إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
Ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak bermanfaat bagimu sedikit pun?
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِidz qaala li-abiihi yaa abatiketika ia berkata kepada bapaknya, wahai Bapakku
- لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُli-ma ta'budu maa laa yasma'u wa-laa yubshirumengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar dan tidak melihat
- وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًاwa-laa yughnii 'anka syay'andan tidak bermanfaat bagimu sedikit pun
Terjemahan per kata (16 kata)
- إِذْidzketika
- قَالَqaalaberkata
- لِأَبِيهِli-abiihikepada bapaknya
- يَاyaawahai
- أَبَتِabatiayahku
- لِمَli-mamengapa
- تَعْبُدُta'buduengkau mengabdi
- مَاmaaapa yang
- لَاlaatidak
- يَسْمَعُyasma'umendengar
- وَلَاwa-laadan tidak
- يُبْصِرُyubshirumelihat
- وَلَاwa-laadan tidak
- يُغْنِيyughniimencukupkan
- عَنْكَ'ankadarimu
- شَيْئًاsyay'ansedikit pun
Inti bacaan
Pendekatan Ibrahim kepada ayahnya dimulai dengan pertanyaan yang jujur dan langsung, bukan konfrontasi kasar: 'mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat?', kritik disampaikan lewat pertanyaan yang mengajak berpikir, bukan penghakiman langsung. Konkretnya: menyampaikan kritik terhadap keyakinan orang yang dicintai lewat pertanyaan reflektif (bukan tuduhan langsung) adalah pendekatan yang lebih menghormati sekaligus efektif membuka ruang dialog.
Penjelasan pilihan kata
Pertanyaan Ibrahim dibangun di atas tiga ketidakmampuan berhala: tidak mendengar, tidak melihat, tidak bermanfaat, argumen yang menyerang fungsi, bukan sekadar keberadaan berhala itu.
Tafsiran
Pembuka dialog Ibrahim dengan ayahnya ini adalah salah satu contoh paling langsung dalam Al-Qur'an tentang argumen rasional menentang penyembahan berhala, bukan lewat otoritas, melainkan lewat pertanyaan tentang fungsi.
Renungan dan Hikmah
- Dua keberatan pertama tentang berhalanya: tidak mendengar dan tidak melihat. Yang ketiga berpindah sasaran, tidak bermanfaat bagimu. Pertanyaannya bergeser dari benda itu ke orang yang menyembahnya, dan justru bagian itulah yang paling sulit dijawab.
- Di kalimat pembuka ini Ibrahim belum sekali pun menyebut Allah. Ia hanya bertanya tentang apa yang disembah bapaknya. Ajakan kepada yang benar ternyata bisa dimulai tanpa menyebutkan nama-Nya, cukup dengan memeriksa apa yang sudah ada di depan mata.
- Allah merekam panggilan itu utuh, wahai Bapakku, dan mengulanginya pada ayat-ayat sesudahnya. Nada hormatnya tidak berubah meski isinya makin berat. Yang menentukan sampai atau tidaknya sebuah keberatan sering bukan isinya, melainkan apakah orangnya masih dipanggil dengan sebutan yang sama.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Ayat verba/nomina gny non-sebutan: pemakaian diteruskan terjemahan lain (laa yughnii 'tidak berguna/bermanfaat' dkk., konsisten; sub-putusan verba terdokumentasi di belum diputuskan); pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi gny: ghaniyy diterjemahkan 'berkecukupan' (SATU terjemahan Allah+manusia; takrif diterjemahkan 'Sang Berkecukupan'); ghaniyy an diterjemahkan 'tidak memerlukan' (cabang preposisional); verba/istaghnaa/mughnuun pemakaian diteruskan (terjemahan lain konsisten; sub-putusan di belum diputuskan). Antonim internal: faqiir (35:15, 47:38, 3:181), fqr belum dibedah, 'fakir/miskin' interim. 'cukup' polos = wilayah k-f-y ('Cukuplah Allah' 27 ayat), beda bentuk dgn 'berkecukupan', didokumentasi. al-Ghaniyy (glos ilahi) = 'The Self-sufficient; aghnaa an = idiom 'mencukupi/menghindarkan dari' (laa yughnii = 'tidak berguna/menolong').