قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Dia berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah, kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. قَالَ رَبِّqaala rabbidia berkata, wahai Tuhanku
  2. إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّيinnii wahana l-'azhmu minniisesungguhnya tulangku telah lemah
  3. وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًاwa-syta'ala r-ra'su syaybandan kepalaku telah dipenuhi uban
  4. وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّاwa-lam akun bi-du'aa'ika rabbi syaqiyyandan aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Tuhanku

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. رَبِّrabbiTuhan
  3. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  4. وَهَنَwahanalemah
  5. الْعَظْمُl-'azhmutulang
  6. مِنِّيminniidari-Ku
  7. وَاشْتَعَلَwa-syta'aladan dipenuhi
  8. الرَّأْسُr-ra'sukepala
  9. شَيْبًاsyaybanberuban
  10. وَلَمْwa-lamdan tidak
  11. أَكُنْakunaku adalah
  12. بِدُعَائِكَbi-du'aa'ikadengan berdoa kepada-Mu
  13. رَبِّrabbiTuhan
  14. شَقِيًّاsyaqiyyanyang celaka

Inti bacaan

Kejujuran Zakaria tentang kondisi fisiknya ('tulangku telah lemah, kepalaku dipenuhi uban') dipasangkan dengan pengakuan penting: 'aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu', keterbatasan usia diakui terus terang, namun harapan terhadap doa tidak pernah pudar meski belum terkabul selama bertahun-tahun. Konkretnya: mengakui keterbatasan fisik atau usia secara jujur tidak perlu menghalangi harapan dan ketekunan dalam berdoa, riwayat panjang doa yang belum terkabul tidak berarti keyakinan terhadap doa itu sendiri harus pudar.

Penjelasan pilihan kata

Zakaria membuka doanya dengan mengakui kelemahan fisiknya secara langsung: usia tua dan tubuh yang melemah disebut apa adanya, bukan disembunyikan, sebelum permintaannya diajukan.

Tafsiran

Doa ini dimulai bukan dengan permintaan, melainkan dengan pengakuan kondisi diri dan riwayat baik dalam berdoa: sebuah dasar yang dibangun sebelum permintaan yang tampak mustahil diajukan.

Renungan dan Hikmah

  • Zakaria membuka doanya kepada Allah bukan dengan permintaan, melainkan dengan menyebut tulangnya yang lemah dan kepalanya yang beruban. Ia menggambarkan sendiri betapa mustahilnya. Orang yang menyembunyikan keadaannya di hadapan Yang mengetahuinya sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya sendiri, bukan dari-Nya.
  • Dasar yang ia ajukan bukan amalnya, melainkan riwayat doanya: 'aku tidak pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu'. Yang disebut pengalaman bersama Allah, bukan catatan prestasinya. Orang yang pernah berulang kali dijawab punya alasan meminta yang tidak dimiliki orang yang baru pertama kali datang.
  • Panggilan 'wahai Tuhanku' muncul di awal dan di akhir kalimat yang sama. Doanya diapit oleh sapaan kepada Allah dari dua ujung. Cara seseorang memanggil menunjukkan seberapa dekat ia merasa berdiri, dan pengulangan itu bukan kelebihan kata.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.