkan oleh yang kedua.
Pilihan kata untuk menggambarkan penolakan itu pun tidak netral. Kata yang dipakai sama dengan kata yang dipakai untuk penolakan Iblis ketika ia enggan bersujud (15:31). Yang disamakan bukan kadar dosanya, melainkan bentuk sikapnya: keengganan yang muncul sesudah perintah dipahami sepenuhnya, bukan sebelumnya. Orang yang tidak mengerti tidak digambarkan dengan kata itu.
Kalimat penutupnya menyusun sesuatu yang hampir mustahil dibaca tanpa berhenti sejenak. Mereka disebut menolak, kecuali kekufuran. Segala sesuatu ditolak, dan satu-satunya yang tidak ditolak justru satu-satunya yang merugikan. Susunan itu bukan permainan kata. Ia gambaran tentang sikap yang sudah menutup pintunya sendiri, dan yang tersisa di dalam ruangan itu hanya keadaan yang membuatnya tertutup.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut telah menjelaskan berulang segala perumpamaan bagi manusia. Bukan sebagian. Yang disediakan seluruh cara masuk yang mungkin, dan sesudah itu barulah disebut tanggapan mereka. Kata kerjanya (صَرَّفْنَا) muncul di enam ayat, yaitu 17:41, 17:89, 18:54, 20:113, 25:50, dan 46:27, dan dua di antaranya di surah ini. Bentuknya menandai pemutaran, yaitu menyajikan hal yang sama dari berbagai sisi. Jadi yang dinyatakan bukan banyaknya isi melainkan banyaknya sudut yang sudah dipakai untuk satu isi.
- Kata yang dipakai kebanyakan manusia menolak, kata yang sama dengan penolakan Iblis di tempat lain. Bukan tidak mengerti. Yang digambarkan keengganan, dan keengganan tidak diobati dengan menambah keterangan. Kata yang dipakai untuk penolakan mereka adalah kata yang di tempat lain dipakai untuk penolakan yang disertai keengganan, bukan penolakan yang lahir dari ketidakmengertian. Perbedaannya menentukan letak persoalan. Yang tidak mengerti dibantu dengan keterangan; yang enggan tidak tertolong oleh keterangan berapa pun banyaknya.
- Allah menutup dengan menyebut mereka menolak kecuali kekufuran. Susunannya ganjil dan menusuk: yang mereka terima justru satu-satunya yang merugikan mereka. Dari semua yang ditawarkan, yang dipilih persis yang tidak ditawarkan. Bentuk pengecualian di ujung ayat ini menghasilkan kalimat yang keras: mereka menolak kecuali kekufuran. Susunannya menyatakan bahwa dari seluruh kemungkinan tanggapan, cuma satu yang tidak mereka tolak. Ironinya terletak di situ. Sikap yang mereka pertahankan justru satu satunya yang tidak pernah mereka periksa.
- Allah menyebut telah menjelaskan segala perumpamaan dari berbagai arah, dan tanggapan yang direkam memakai kata yang sama dengan penolakan Iblis. Kalau masalahnya memang bukan kurangnya penjelasan, apa yang sebenarnya sedang menahan seseorang, termasuk kita? Kalimat ini menutup satu pembelaan yang paling sering diajukan atas penolakan, yaitu bahwa keterangannya belum cukup. Sesudah disebutkan bahwa segala perumpamaan sudah diputar dari berbagai sisi, pembelaan itu tidak lagi tersedia. Yang tersisa cuma satu keterangan, dan keterangan itu bukan tentang isi melainkan tentang kehendak yang menerimanya.
- Yang disebut diputar dari berbagai sisi adalah perumpamaan, bukan dalil dan bukan perintah. Perumpamaan bekerja dengan meminjam sesuatu yang sudah dikenal untuk menerangkan yang belum dikenal, jadi ia bentuk keterangan yang paling mudah dijangkau. Mengapa justru bentuk yang paling mudah yang ditekankan di sini? Karena yang sedang dijawab adalah keberatan tentang kesulitan memahami. Sesudah bentuk termudah pun diputar dari segala sisi, keberatan itu kehilangan dasarnya. Allah memilih bentuk yang paling mudah dijangkau justru supaya tak ada yang bisa berkata bahwa penyampaiannya terlalu tinggi.
- Yang disebut menolak bukan kaum tertentu yang sedang berhadapan dengan wahyu itu, melainkan kebanyakan manusia. Perluasan itu memindahkan kalimatnya dari catatan sejarah menjadi keterangan tentang kebiasaan manusia pada umumnya. Apa akibatnya bagi pembaca yang merasa dirinya bukan bagian dari kaum yang diceritakan? Ia kehilangan jarak yang tadi melindunginya, sebab yang disebut sekarang adalah golongan yang keanggotaannya tidak ditentukan zaman maupun tempat. Allah memakai pembatas kebanyakan, bukan semua, dan pembatas itu meninggalkan celah yang cuma bisa diperiksa masing-masing pembacanya.