وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا

Dan buahnya dibinasakan, lalu ia membolak-balikkan kedua telapak tangannya atas apa yang telah ia belanjakan untuknya, sedang kebun itu roboh di atas penyangganya; dan ia berkata, “Aduhai, seandainya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan seorang pun.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِwa-uhiitha bi-tsamarihidan buahnya dibinasakan
  2. فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنْفَقَ فِيهَاfa-ashbaha yuqallibu kaffayhi 'alaa maa anfaqa fiihaalalu ia membolak-balikkan kedua telapak tangannya atas apa yang telah ia belanjakan untuknya
  3. وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَاwa-hiya khaawiyatun 'alaa 'uruusyihaasedang kebun itu roboh di atas penyangganya
  4. وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًاwa-yaquulu yaa laytanii lam usyrik bi-rabbii ahadandan ia berkata, aduhai seandainya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan seorang pun

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. وَأُحِيطَwa-uhiithadan diliputi
  2. بِثَمَرِهِbi-tsamarihidengan buahnya
  3. فَأَصْبَحَfa-ashbahamaka jadilah
  4. يُقَلِّبُyuqallibumembolak-balikkan
  5. كَفَّيْهِkaffayhikedua telapak tangannya
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. مَاmaaapa yang
  8. أَنْفَقَanfaqamenginfakkan
  9. فِيهَاfiihaapadanya
  10. وَهِيَwa-hiyadan ia
  11. خَاوِيَةٌkhaawiyatunyang runtuh
  12. عَلَىٰ'alaaatas
  13. عُرُوشِهَا'uruusyihaaatapnya
  14. وَيَقُولُwa-yaquuludan ia berkata
  15. يَاyaawahai
  16. لَيْتَنِيlaytaniiaduhai sekiranya aku
  17. لَمْlamtidak
  18. أُشْرِكْusyrikaku mempersekutukan
  19. بِرَبِّيbi-rabbiikepada Tuhanku
  20. أَحَدًاahadanseorang pun

Inti bacaan

Momen kehancuran yang dramatis diikuti penyesalan tulus: 'Aduhai, seandainya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan seorang pun', kehilangan material memicu kejernihan spiritual yang seharusnya sudah dimiliki sejak awal, sebuah pengingat agar kesadaran itu tidak menunggu sampai kehilangan terjadi. Konkretnya: menumbuhkan kesadaran spiritual dan kerendahan hati sebelum kehilangan besar terjadi (bukan menunggu sampai kehancuran memaksa refleksi) adalah kebijaksanaan yang lebih baik daripada penyesalan yang terlambat.

Penjelasan pilihan kata

'Membolak-balikkan kedua telapak tangannya': gestur fisik yang menandai penyesalan mendalam, sebuah gambaran konkret dari kehancuran total yang baru diperingatkan di ayat-ayat sebelumnya, kini benar-benar terjadi.

Tafsiran

Peringatan kawan yang beriman (18:40-41) terbukti benar: kebun yang dibanggakan hancur total, memicu penyesalan mendalam yang justru diungkapkan dalam kerangka pengakuan tauhid, sebuah pembalikan penuh dari kesombongan awal.

Renungan dan Hikmah

  • Kalimat penyesalannya tidak menyebut kebun sama sekali, melainkan Allah: 'seandainya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku'. Yang hilang hartanya, yang disesali kesyirikannya. Kehilangan kadang membuka penglihatan pada perkara yang sama sekali berbeda dari yang hilang.
  • Allah mencatat gerakan tangannya yang dibolak-balik. Sebuah gerak kecil tanpa suara, yang dilakukan orang ketika tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Bahwa hal sekecil itu masuk ke dalam wahyu menunjukkan seberapa dekat penderitaan manusia diperhatikan.
  • Kawannya sudah memperingatkan persis hal ini beberapa ayat sebelumnya, dan peringatan itu terbukti benar. Tetapi kebenarannya baru diakui sesudah tak ada gunanya lagi. Peringatan yang tepat pun cuma berguna selama masih ada yang bisa diubah, dan itu bagian yang paling sering diabaikan oleh yang mendengarnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar h-w-t, ts-m-r, s-b-h, q-l-b, k-f-f, n-f-q, kh-w-y, '-r-sh, q-w-l, sh-r-k, r-b-b, a-h-d): uhiita bi-thamarih diterjemahkan 'buahnya dibinasakan (dikepung)' (akar h-w-t + akar ts-m-r); yuqallibu kaffayh diterjemahkan 'membolak-balikkan telapak tangannya' (akar q-l-b); anfaqa diterjemahkan 'membelanjakan' (akar n-f-q NFQ); khaawiyah diterjemahkan 'roboh (kosong)' (akar kh-w-y); lam ushrik diterjemahkan 'tidak mempersekutukan' (akar sh-r-k). gloss '(tanda sangat menyesal)' dibuang.