وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا

Dan ia memasuki kebunnya sedang ia menzalimi dirinya sendiri; ia berkata, “Aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِwa-dakhala jannatahu wa-huwa zhaalimun li-nafsihidan ia memasuki kebunnya sedang ia menzalimi dirinya sendiri
  2. قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًاqaala maa azhunnu an tabiida haadzihi abadania berkata, aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. وَدَخَلَwa-dakhaladan masuk
  2. جَنَّتَهُjannatahukebunnya
  3. وَهُوَwa-huwasedang ia
  4. ظَالِمٌzhaalimunyang zalim
  5. لِنَفْسِهِli-nafsihiuntuk dirinya
  6. قَالَqaalaberkata
  7. مَاmaatidaklah
  8. أَظُنُّazhunnuaku mengira
  9. أَنْanbahwa
  10. تَبِيدَtabiidabinasa
  11. هَٰذِهِhaadzihiini
  12. أَبَدًاabadanselamanya

Inti bacaan

Klaim berlebihan yang keliru: 'aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya', proyeksi permanensi terhadap sesuatu yang inherently sementara, sebuah kesalahan berpikir yang klasik dan berulang.

Penjelasan pilihan kata

'Menzalimi dirinya sendiri' (zhaalimun li-nafsihi): di sini akar yang sama dengan 18:33 kembali ke facet moral utamanya (subjek manusia dengan kehendak), berbeda dari facet 'mengurangi' yang khusus berlaku untuk kebun di ayat sebelumnya, kontras yang menegaskan pembedaan facet berdasarkan jenis subjek.

Tafsiran

Ayat ini menandai titik balik: kesombongan yang baru diucapkan (18:34) kini diberi label tegas sebagai kezaliman terhadap diri sendiri, sebuah penilaian yang mendahului pernyataan angkuhnya tentang keabadian kebun itu.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyisipkan keterangan bahwa ia menzalimi dirinya sendiri, di tengah kalimat tentang ia memasuki kebunnya. Penilaian diletakkan sebelum ucapannya. Pembacanya sudah tahu duduk perkaranya sebelum mendengar kalimatnya.
  • Allah merekam ucapannya: aku tidak mengira kebun ini akan binasa selama-lamanya. Perkiraan disamakan dengan kepastian. Yang belum pernah hilang mudah dikira takkan pernah hilang.
  • Allah merekam seluruh kalimatnya tanpa satu pun sebutan tentang siapa yang menumbuhkan kebun itu. Yang hilang bukan rasa syukur yang diucapkan salah, melainkan yang tak terpikirkan sama sekali.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar d-kh-l, j-n-n, zh-l-m, n-f-s, q-w-l, zh-n-n, b-y-d, a-b-d): zhaalim li-nafsih diterjemahkan 'menzalimi dirinya' (akar zh-l-m); azhunnu diterjemahkan 'mengira' (akar zh-n-n); tabiida diterjemahkan 'binasa' (akar b-y-d). gloss '(karena angkuh dan kufur)' dibuang.