قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku dari apa yang telah diajarkan kepadamu, petunjuk yang benar?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَqaala lahu muusaa hal attabi'ukaMusa berkata kepadanya, bolehkah aku mengikutimu
- عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًاalaa an tu'allimani mimmaa ullimta rushdanagar engkau mengajarkan kepadaku dari apa yang telah diajarkan kepadamu, petunjuk yang benar
Catatan pilihan kata (ringkas)
C3 passthrough: kata-kata akar -l-m di ayat ini (mengetahui/ilmu/mengajarkan/lebih-mengetahui) mengikuti profil terjemahan lain yang sudah selaras; orang-kedua ayat ini murni 2MS/2FS, '-mu/engkau' terjemahan lain SAH; lem catatan kaki dibuang bila ada. Konvensi lm: C1 aliim diterjemahkan 'berilmu', C2 aalamiin diterjemahkan 'seisi alam', C3 verba/nomina = passthrough terjemahan lain (selaras). Lih..
Aplikasi
Permintaan sopan Musa: 'Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku?', bahkan seorang nabi besar merendahkan diri meminta izin belajar dari orang lain, menunjukkan bahwa kerendahan hati dalam mencari ilmu tidak mengenal status. Konkretnya: kesediaan meminta izin dan merendahkan diri untuk belajar dari orang lain (terlepas dari status atau pencapaian sendiri) adalah sikap yang dicontohkan bahkan oleh figur sebesar Musa, tidak ada yang terlalu 'tinggi' untuk terus belajar.