قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

Katakanlah, “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّيlaw kaana l-bahru midaadan li-kalimaati rabbiisekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku
  3. لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّيla-nafida l-bahru qabla an tanfada kalimaatu rabbiiniscaya habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku
  4. وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًاwa-law ji'naa bi-mitslihi madadanmeskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. لَوْlawsekiranya
  3. كَانَkaanaadalah
  4. الْبَحْرُl-bahrulaut
  5. مِدَادًاmidaadantinta
  6. لِكَلِمَاتِli-kalimaatibagi kalimat-kalimat
  7. رَبِّيrabbiiTuhanku
  8. لَنَفِدَla-nafidasungguh akan habis
  9. الْبَحْرُl-bahrulaut
  10. قَبْلَqablasebelum
  11. أَنْanbahwa
  12. تَنْفَدَtanfadahabis
  13. كَلِمَاتُkalimaatukalimat-kalimat
  14. رَبِّيrabbiiTuhanku
  15. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  16. جِئْنَاji'naaKami datangkan
  17. بِمِثْلِهِbi-mitslihidengan yang serupa dengannya
  18. مَدَدًاmadadantambahan

Inti bacaan

Perumpamaan luar biasa: jika lautan menjadi tinta untuk kalimat Tuhan, 'niscaya habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku', kedalaman pengetahuan ilahi yang melampaui skala fisik terbesar yang bisa dibayangkan manusia, mengundang kerendahan hati terhadap keterbatasan pemahaman.

Penjelasan pilihan kata

'Tinta' (midaad) dan 'tambahan' (madad) berasal dari akar yang sama persis, yang berarti memanjangkan, permainan kata yang disengaja: bahkan jika tinta itu terus-menerus ditambah lagi dengan akar kata yang sama, kalimat Tuhan tetap tidak akan habis dicatat.

Tiga kata di ayat ini masing-masing hanya sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Yang pertama “tinta” (مِدَادًا, midaadan). Yang kedua “tambahan” (مَدَدًا, madadan). Yang ketiga rangkaian “kalimat-kalimat Tuhanku” (كَلِمَاتِ رَبِّي, kalimaati rabbii). Sebuah ayat yang hanya terdiri dari satu kalimat memuat tiga bentuk yang tak dipakai di tempat lain mana pun.

Dua yang pertama berasal dari akar yang sama, yaitu akar yang berarti memanjangkan atau menambah. Pemakaian dua turunan dari satu akar di dalam satu kalimat menghasilkan permainan kata yang disengaja: tinta itu sendiri secara harfiah adalah sesuatu yang ditambahkan, dan penambahannya pun disebut dengan kata dari akar yang sama. Yang habis dan yang menambah dinamai dengan bunyi yang mirip.

Bentuk pengandaiannya pun berlapis dua. Lapis pertama mengandaikan seluruh lautan menjadi tinta. Lapis kedua menambahkan lagi sebanyak itu. Menambah lapisan pada sebuah pengandaian yang sudah mustahil bukan berlebihan; ia menutup satu-satunya keberatan yang mungkin tersisa, yaitu bahwa jumlahnya kurang.

Rangkaian “sebanyak itu” (بِمِثْلِهِ, bi-mitslihi) di ayat ini muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (17:88, 18:109). Di tempat yang satu lagi ia dipakai pada tantangan agar manusia dan jin mendatangkan yang serupa dengan kitab ini. Dua tempat, satu rangkaian kata, dan keduanya berakhir pada kesimpulan yang sama: menambah jumlah tidak mengubah perbandingannya.

Kata yang dipakai untuk apa yang tak habis itu pun berbentuk jamak, yaitu kalimat-kalimat, bukan satu firman. Perbedaan itu mengubah gambarannya. Kalau yang disebut satu firman yang terlalu besar untuk dicatat, yang digambarkan adalah ukuran. Karena yang disebut jamak, yang digambarkan sesuatu yang tidak berhenti datang. Tinta habis bukan karena satu kalimat terlalu panjang, melainkan karena kalimat berikutnya selalu ada.

Bentuk perintah pembukanya juga perlu dicatat. Ayat ini dibuka dengan katakanlah, sehingga seluruh isinya ucapan yang diperintahkan, bukan pernyataan narator. Yang menyampaikan pengandaian ini diminta menyampaikannya sebagai pengakuan tentang batas dirinya sendiri, bukan sebagai keterangan yang ia kuasai. Dan kata ganti yang dipakai untuk Tuhan pun orang pertama tunggal, yaitu Tuhanku, sehingga pengakuan itu perseorangan sebelum menjadi umum.

Tafsiran

Ayat ini menyatakan ketakterhinggaan dengan cara yang bisa dibayangkan, dan itulah kesulitan yang dipecahkannya. Sesuatu yang tak terhingga tidak bisa digambarkan secara langsung, sebab setiap gambaran memerlukan batas. Yang dilakukan di sini bukan menggambarkan yang tak terhingga, melainkan menghabiskan yang terhingga di hadapannya.

Bahan yang dipilih pun bahan yang paling besar yang bisa dibayangkan orang yang mendengarnya, yaitu lautan. Dan yang dinyatakan bukan bahwa lautan itu kurang, melainkan bahwa ia habis. Kata habis mengandaikan penghitungan yang berjalan sampai selesai, sehingga pembacanya diajak membayangkan proses, bukan sekadar perbandingan.

Lapis kedua pengandaiannya menutup keberatan terakhir. Sesudah lautan disebut habis, ditambahkan bahwa didatangkan lagi sebanyak itu. Menambah lapisan pada pengandaian yang sudah mustahil terdengar berlebihan sampai disadari apa yang ditutupnya: kemungkinan bahwa kesimpulan itu hanya berlaku karena jumlahnya kebetulan kurang. Dengan lapis kedua, kekurangan jumlah berhenti menjadi penjelasan.

Yang paling halus pada ayat ini adalah bunyinya. Kata untuk tinta dan kata untuk tambahan berasal dari akar yang sama, dan keduanya hanya sekali dipakai di seluruh kitab ini. Yang habis dan yang menambah dinamai dengan bunyi yang hampir sama, sehingga di dalam kalimat itu sendiri sudah terkandung gambaran tentang usaha yang berputar pada dirinya sendiri. Rangkaian sebanyak itu pun dipakai sekali lagi di 17:88 untuk tantangan mendatangkan yang serupa dengan kitab ini, dan di kedua tempat kesimpulannya sama: menambah tidak mengubah apa-apa. Ini pernyataan tentang keluasan yang melampaui kapasitas pencatatan apa pun, bukan klaim kuantitas fisik yang bisa dihitung atau dibandingkan secara literal dengan volume laut.

Renungan dan Hikmah

  • Gambaran lautan sebagai tinta adalah hiperbola untuk menyatakan ketakterhinggaan, bukan perbandingan kuantitatif yang bisa diukur, membacanya sebagai klaim volume fisik melewatkan maksud kalimatnya sendiri. Yang perlu ditegaskan: gambaran ini tidak menghitung. Ia tidak menyatakan berapa banyak, dan tidak menyatakan bahwa jumlahnya tak terhingga dalam pengertian bilangan. Yang dikerjakannya adalah menghabiskan sesuatu yang paling besar yang bisa dibayangkan manusia, lalu berhenti. Sesudah itu pembacanya ditinggalkan tanpa angka, dan memang tak ada angka yang hendak diberikan. Yang ditinggalkan justru itu, yaitu kesadaran bahwa alat hitungnya sendiri yang tidak memadai.
  • Allah tidak menggambarkan yang tak terhingga; Dia menghabiskan yang terhingga di hadapannya. Lautan disebut habis, bukan kurang. Kata habis mengandaikan penghitungan yang berjalan sampai selesai. Kata untuk tinta itu (مِدَادًا) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan begitu pula kata untuk tambahannya (مَدَدًا). Dua kata yang menyusun gambaran ini sama-sama tidak dipakai lagi di mana pun, dan keduanya berasal dari akar yang sama. Yang dipakai menghabiskan dan yang dipakai menambah dinamai dengan akar yang satu.
  • Sesudah lautan disebut habis, Allah menambahkan lagi sebanyak itu. Lapisan kedua itu menutup satu-satunya keberatan yang tersisa, yaitu bahwa jumlahnya kebetulan kurang. Sesudah lautan disebut habis, kalimatnya menambahkan lagi sebanyak itu. Penambahan itu bukan hiasan. Ia menutup tawar-menawar yang paling mudah diajukan, yaitu bahwa lautan mungkin kurang besar. Dengan tambahan sebanyak itu dimasukkan ke dalam pengandaiannya, ukuran berapa pun yang dibayangkan pembaca sudah tercakup.
  • Kata untuk tinta dan kata untuk tambahan berasal dari akar yang sama, dan keduanya cuma sekali dipakai di seluruh Al-Quran. Yang habis dan yang menambah dinamai dengan bunyi yang hampir sama. Rangkaian tentang apa yang hendak dituliskan itu (كَلِمَاتُ رَبِّي) juga muncul satu kali saja dalam bentuk ini. Yang disebut bukan ilmu-Nya dan bukan ciptaan-Nya, melainkan kalimat-kalimat Tuhanku. Pilihan itu menjaga gambarannya tetap utuh: yang dibandingkan dengan tinta memang sesuatu yang dituliskan.
  • Allah menyuruh membayangkan lautan habis lebih dahulu, lalu menambahkan lagi sebanyak itu, dan hasilnya tetap sama. Kalau menambah bahan memang tak menggeser apa pun, apa yang selama ini kita sangka cukup untuk memahami-Nya?
  • Perhatikan apa yang disebut habis di dalam pengandaian ini. Bukan kalimat-kalimat Tuhan, melainkan tintanya. Yang kehabisan adalah alat penulisnya, bukan bahan yang ditulis. Apa akibat susunan itu bagi pembaca? Ia memindahkan letak keterbatasannya. Yang terbatas ternyata bukan yang hendak dikenali, melainkan alat yang dipakai mengenalinya, dan alat itu adalah segala yang tersedia di dunia ini, termasuk seluruh kata yang pernah disusun manusia untuk menerangkan Allah.