قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ ۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Ia berkata, “Tahukah engkau, ketika kita berlindung di batu itu, sesungguhnya aku lupa ikan itu, dan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya kecuali setan; dan ia mengambil jalannya ke laut dengan cara yang mengherankan.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِqaala a-ra'ayta idz awaynaa ilaa sh-shakhratiia berkata, tahukah engkau ketika kita berlindung di batu itu
  2. فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَfa-innii nasiitu l-huutasesungguhnya aku lupa ikan itu
  3. وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُwa-maa ansaaniihu illaa sy-syaythaanu an adzkurahudan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya kecuali setan
  4. وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًاwa-ttakhadza sabiilahu fii l-bahri 'ajabandan ia mengambil jalannya ke laut dengan cara yang mengherankan

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. أَرَأَيْتَa-ra'aytabagaimana pendapatmu
  3. إِذْidzketika
  4. أَوَيْنَاawaynaakami berlindung
  5. إِلَىilaakepada
  6. الصَّخْرَةِsh-shakhratibatu
  7. فَإِنِّيfa-inniimaka sesungguhnya aku
  8. نَسِيتُnasiituaku lupa
  9. الْحُوتَl-huutaikan
  10. وَمَاwa-maadan tidaklah
  11. أَنْسَانِيهُansaaniihumembuatku lupa
  12. إِلَّاillaakecuali
  13. الشَّيْطَانُsy-syaythaanusetan
  14. أَنْanuntuk
  15. أَذْكُرَهُadzkurahuaku mengingatnya
  16. وَاتَّخَذَwa-ttakhadzadan Dia mengambil
  17. سَبِيلَهُsabiilahujalannya
  18. فِيfiike
  19. الْبَحْرِl-bahrilaut
  20. عَجَبًا'ajabanyang mengherankan

Inti bacaan

Kelupaan yang disadari terlambat memicu penemuan penting: 'tidak ada yang membuatku lupa. kecuali setan', momen kelalaian kecil justru menjadi kunci pembuka menuju pertemuan yang dicari, menunjukkan bahwa jalan menuju pembelajaran tidak selalu linear atau sesuai rencana awal.

Penjelasan pilihan kata

'Mengherankan' (ajaban): akar yang sama persis dengan 'keajaiban' (ajaban) di 18:9 tentang penghuni gua, kini diterapkan pada peristiwa ikan yang menghilang secara aneh, dua kejadian luar biasa dalam surah ini yang sama-sama ditandai kata ini sebagai penanda sesuatu yang melampaui kebiasaan.

Tafsiran

Pengakuan ini mengungkap bahwa hilangnya ikan itu bukan sekadar kelalaian biasa, melainkan peristiwa aneh yang menjadi tanda penting: sebuah petunjuk bahwa tempat itulah yang sebenarnya mereka cari.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam pengakuannya bahwa ia lupa. Bukan menyembunyikannya. Yang mengaku lupa pada hal sepenting itu sedang melakukan sesuatu yang lebih sulit daripada mengingat.
  • Ia menyebut tidak ada yang membuatnya lupa kecuali setan. Sebabnya disebutkan. Menyebut sebab bukan berarti melepaskan tanggung jawab; kalimatnya tetap dibuka dengan aku lupa.
  • Allah menyusun kisahnya begitu: satu kelupaan kecil menjadi penanda tempat yang mereka cari. Yang tampak sebagai kegagalan justru penunjuk arah. Ada kekeliruan yang baru terbaca sebagai jalan sesudah orang berbalik dan menengoknya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, r-a-y, a-w-y, s-kh-r, n-s-y, h-w-t, sh-t-n, dz-k-r, a-kh-dz, s-b-l, b-h-r, '-j-b): awaynaa diterjemahkan 'kita berlindung' (akar '-w-y); nasiitu/ansaanii diterjemahkan 'aku lupa/membuatku lupa' (akar n-s-y NSY, setan yang membuat lupa); adhkurah diterjemahkan 'mengingatnya' (akar dz-k-r); ajab diterjemahkan 'aneh (mengherankan)' (akar '-j-b). gloss '(pembantunya)/(bercerita tentang)' dibuang.