وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Dan sungguh Kami telah menjelaskan berulang untuk manusia dalam bacaan ini segala perumpamaan, tetapi manusia adalah yang paling banyak membantah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍwa-la-qad sharrafnaa fii haadzaa l-qur'aani li-n-naasi min kulli matsalindan sungguh Kami telah menjelaskan berulang untuk manusia dalam bacaan ini segala perumpamaan
  2. وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًاwa-kaana l-insaanu aktsara syay'in jadalantetapi manusia adalah yang paling banyak membantah

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. صَرَّفْنَاsharrafnaaKami menjelaskan berulang
  3. فِيfiidalam
  4. هَٰذَاhaadzaaini
  5. الْقُرْآنِl-qur'aaniAl-Qur'an
  6. لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
  7. مِنْmindari
  8. كُلِّkullisegala
  9. مَثَلٍmatsalinperumpamaan
  10. وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
  11. الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
  12. أَكْثَرَaktsarakebanyakan
  13. شَيْءٍsyay'insesuatu
  14. جَدَلًاjadalanperbantahan

Inti bacaan

Pengakuan jujur tentang sifat manusia: meski perumpamaan sudah dijelaskan berulang dengan berbagai cara, 'manusia adalah yang paling banyak membantah', kecenderungan berargumen bahkan terhadap kebenaran yang sudah dijelaskan jelas, sebuah pola yang perlu disadari dalam diri sendiri.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menempatkan dua kenyataan berdampingan, dan justru jaraknya yang berbicara.

Kenyataan pertama: segala perumpamaan sudah dijelaskan berulang. Kata kerjanya “menjelaskan berulang” (صَرَّفْنَا, sharrafnaa), yang berarti memutar sesuatu dan menghadirkannya dari sisi yang berganti-ganti. Kata itu muncul enam kali di dalam Al-Qur'an (17:41, 17:89, 18:54, 20:113, 25:50, 46:27). Bukan sekali dengan satu cara, melainkan berkali-kali dari berbagai arah.

Kenyataan kedua: manusia adalah yang paling banyak “membantah” (جَدَلًا, jadalan). Kata itu muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (18:54, 43:58). Sifat itu dinyatakan tanpa dibungkus. Yang menghadapi penjelasan selengkap apa pun tetap sanggup mencari celah untuk berdebat, dan kesanggupan itu disebut sebagai ciri yang paling menonjol pada manusia.

Yang perlu diperhatikan adalah urutannya. Sifat itu disebut sesudah penjelasan, bukan sebelumnya. Artinya sifat itu sudah diketahui, dan penjelasannya tetap diulang juga. Mengetahui bahwa yang diajak bicara akan membantah ternyata bukan alasan untuk berhenti menjelaskan.

Sifat yang disebut di penutup ayat memakai kata yang tidak sering muncul. Bentuk “membantah” (جَدَلًا, jadalan) muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (18:54, 43:58). Kata itu menunjuk perdebatan yang dijalani untuk memenangkannya, bukan untuk mencari kebenarannya. Yang disebut sebagai ciri paling menonjol pada manusia karena itu bukan ketidaktahuan dan bukan kelemahan, melainkan kesenangan berdebat.

Ukuran yang dipakai untuk menyebutnya pun bentuk perbandingan yang paling kuat, yaitu paling banyak di antara segala sesuatu. Sebuah penilaian seluas itu jarang diberikan kepada manusia di dalam kitab ini. Letaknya tepat sesudah pernyataan tentang kelengkapan penjelasan membuat keduanya terbaca sebagai satu keterangan yang utuh, bukan dua pernyataan terpisah.

Urutan keduanya menentukan cara baca. Kalau sifat itu disebut lebih dahulu, penjelasan yang menyusul akan terbaca sebagai usaha yang sudah tahu akan gagal. Karena disebut belakangan, yang tergambar sebaliknya: penjelasannya diberikan penuh, dan barulah kenyataan tentang tanggapannya disebut. Kelengkapan yang pertama tidak dibatalkan oleh kenyataan yang kedua.

Kata kerja pembukanya muncul enam kali di dalam Al-Qur'an (17:41, 17:89, 18:54, 20:113, 25:50, 46:27), dan di beberapa tempat itu pola yang sama berulang: penjelasan dari berbagai arah, lalu penolakan. Pengulangan pola di enam tempat membuatnya terbaca sebagai keterangan tentang keadaan yang tetap, bukan tentang satu kaum di satu zaman.

Tafsiran

Ayat ini menyimpulkan pola paradoks yang sudah dibahas berulang: penjelasan yang berlimpah dari berbagai sudut justru direspons dengan bantahan, sebuah sifat manusia yang ditegaskan sebagai kecenderungan dominan. Yang perlu dibaca pelan adalah urutan kedua pernyataannya.

Kelengkapan penjelasan disebut lebih dahulu, sifat manusia menyusul. Kalau urutannya dibalik, seluruh ayat akan terbaca sebagai keputusasaan. Karena tidak dibalik, yang tergambar sebaliknya: penjelasan diberikan penuh, dan barulah kenyataan tentang tanggapannya disebutkan. Yang pertama tidak dibatalkan oleh yang kedua, dan itu berlaku juga bagi siapa pun yang mengambil alih pekerjaan menjelaskan.

Kata yang dipakai untuk sifat itu menunjuk perdebatan yang dijalani untuk menang, bukan untuk mencari. Perbedaan itu penting agar ayat ini tidak dibaca sebagai larangan bertanya. Yang disebut bukan keingintahuan dan bukan keberatan yang jujur; yang disebut kesenangan berdebat, yaitu keadaan ketika seseorang sudah tidak lagi sedang mencari jawaban.

Ukurannya pun bentuk perbandingan yang paling kuat, yaitu paling banyak di antara segala sesuatu. Penilaian seluas itu jarang diberikan, dan ia diberikan kepada manusia, bukan kepada satu kaum. Pembacanya karena itu tidak punya tempat untuk berdiri sebagai penonton. Yang sedang dibicarakan termasuk dirinya, dan cara termudah untuk membuktikan ayat ini benar adalah dengan membantahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut telah menjelaskan berulang segala perumpamaan dalam bacaan ini. Bukan sekali dengan satu cara. Pengulangan itu sendiri bagian dari cara-Nya mengajar. Kata kerjanya (صَرَّفْنَا) muncul di enam ayat, yaitu 17:41, 17:89, 18:54, 20:113, 25:50, dan 46:27. Bentuknya menandai pemutaran, yaitu menyajikan hal yang sama dari berbagai sisi. Yang dinyatakan karena itu bukan banyaknya bahan melainkan banyaknya sudut pandang yang sudah dipakai untuk bahan yang sama.
  • Yang Allah sebut sesudahnya: manusia paling banyak membantah. Sifat itu dinyatakan tanpa dibungkus. Yang menghadapi penjelasan berulang ternyata makhluk yang memang cenderung menyanggah. Kata untuk membantah itu (جَدَلًا) muncul di dua ayat, di sini dan di 43:58, dan di sana ia dipakai untuk kaum yang mengajukan perbandingan sekadar untuk berdebat. Jadi yang dinamai bukan bertanya dan bukan memeriksa, melainkan berdebat demi berdebatnya sendiri.
  • Meski sifat itu Dia ketahui, penjelasannya tetap diulang. Yang satu tidak membatalkan yang lain. Mengetahui bahwa yang diajak bicara suka membantah tidak dijadikan-Nya alasan untuk berhenti bicara. Susunan ayat ini menaruh sifat suka membantah sesudah keterangan tentang penjelasan yang sudah diputar. Urutannya berarti penjelasan itu diberikan bukan karena sifat tersebut belum diketahui. Ia diberikan meski sifat itu sudah diketahui, dan pengulangan yang tetap dikerjakan meski hasilnya sudah diperkirakan menyatakan sesuatu tentang siapa yang mengerjakannya.
  • Allah menyebut sifat suka membantah itu sesudah menyebut penjelasan yang sudah diulang dari berbagai arah, jadi sifat itu sudah diketahui dan penjelasannya tetap diberikan. Kalau begitu cara-Nya, seberapa cepat kita menyerah pada orang yang kita tahu akan membantah? Ada satu pelajaran praktis yang bisa diambil pihak yang menyampaikan apa pun kepada orang lain. Mengetahui bahwa yang mendengar cenderung membantah bukan alasan berhenti menjelaskan. Yang berubah cuma harapannya, bukan pekerjaannya, dan perbedaan antara keduanya menentukan apakah seseorang sanggup bertahan lama.
  • Ayat ini dibuka dengan kalimat yang hampir sama persis dengan 17:89, yaitu bahwa segala perumpamaan sudah dijelaskan berulang bagi manusia di dalam bacaan ini. Yang berbeda cuma penutupnya: di sana kebanyakan manusia menolak kecuali kekufuran, di sini manusia disebut yang paling banyak membantah. Apa bedanya menolak dan membantah? Yang menolak berhenti berhubungan; yang membantah tetap berhubungan tapi dengan cara yang tidak menghasilkan apa-apa. Yang kedua terlihat lebih baik dan sering bertahan jauh lebih lama.
  • Yang disebut paling banyak membantah bukan kaum tertentu melainkan manusia. Penyebutan itu memindahkan kalimatnya dari catatan tentang orang lain menjadi keterangan tentang jenis. Pembaca kehilangan jarak yang biasanya melindunginya ketika membaca kecaman. Allah tidak memberi nama golongan yang bisa ditunjuk, dan ketiadaan nama itu membuat pertanyaannya berbalik kepada siapa pun yang sedang membaca kalimat ini.