هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً ۖ لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ ۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

Mereka itu kaum kami yang mengambil tuhan-tuhan selain Dia; mengapa mereka tidak mendatangkan atas tuhan-tuhan itu keterangan yang nyata? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah?

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. هَٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةًhaa'ulaa'i qawmunaa ttakhadzuu min duunihi aalihatanmereka itu kaum kami yang mengambil tuhan-tuhan selain Dia
  2. لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍlawlaa ya'tuuna 'alayhim bi-sulthaanin bayyininmengapa mereka tidak mendatangkan atas tuhan-tuhan itu keterangan yang nyata
  3. فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًاfa-man azhlamu mimmani ftaraa 'alaa llaahi kadzibanmaka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. هَٰؤُلَاءِhaa'ulaa'imereka ini
  2. قَوْمُنَاqawmunaakaum kami
  3. اتَّخَذُواttakhadzuumereka mengambil
  4. مِنْmindari
  5. دُونِهِduunihiselain-Nya
  6. آلِهَةًaalihatantuhan-tuhan
  7. لَوْلَاlawlaamengapa tidak
  8. يَأْتُونَya'tuunamereka datang
  9. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  10. بِسُلْطَانٍbi-sulthaanindengan keterangan
  11. بَيِّنٍbayyininyang nyata
  12. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  13. أَظْلَمُazhlamulebih zalim
  14. مِمَّنِmimmanidaripada siapa
  15. افْتَرَىٰftaraamengada-ada
  16. عَلَى'alaaatas
  17. اللَّهِllaahiAllah
  18. كَذِبًاkadzibankebohongan

Inti bacaan

Para pemuda menantang kaumnya dengan pertanyaan logis: 'mengapa mereka tidak mendatangkan sultaan (bukti otoritas) yang nyata?', tuntutan bukti yang wajar diajukan terhadap klaim penyembahan berhala, standar rasionalitas yang sama diterapkan konsisten pada semua klaim.

Penjelasan pilihan kata

'Keterangan' (sultaan), akar dan facet yang sama dengan susunan negasi/tuntutan bukti di 14:10/14:11/14:22/15:42/16:99/16:100/17:65, konsisten dipertahankan: bukti/pembenar yang tidak pernah bisa didatangkan untuk membenarkan penyembahan tuhan-tuhan palsu.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan argumen para pemuda kepada diri mereka sendiri: tuhan-tuhan yang disembah kaum mereka tidak pernah disertai bukti yang bisa dipertanggungjawabkan, sebuah kesimpulan yang membuat penyembahan itu setara dengan kedustaan terhadap Allah.

Renungan dan Hikmah

  • Kalimat mereka dibuka dengan kaum kami, bukan mereka itu orang lain. Pertaliannya tidak diputus. Allah merekam bahwa penolakan atas jalan yang ditempuh sebuah kaum bisa berjalan tanpa melepaskan diri dari kaum itu.
  • Yang mereka tuntut bukan pengakuan, melainkan keterangan yang nyata atas tuhan-tuhan itu. Perkaranya dasar. Tuntutan yang meminta bukti, bukan meminta perubahan sikap, jauh lebih sulit dijawab dengan kemarahan.
  • Kalimatnya ditutup dengan pertanyaan siapa yang lebih zalim daripada yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah. Ukurannya dipasang paling tinggi. Yang tadinya perbedaan pendapat dinaikkan menjadi perkara keadilan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-m, a-kh-dz, d-w-n, a-l-h, a-t-y, s-l-t, b-y-n, zh-l-m, f-r-y, k-dz-b): aalihah diterjemahkan 'tuhan-tuhan' (jamak ilaah); lawlaa ya'tuuna…bi-sultaan bayyin diterjemahkan 'mengapa mereka tidak mendatangkan sultaan (hujah/bukti) yang nyata', akar s-l-t (putaran 82; menuntut BUKTI bagi tuhan palsu, gema haatuu burhaanakum); iftaraa alaa llaah kadhiban diterjemahkan 'mengada-adakan kedustaan terhadap Allah' (akar f-r-y). gloss '(Salah seorang…)/(untuk disembah)/(tentang kepercayaan mereka)' dibuang.