قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا

Katakanlah, “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Nama mana saja yang kalian seru, maka milik-Nya nama-nama yang terindah.” Dan janganlah engkau mengeraskan salatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara keduanya.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَquli d'uu llaaha awi d'uu r-rahmaanakatakanlah, serulah Allah atau serulah Ar-Rahman
  2. أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰayyan maa tad'uu fa-lahu l-asmaa'u l-husnaanama mana saja yang kalian seru, maka milik-Nya nama-nama yang terindah
  3. وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَاwa-laa tajhar bi-shalaatika wa-laa tukhaafit bihaadan janganlah engkau mengeraskan salatmu dan janganlah pula merendahkannya
  4. وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًاwa-btaghi bayna dzaalika sabiilandan carilah jalan tengah di antara keduanya

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. قُلِqulikatakanlah
  2. ادْعُواd'uuberdoalah kalian
  3. اللَّهَllaahaAllah
  4. أَوِawiatau
  5. ادْعُواd'uuberdoalah kalian
  6. الرَّحْمَٰنَr-rahmaanaAr-Rahman
  7. أَيًّاayyanyang mana pun
  8. مَاmaaapa yang
  9. تَدْعُواtad'uukalian menyeru
  10. فَلَهُfa-lahumaka baginya
  11. الْأَسْمَاءُl-asmaa'unama-nama
  12. الْحُسْنَىٰl-husnaayang terbaik
  13. وَلَاwa-laadan tidak pula
  14. تَجْهَرْtajharengkau mengeraskan
  15. بِصَلَاتِكَbi-shalaatikadengan salatmu
  16. وَلَاwa-laadan tidak pula
  17. تُخَافِتْtukhaafitengkau merendahkan
  18. بِهَاbihaadengannya
  19. وَابْتَغِwa-btaghidan carilah
  20. بَيْنَbaynadi antara
  21. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  22. سَبِيلًاsabiilanjalan

Inti bacaan

Klarifikasi penting tentang nama-nama ilahi ('Allah' atau 'Ar-Rahman', keduanya sah karena 'milik-Nya nama-nama yang terindah') dipasangkan dengan instruksi praktis: jangan mengeraskan atau merendahkan salat berlebihan, 'usahakan jalan tengah'. Konkretnya: mencari keseimbangan (bukan ekstrem) dalam praktik ibadah, tidak terlalu mencolok/pamer, tidak pula terlalu tersembunyi sampai kehilangan kekhusyukan, adalah prinsip jalan tengah yang bisa diterapkan lebih luas dalam berbagai aspek kehidupan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menjawab sebuah persoalan penyebutan nama, lalu berpindah ke persoalan suara, dan keduanya diselesaikan dengan cara yang sama.

Bagian pertamanya menyandingkan dua nama secara terbuka: serulah Allah, atau serulah Ar-Rahman. Lalu ditegaskan bahwa nama mana saja sama saja, sebab keduanya termasuk “nama-nama yang terindah” (الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, al-asmaa'u l-husnaa), sebutan yang muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (7:180, 17:110, 20:8, 59:24).

Susunan itu sendiri menerangkan sesuatu tentang Ar-Rahman. Ia disandingkan sebagai nama yang setara untuk diseru, bukan sebagai keterangan tentang sifat. Karena itulah di dalam terjemahan ini ia dibiarkan sebagai nama dan tidak dialihbahasakan. Teksnya sendiri yang memperlakukannya begitu.

Bagian keduanya berpindah ke suara dalam salat, dan jawabannya berbentuk sama: bukan ini atau itu, melainkan jalan di antara keduanya. Jangan dikeraskan, jangan pula direndahkan. Dua pertanyaan yang tampak berjauhan, yaitu nama apa yang dipakai dan sekeras apa suaranya, dijawab dengan satu sikap yang sama: yang dipersoalkan bukan bentuk luarnya.

Larangan di bagian keduanya dirumuskan dengan susunan yang tak terulang. Rangkaian “dan janganlah engkau mengeraskan salatmu” (وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ, wa-laa tajhar bi-shalaatika) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Yang dilarang dua-duanya, yaitu terlalu keras dan terlalu lirih, dan keduanya disebut dengan kata kerja yang sejajar. Tidak ada yang dipuji di antara keduanya; yang diperintahkan mencari jalan di tengahnya.

Kalau kedua bagian ayat ini dibaca bersama, keduanya menjawab jenis pertanyaan yang sama. Bagian pertama menjawab pertanyaan tentang nama mana yang harus dipakai, dan jawabannya keduanya sama saja. Bagian kedua menjawab pertanyaan tentang sekeras apa suara harus dikeluarkan, dan jawabannya di antara keduanya. Dua pertanyaan tentang bentuk luar, dan dua jawaban yang sama-sama menolak menjadikan bentuk luar itu perkara.

Sebutan “nama-nama yang terindah” yang dipakai di sini muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (7:180, 17:110, 20:8, 59:24). Di tiga tempat yang lain sebutan itu berdiri sebagai pernyataan tentang Allah. Hanya di sini ia dipakai sebagai alasan bagi sebuah kebolehan, yaitu kebolehan menyeru dengan nama mana saja. Sebuah pernyataan yang di tempat lain bersifat memuji, di sini bekerja sebagai jawaban praktis atas pertanyaan orang yang bingung harus memakai nama yang mana.

Dua bagian ayat ini disatukan oleh satu kata kerja perintah yang sama-sama melapangkan. Yang pertama membolehkan pilihan, yang kedua menolak dua ujung sekaligus. Keduanya meninggalkan ruang bagi orang yang menjalankannya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan fleksibilitas dalam menyeru Allah dengan nama mana pun dari nama-nama-Nya yang terindah, lalu beralih ke instruksi praktis tentang volume salat: tidak terlalu keras, tidak terlalu lirih, melainkan jalan tengah yang seimbang. Dua bagian yang tampak tak berhubungan itu ternyata menjawab jenis pertanyaan yang sama.

Keduanya pertanyaan tentang bentuk luar. Nama mana yang harus dipakai, dan sekeras apa suara harus dikeluarkan. Dan keduanya dijawab dengan cara yang sama, yaitu dengan menolak menjadikan bentuk luar itu perkara. Pada yang pertama jawabannya keduanya sama saja; pada yang kedua jawabannya di antara keduanya. Tidak ada satu pun bentuk yang diberi keutamaan.

Susunan seperti ini menyingkap sesuatu tentang jenis pertanyaan yang sering muncul di sekitar ibadah. Pertanyaan tentang bentuk luar mudah diajukan, mudah dijawab dengan tegas, dan mudah dijadikan tanda pembeda antargolongan. Justru di situlah ayat ini menolak memberi ketegasan yang diharapkan. Jawaban yang diberikan meninggalkan ruang, dan ruang itu tampaknya memang disengaja.

Ada satu hal lagi pada bagian pertamanya yang menerangkan seluruh ayat. Sebutan nama-nama yang terindah di tiga tempat lain (7:180, 20:8, 59:24) berdiri sebagai pernyataan yang memuji. Hanya di sini ia dipakai sebagai alasan bagi sebuah kebolehan. Sesuatu yang biasanya berfungsi mengagungkan, di sini berfungsi melapangkan, dan perpindahan fungsi itu sejalan dengan seluruh nada ayatnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini secara eksplisit menyandingkan 'Allah' dan 'Ar-Rahman' sebagai dua nama setara yang bisa diseru bergantian, keduanya termasuk 'nama-nama yang terindah', sebuah dasar tekstual langsung bahwa Ar-Rahman berfungsi sebagai nama diri, bukan sekadar kata sifat yang bisa diterjemahkan bebas menjadi frasa deskriptif. Yang perlu ditambahkan: penyandingan dua nama itu bukan pernyataan bahwa keduanya sama artinya. Yang dinyatakan adalah bahwa keduanya sama-sama sah dipakai menyeru. Perbedaan makna tetap ada, dan justru karena itu kalimat penutupnya menyebut bahwa nama-nama terindah itu milik-Nya, jamak, bukan tunggal.
  • Allah menyandingkan dua nama secara terbuka lalu menyebut nama mana saja sama saja. Keduanya termasuk nama-nama yang terindah. Yang dipersoalkan bukan pilihan namanya. Rangkaian penutupnya (الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ) muncul di empat ayat, yaitu 7:180, 17:110, 20:8, dan 59:24. Yang khas di sini adalah letaknya: ia dipasang sebagai jawaban atas perselisihan tentang nama mana yang boleh dipakai menyeru. Di tiga tempat lain ia berdiri sebagai keterangan; di sini ia berdiri sebagai penyelesaian perkara.
  • Untuk suara dalam salat, Allah tidak memilih salah satu ujung. Jangan dikeraskan, jangan direndahkan. Yang diperintahkan justru mencari jalan di antara keduanya. Untuk soal suara dalam salat, ayat ini tidak memilih salah satu ujung dan tidak menetapkan ukuran yang bisa diangkakan. Yang diperintahkan adalah mencari jalan di antara keduanya, dan ukuran seperti itu menuntut penilaian pada tiap keadaan. Apa yang tidak bisa dikerjakan aturan berangka? Ia tidak bisa menyesuaikan diri dengan ruang yang berbeda dan dengan orang di sekitarnya yang berbeda pula.
  • Allah menjawab soal nama dengan menyebut keduanya sama-sama terindah, dan soal suara dengan menyuruh mencari jalan tengah. Kalau kedua-duanya diselesaikan dengan mengalihkan perhatian dari bentuk luarnya, seberapa banyak perdebatan kita sebenarnya berhenti di bentuk luar? Ayat ini menjawab dua perkara yang sama sekali berbeda dalam satu napas, yaitu nama yang dipakai menyeru dan suara yang dipakai dalam salat. Yang menyatukannya bukan pokoknya melainkan bentuk jawabannya. Keduanya dijawab dengan menolak pilihan antara dua ujung, dan keduanya diserahkan pada penilaian yang menjalankannya.
  • Cara ayat ini menyelesaikan perselisihan patut diperhatikan. Ketika dua pihak berselisih tentang nama mana yang benar, jawaban yang paling diharapkan adalah penunjukan salah satunya. Yang diberikan justru sebaliknya: keduanya dibolehkan, lalu ditambahkan bahwa masih ada nama-nama lain yang seluruhnya terindah. Apa yang dikerjakan jawaban seperti itu? Ia mencabut dasar perselisihannya, sebab yang diperselisihkan ternyata cuma dua dari sekian banyak, dan tak seorang pun bisa mengaku memegang daftar yang lengkap.
  • Perpindahan dari soal nama ke soal suara dalam salat terjadi tanpa pengantar apa pun. Dua hal itu tampak tidak berhubungan sampai diperhatikan bahwa keduanya menyangkut cara menyeru. Nama menyangkut apa yang diucapkan, suara menyangkut bagaimana ia diucapkan. Allah menaruh keduanya dalam satu ayat, dan penggabungan itu menyatakan bahwa kekeliruan bisa terjadi pada kedua sisi: memilih nama yang keliru, dan memakai suara yang keliru, dan yang kedua sama sekali tidak kurang pentingnya dari yang pertama.