فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا

Maka rasa sakit melahirkan memaksanya ke pangkal pohon kurma. Dia berkata, “Aduhai, seandainya aku mati sebelum ini, dan menjadi seorang yang terlupakan sama sekali.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)
  1. فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِfa-ajaa'ahaa l-makhaadu ilaa jidz'i n-nakhlatimaka rasa sakit melahirkan memaksanya ke pangkal pohon kurma
  2. قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَاqaalat yaa laytanii mittu qabla haadzaadia berkata, aduhai, seandainya aku mati sebelum ini
  3. وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّاwa-kuntu nasyan mansiyyandan menjadi seorang yang terlupakan sama sekali
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar j-y-a, m-kh-d, j-dz-', n-kh-l, q-w-l, m-w-t, q-b-l, k-w-n, n-s-y): ajaa'ahaa diterjemahkan 'memaksanya' (akar j-y-'); makhaad diterjemahkan 'rasa sakit melahirkan' (akar m-kh-d); jidh' an-nakhlah diterjemahkan 'pangkal pohon kurma'; nasyan mansiyyan diterjemahkan 'terlupakan sama sekali' (akar n-s-y NSY, penegasan ganda). gloss '(bersandar)/(selama-lamanya)' dibuang.

Aplikasi

Kejujuran mentah tentang beratnya penderitaan: 'Aduhai, seandainya aku mati sebelum ini', pengakuan tentang beban emosional dan fisik yang luar biasa berat, divalidasi tanpa dihakimi sebagai kurang iman. Konkretnya: mengakui momen keputusasaan yang mendalam saat menghadapi penderitaan berat (bahkan pada tokoh yang sangat dimuliakan) menunjukkan bahwa perasaan seperti itu adalah bagian manusiawi yang sah, bukan kegagalan spiritual.