إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِin kullu man fii s-samaawaati wa-l-ardhitidak ada seorang pun di langit dan di bumi
  2. إِلَّا آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًاillaa aatii r-rahmaani 'abdankecuali akan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. إِنْinjika
  2. كُلُّkullusetiap
  3. مَنْmanorang yang
  4. فِيfiidi
  5. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  6. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  7. إِلَّاillaakecuali
  8. آتِيaatiiyang datang
  9. الرَّحْمَٰنِr-rahmaaniAr-Rahman
  10. عَبْدًا'abdanseorang hamba

Inti bacaan

Penegasan universal: 'Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba', kedudukan setiap makhluk (termasuk figur yang dianggap 'anak') tetap sebagai hamba, tanpa pengecualian status istimewa apa pun.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menutup satu pembahasan panjang dengan menyamakan kedudukan semua makhluk dalam satu kalimat.

Bentuk kalimatnya penyangkalan menyeluruh yang disusul satu pengecualian: tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang sebagai hamba. Cakupannya disebut lewat sepasang kata yang menandai seluruh yang ada (السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, s-samaawaati wa-l-ardhi), bukan lewat penyebutan golongan. Yang dikecualikan bukan sebagian orang, melainkan cara datangnya. Semua datang, dan semua datang dengan kedudukan yang sama.

Kata “hamba” (عَبْدًا, 'abdan) di sini bukan kata baru dalam surah ini. Ia kata yang dipakai Isa sendiri ketika berbicara tentang dirinya, “sesungguhnya aku hamba Allah” (19:30). Kedudukan yang dinyatakannya sendiri itulah yang di sini diberlakukan kepada seluruh penghuni langit dan bumi. Bantahannya tidak datang dari luar, melainkan dari ucapan tokoh yang justru dipersoalkan.

Nama yang dipakai pun Ar-Rahman, tepat di tengah pembahasan yang menolak anggapan bahwa Ar-Rahman mempunyai anak. Nama yang sedang dipersoalkan itu diulang terus, dan tiap kali diulang ia disandingkan dengan kata hamba, bukan dengan kata anak.

Rangkaian penutupnya tak terulang. Susunan “akan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba” (آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا, aatii r-rahmaani 'abdan) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Bentuk kata yang dipakai untuk kedatangan itu bukan kata kerja lampau dan bukan pula kata kerja sedang berlangsung, melainkan bentuk yang menyatakan keadaan yang pasti terjadi. Yang digambarkan bukan sesuatu yang mungkin, melainkan sesuatu yang sudah tertentu.

Nama yang dipakai sekali lagi Ar-Rahman, dan letaknya di dalam surah menerangkan mengapa. Beberapa ayat sebelumnya (19:92) dinyatakan bahwa tidak sepantasnya Ar-Rahman mengangkat anak. Jadi nama yang sedang dipersoalkan itu diulang terus, dan tiap kali diulang ia disandingkan dengan kata hamba. Bantahan terhadap gagasan anak tidak disusun dengan menyangkalnya berulang-ulang, melainkan dengan menyebut kedudukan yang sebenarnya tersedia, dan kedudukan itu ternyata cuma satu.

Ayat sesudahnya menambahkan satu lapis lagi. Di 19:94 disebut bahwa Dia telah menghitung mereka dan menghitungnya dengan teliti. Kesamaan kedudukan tidak berarti keburaman: semua datang dengan kedudukan yang sama, dan pada saat yang sama masing-masing terhitung satu per satu. Dua hal yang biasanya dianggap berlawanan, yaitu diperlakukan sama dan dikenali secara pribadi, di sini disebut berurutan tanpa dipertentangkan.

Kata yang dipakai untuk menghitung di ayat itu diulang dua kali dalam satu kalimat, sekali sebagai kata kerja dan sekali sebagai penegasannya. Pengulangan seperti itu menutup pembacaan bahwa perhitungannya bersifat kasar atau menyeluruh belaka. Yang dijamin justru ketelitiannya, dan jaminan itu datang tepat sesudah kalimat yang menyamakan kedudukan semua orang.

Tafsiran

Ayat ini menutup penolakan gagasan anak dengan menegaskan status universal setiap makhluk: hamba, bukan anak, kategori yang sama berlaku bagi semua, termasuk Isa yang klaimnya sebagai anak justru menjadi pemicu tema ini di awal surah. Cara menutupnya patut diperhatikan, sebab ia tidak menyangkal untuk kesekian kali.

Bantahan yang mengulang penyangkalan biasanya melemah oleh pengulangannya sendiri. Yang dilakukan di sini berbeda. Alih-alih menyatakan sekali lagi bahwa tidak ada anak, ayat ini menyebutkan kedudukan apa saja yang tersedia, dan ternyata cuma satu. Kalau seluruh penghuni langit dan bumi datang dengan satu kedudukan yang sama, maka kedudukan yang diperdebatkan itu tidak perlu ditolak; ia sekadar tidak ada tempatnya.

Kekuatan tambahannya datang dari sumber kata yang dipakai. Kata hamba bukan kata yang disodorkan dari luar untuk merendahkan pihak yang dipersoalkan. Ia kata yang diucapkan tokoh itu sendiri tentang dirinya di awal surah yang sama. Sebuah bantahan yang memakai kata-kata pihak yang dibantah menutup jalan keluar yang paling lazim, yaitu menuduh pembantahnya salah paham.

Ada satu hal lagi yang muncul kalau ayat ini dibaca bersama tetangganya. Di 19:94 disebut bahwa Dia telah menghitung mereka dan menghitungnya dengan teliti. Kesamaan kedudukan ternyata tidak berarti kehilangan wajah. Semua datang dengan kedudukan yang sama, dan pada saat yang sama masing-masing dikenali satu per satu. Dua hal yang di dunia hampir selalu bertukar, yaitu diperlakukan setara dan diperhatikan secara pribadi, di sini disebut berdampingan tanpa saling mengurangi. Yang setara kedudukannya ternyata tidak kehilangan namanya.

Renungan dan Hikmah

  • Status 'hamba' yang dideklarasikan Isa sendiri tentang dirinya di 19:30 di sini digeneralisasi untuk seluruh penghuni langit dan bumi, bukan pengecualian bagi satu sosok, melainkan kategori universal yang berlaku bagi semua tanpa kecuali. Susunan surah ini menaruh pengakuan Isa di bagian awal dan pernyataan menyeluruh ini di bagian akhir. Yang satu diucapkan tokoh di dalam kisahnya tentang dirinya, yang lain dinyatakan Allah tentang segala sesuatu. Keduanya memakai kata yang sama, dan pembaca yang membaca surah ini berurutan akan melewati keduanya tanpa perlu diberi tahu bahwa mereka berhubungan.
  • Allah menyusun kalimatnya sebagai penyangkalan menyeluruh dengan satu pengecualian. Yang dikecualikan bukan siapa yang datang. Melainkan cara datangnya, dan cara itu sama untuk semua. Rangkaian penutupnya (آتِي الرَّحْمَٰنِ عَبْدًا) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Kalimatnya disusun sebagai penyangkalan menyeluruh yang diikuti pengecualian, dan bentuk seperti itu menghasilkan cakupan yang lebih rapat daripada pernyataan biasa. Yang dinyatakan bukan bahwa semua akan datang, melainkan bahwa tidak ada satu pun yang luput dari kedatangan itu.
  • Kata hamba yang Allah pakai di sini adalah kata yang dipakai Isa tentang dirinya sendiri di surah ini juga. Bantahannya tidak diambil dari luar. Ia diambil dari mulut tokoh yang dipersoalkan. Kata yang dipakai untuk kedudukan itu adalah kata yang dipakai Isa sendiri tentang dirinya di 19:30, yaitu ketika ia berkata bahwa ia hamba Allah. Jadi bantahan atas anggapan tentang dirinya diambil dari kalimatnya sendiri, bukan dari kalimat pihak lain, dan jaraknya cuma enam puluh tiga ayat di dalam surah yang sama.
  • Allah memakai kata hamba, kata yang dipakai Isa sendiri tentang dirinya, lalu memberlakukannya kepada seluruh penghuni langit dan bumi tanpa kecuali. Kalau tidak ada kedudukan lain yang tersedia di hadapan-Nya, kedudukan apa yang diam-diam kita rasa sedang kita pegang? Kata itu dipakai untuk seluruh isi langit dan bumi tanpa perbedaan derajat. Yang di langit dan yang di bumi disebut dengan sebutan yang sama. Perataan seperti itu menghapus dasar bagi susunan bertingkat yang biasa dibayangkan orang tentang isi kedua wilayah itu, dan ia dipasang tepat sesudah pengakuan kekerabatan dengan Allah dibantah.
  • Kata yang dipakai untuk kedatangan itu bukan kata untuk digiring atau diseret. Yang disebut adalah datang, dan sebutan yang menyertainya adalah hamba. Dua kata itu bersama-sama menggambarkan kedatangan yang tertib, bukan penangkapan. Apa yang dinyatakan bentuk seperti itu? Bahwa kedudukan sebagai hamba bukan hukuman yang dijatuhkan pada hari itu, melainkan keadaan yang sudah berlaku sejak semula di hadapan Allah, dan yang terjadi pada hari itu cuma penampakannya.
  • Kalimatnya menyebut dua wilayah sekaligus, yaitu langit dan bumi, dan menyatakan bahwa tidak ada penghuni di keduanya yang terkecuali. Penyebutan berpasangan itu menutup satu celah yang biasanya tersedia. Kalau cuma bumi yang disebut, pembacanya bisa membayangkan bahwa yang di langit berkedudukan berbeda. Dengan keduanya disebut dalam satu tarikan, perbedaan kedudukan antara penghuni dua wilayah itu ikut terhapus, dan yang berlaku di hadapan Allah cuma satu kedudukan untuk seluruhnya.