وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًا ۖ لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا
Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri, lalu berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami tidak akan menyeru selain Dia suatu tuhan; sungguh jika demikian, kami telah mengucapkan kebatilan yang keterlaluan.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُواwa-rabathnaa 'alaa quluubihim idz qaamuudan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri
- فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِfa-qaaluu rabbunaa rabbu s-samaawaati wa-l-ardhilalu mereka berkata, Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi
- لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَٰهًاlan nad'uwa min duunihi ilaahankami tidak akan menyeru selain Dia suatu tuhan
- لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًاla-qad qulnaa idzan syathathansungguh jika demikian, kami telah mengucapkan kebatilan yang keterlaluan
Terjemahan per kata (19 kata)
- وَرَبَطْنَاwa-rabathnaadan Kami meneguhkan
- عَلَىٰ'alaaatas
- قُلُوبِهِمْquluubihimhati mereka
- إِذْidzketika
- قَامُواqaamuumereka berdiri
- فَقَالُواfa-qaaluulalu mereka berkata
- رَبُّنَاrabbunaaTuhan kami
- رَبُّrabbuTuhan
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
- لَنْlantidak akan
- نَدْعُوَnad'uwakami menyeru
- مِنْmindari
- دُونِهِduunihiselain-Nya
- إِلَٰهًاilaahantuhan
- لَقَدْla-qadsungguh
- قُلْنَاqulnaaKami berkata
- إِذًاidzanjika demikian
- شَطَطًاsyathathanyang jauh dari kebenaran
Inti bacaan
Keteguhan hati mereka digambarkan sebagai anugerah yang diberikan ('Kami teguhkan hati mereka') saat mereka menyatakan penolakan tegas terhadap penyembahan berhala, dukungan batin diberikan tepat saat dibutuhkan untuk mengambil sikap yang berani dan berisiko secara sosial.
Penjelasan pilihan kata
'Meneguhkan hati' (rabatnaa alaa quluubihim): menegaskan bahwa keteguhan sikap mereka bukan semata usaha sendiri, melainkan diteguhkan langsung oleh Allah, pola yang sama dengan peneguhan penerima wahyu di 17:74. 'Kebatilan yang keterlaluan' (shatat): kata yang menandai penyimpangan jauh dari kebenaran.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan momen krusial keteguhan para pemuda: berdiri secara terbuka menyatakan keesaan Allah di hadapan kaum mereka yang menyembah banyak tuhan, sebuah keberanian yang dijelaskan berasal dari peneguhan ilahi.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut Dia yang meneguhkan hati mereka. Keberanian itu tidak dinisbatkan kepada watak mereka sendiri. Orang yang tahu keteguhannya pinjaman tidak akan meremehkan orang lain yang belum mendapatkannya.
- Peneguhan itu disebut terjadi ketika mereka berdiri, bukan sebelumnya. Datang pada saat diperlukan. Yang menunggu merasa berani lebih dahulu sebelum melangkah biasanya tidak pernah sampai pada langkahnya.
- Kalimat mereka ditutup dengan menyebut bahwa jika demikian, mereka telah mengucapkan kebatilan yang keterlaluan. Mereka menimbang ucapannya sendiri di hadapan Allah sebelum orang lain menimbangnya. Pendirian yang sudah diperiksa sendiri jarang goyah oleh pemeriksaan orang lain.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar r-b-t, q-l-b, q-w-m, q-w-l, r-b-b, s-m-w, a-r-d, d-'-w, d-w-n, a-l-h, sh-t-t): rabatnaa alaa quluubihim diterjemahkan 'meneguhkan hati mereka' (akar r-b-t + akar q-l-b); lan nad'uwa min duunihi ilaahan diterjemahkan 'kami tidak akan menyeru selain Dia suatu tuhan' (akar d-'-w + ilaah dijaga harfiah); shatat diterjemahkan 'kebatilan yang keterlaluan (jauh dari kebenaran)' (akar sh-t-t). footnote-marker dibuang.