Ayat 19:34
ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ
Itulah Isa putra Maryam; perkataan yang benar, yang mereka ragukan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- ذَٰلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَdzaalika 'iisaa bnu maryamaitulah Isa putra Maryam
- قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَqawla l-haqqi lladzii fiihi yamtaruunaperkataan yang benar, yang mereka ragukan
Terjemahan per kata (9 kata)
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- عِيسَى'iisaaIsa
- ابْنُbnuputra
- مَرْيَمَmaryamaMaryam
- قَوْلَqawlaperkataan
- الْحَقِّl-haqqihak
- الَّذِيlladziiyang
- فِيهِfiihidi dalamnya
- يَمْتَرُونَyamtaruunamereka meragukan
Inti bacaan
Penegasan identitas final: 'Itulah Isa putra Maryam', penekanan eksplisit pada hubungan ibu-anak (bukan hubungan ilahi), sebuah kebenaran yang justru diperdebatkan oleh sebagian orang meski sudah dinyatakan sejelas mungkin.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini beralih ke suara penutur yang berbicara tentang Isa dalam bentuk orang ketiga: jelas bukan lagi kutipan langsung Isa sendiri, melainkan penegasan naratif yang menyimpulkan deklarasinya di ayat-ayat sebelumnya.
Tafsiran
'Putra Maryam' sebagai penegasan identitas: Isa didefinisikan lewat garis ibunya, bukan garis ayah, sebuah penamaan yang konsisten dengan seluruh kisah kelahirannya tanpa ayah manusia.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebutnya Isa putra Maryam. Lewat ibunya. Nama yang dipakai sudah menjawab perselisihan sebelum keterangan diberikan.
- Suara ayat ini berpindah dari Isa ke penutur. Bukan lagi kutipan. Yang menyimpulkan bukan yang bersangkutan, melainkan yang mengabarkan.
- Allah menyebutnya perkataan yang benar, lalu menambahkan bahwa mereka meragukannya. Dua-duanya. Kebenaran disebut bersama penolakan atasnya, tanpa yang satu menghapus yang lain.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar b-n-y, q-w-l, h-q-q, m-r-y): qawl al-haqq diterjemahkan 'perkataan yang benar (kebenaran)' (akar q-w-l + akar h-q-q); yamtaruun diterjemahkan 'meragukan' (akar m-r-y). gloss '(hakikat)' dibuang.
Ayat 19:35
مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ ۖ سُبْحَانَهُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Tidak patut bagi Allah mengambil seorang anak; Mahasuci Dia. Apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah,” maka jadilah ia.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍmaa kaana li-llaahi an yattakhidza min waladintidak patut bagi Allah mengambil seorang anak
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- إِذَا قَضَىٰ أَمْرًاidzaa qadhaa amranapabila Dia menetapkan suatu urusan
- فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُfa-innamaa yaquulu lahu kun fa-yakuunuDia hanya berkata kepadanya, jadilah, maka jadilah ia
Terjemahan per kata (16 kata)
- مَاmaatidaklah
- كَانَkaanaadalah
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- أَنْanuntuk
- يَتَّخِذَyattakhidzamengangkat
- مِنْmindari
- وَلَدٍwaladinanak
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- إِذَاidzaaapabila
- قَضَىٰqadhaamemutuskan
- أَمْرًاamranurusan
- فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
- يَقُولُyaquuluberkata
- لَهُlahubaginya
- كُنْkunjadilah
- فَيَكُونُfa-yakuunumaka jadilah ia
Inti bacaan
Argumen logis yang kuat: 'Tidak patut bagi Allah mengambil seorang anak. apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata Jadilah, maka jadilah', kapasitas mencipta langsung tanpa proses biologis menghilangkan kebutuhan akan konsep keturunan dalam pengertian manusiawi.
Penjelasan pilihan kata
'Mahasuci' (subhaanahu) tetap dipertahankan sebagai satu kata untuk formula seruan ini: kategori tata bahasa berbeda dari gelar sifat yang biasanya tidak memakai 'Maha'.
Tafsiran
Ayat ini adalah penegasan langsung yang menolak gagasan Allah mengambil anak, bukan argumen panjang, melainkan pernyataan diikuti penjelasan tentang cara Allah bertindak: cukup dengan berkata 'jadilah'. Logikanya: kekuasaan yang bisa menciptakan hanya dengan berkata tidak memerlukan cara biologis seperti mengambil anak.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tidak patut bagi-Nya mengambil seorang anak. Kata yang dipakai kepatutan, bukan kemampuan. Yang ditolak bukan bahwa hal itu sulit, melainkan bahwa ia tidak sesuai dengan siapa Dia.
- Alasan yang menyusul cara-Nya menetapkan: cukup berkata jadilah, maka jadilah. Tidak ada proses yang memerlukan keturunan. Yang mencipta dengan sepatah kata memang tak memerlukan jalan yang dipakai makhluk untuk melanjutkan diri.
- Allah menyisipkan Mahasuci Dia di antara penyangkalan dan alasannya. Bukan di ujung. Penyucian diletakkan sebelum penalaran, sehingga yang dibaca lebih dahulu kedudukan-Nya, baru kemudian argumennya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar k-w-n, a-l-h, a-kh-dz, w-l-d, s-b-h, q-d-y, a-m-r, q-w-l): maa kaana lillaah an yattakhidha min walad diterjemahkan 'tidak patut bagi Allah mengambil seorang anak' (akar w-l-d), puncak anti-pendewaan; subhaanahu diterjemahkan 'Maha Suci Dia'; qadaa amran diterjemahkan 'menetapkan urusan' (akar q-d-y); kun fa-yakuun diterjemahkan 'jadilah, maka jadilah' (akar k-w-n).