مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍ ۖ سُبْحَانَهُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Tidak patut bagi Allah mengambil seorang anak; Mahasuci Dia. Apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah,” maka jadilah ia.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- مَا كَانَ لِلَّهِ أَنْ يَتَّخِذَ مِنْ وَلَدٍmaa kaana li-llaahi an yattakhidza min waladintidak patut bagi Allah mengambil seorang anak
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- إِذَا قَضَىٰ أَمْرًاidzaa qadhaa amranapabila Dia menetapkan suatu urusan
- فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُfa-innamaa yaquulu lahu kun fa-yakuunuDia hanya berkata kepadanya, jadilah, maka jadilah ia
Terjemahan per kata (16 kata)
- مَاmaatidaklah
- كَانَkaanaadalah
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- أَنْanuntuk
- يَتَّخِذَyattakhidzamengangkat
- مِنْmindari
- وَلَدٍwaladinanak
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- إِذَاidzaaapabila
- قَضَىٰqadhaamemutuskan
- أَمْرًاamranurusan
- فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
- يَقُولُyaquuluberkata
- لَهُlahubaginya
- كُنْkunjadilah
- فَيَكُونُfa-yakuunumaka jadilah ia
Inti bacaan
Argumen logis yang kuat: 'Tidak patut bagi Allah mengambil seorang anak. apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia hanya berkata Jadilah, maka jadilah', kapasitas mencipta langsung tanpa proses biologis menghilangkan kebutuhan akan konsep keturunan dalam pengertian manusiawi.
Penjelasan pilihan kata
'Mahasuci' (subhaanahu) tetap dipertahankan sebagai satu kata untuk formula seruan ini: kategori tata bahasa berbeda dari gelar sifat yang biasanya tidak memakai 'Maha'.
Tafsiran
Ayat ini adalah penegasan langsung yang menolak gagasan Allah mengambil anak, bukan argumen panjang, melainkan pernyataan diikuti penjelasan tentang cara Allah bertindak: cukup dengan berkata 'jadilah'. Logikanya: kekuasaan yang bisa menciptakan hanya dengan berkata tidak memerlukan cara biologis seperti mengambil anak.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tidak patut bagi-Nya mengambil seorang anak. Kata yang dipakai kepatutan, bukan kemampuan. Yang ditolak bukan bahwa hal itu sulit, melainkan bahwa ia tidak sesuai dengan siapa Dia.
- Alasan yang menyusul cara-Nya menetapkan: cukup berkata jadilah, maka jadilah. Tidak ada proses yang memerlukan keturunan. Yang mencipta dengan sepatah kata memang tak memerlukan jalan yang dipakai makhluk untuk melanjutkan diri.
- Allah menyisipkan Mahasuci Dia di antara penyangkalan dan alasannya. Bukan di ujung. Penyucian diletakkan sebelum penalaran, sehingga yang dibaca lebih dahulu kedudukan-Nya, baru kemudian argumennya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar k-w-n, a-l-h, a-kh-dz, w-l-d, s-b-h, q-d-y, a-m-r, q-w-l): maa kaana lillaah an yattakhidha min walad diterjemahkan 'tidak patut bagi Allah mengambil seorang anak' (akar w-l-d), puncak anti-pendewaan; subhaanahu diterjemahkan 'Maha Suci Dia'; qadaa amran diterjemahkan 'menetapkan urusan' (akar q-d-y); kun fa-yakuun diterjemahkan 'jadilah, maka jadilah' (akar k-w-n).