وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا
Dan ia selalu menyuruh keluarganya salat dan zakat, dan ia adalah orang yang diridai oleh Tuhannya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِwa-kaana ya'muru ahlahu bi-sh-shalaati wa-z-zakaatidan ia selalu menyuruh keluarganya salat dan zakat
- وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّاwa-kaana 'inda rabbihi mardhiyyandan ia adalah orang yang diridai oleh Tuhannya
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- يَأْمُرُya'murumenyuruh
- أَهْلَهُahlahukeluarganya
- بِالصَّلَاةِbi-sh-shalaatidengan salat
- وَالزَّكَاةِwa-z-zakaatidan zakat
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- عِنْدَ'indadi sisi
- رَبِّهِrabbihiTuhannya
- مَرْضِيًّاmardhiyyanyang diridai
Inti bacaan
Ismail digambarkan aktif 'menyuruh keluarganya' menjalankan kewajiban terstruktur (salat) dan zakat, kepemimpinan spiritual dalam rumah tangga sendiri dianggap tanggung jawab penting, bukan diserahkan sepenuhnya kepada pihak luar. Konkretnya: mengambil peran aktif membimbing keluarga sendiri dalam kewajiban dan tanggung jawab spiritual (bukan hanya menjalankannya sendiri secara individual) adalah teladan kepemimpinan rumah tangga yang dicontohkan Ismail.
Penjelasan pilihan kata
'Salat dan zakat': pasangan formula kedua dalam surah ini setelah 19:31 (Isa), memakai facet institusional zakat yang sama, bukan facet 'kesucian'.
Tafsiran
Ismail digambarkan bukan hanya menjalankan salat dan zakat untuk dirinya sendiri, tetapi menyuruh keluarganya melakukannya juga: tanggung jawab yang meluas dari diri sendiri ke orang-orang terdekatnya.
Renungan dan Hikmah
- Perintah semacam ini diarahkan kepada keluarga sendiri di tiga tempat, dan cuma di sini ia berupa laporan, bukan suruhan. Di 20:132 dan 66:6 bentuknya perintah kepada pembacanya, “perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat”, “jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api”. Di ayat ini bentuknya kalimat berita tentang seseorang yang sudah mengerjakannya, dan kata kerjanya berbentuk kebiasaan, bukan kejadian sekali lewat. Rumusan “ia selalu menyuruh keluarganya” tak ada duanya di seluruh Quran.
- Penutupnya memakai مَرْضِيًّا, yang sekali saja muncul. Sifat itu menyatakan seseorang diridai, kedudukan yang diberikan pihak lain, bukan yang diusahakan sendiri. Bentuk sepasangnya baru muncul di 89:28, jauh di belakang, waktu jiwa dipanggil pulang dalam keadaan “meridai lagi diridai”. Yang di sana disebut dua arah sekaligus, di sini disebut satu arah saja, dan disandingkan langsung dengan kebiasaan menyuruh keluarga sendiri.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: “(menunaikan)” diterjemahkan “(memberikan)”. Dalam ayat ini, 'salaah' dan 'zakaah' sama-sama bertakrif (memakai kata sandang al-). salaah diterjemahkan 'salat' UNIVERSAL (: kewajiban generik, bukan koreografi; bukti terkuat 24:41, BURUNG punya salaah; contoh serupa 9:103, 33:56; homograf dijaga: 22:40 salawaat=IBRANI, 69:31=s-l-y 'bakar') · zakaah diterjemahkan 'zakat' (dipertahankan: makna GANDA suci+tumbuh, jangan dikerdilkan; verba penggovongnya aataa='memberikan/berikanlah', BUKAN 'menunaikan', aataa diterjemahkan 'memberi' di 215 ayat non-zakaah, 'menunaikan' 0×;), kecuali cabang KESUCIAN (19:13/18:81) diterjemahkan 'kesucian'. ⟶: gloss '(menegakkan)' & '(memberikan)' dibuang. Arab ya'muru ahlahu bi-s-salaati wa-z-zakaati = 'menyuruh keluarganya salat dan zakat', nomina objek langsung; verba pembawa = 'menyuruh' (amara bi-), bukan 'menegakkan/memberikan' (menambah verba tanpa dasar = interpolasi terlarang).