وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
Dan semuanya akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat dalam keadaan sendiri-sendiri.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًاwa-kulluhum aatiihi yawma l-qiyaamati fardandan semuanya akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat dalam keadaan sendiri-sendiri
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَكُلُّهُمْwa-kulluhumdan mereka semua
- آتِيهِaatiihimendatanginya
- يَوْمَyawmahari
- الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
- فَرْدًاfardanseorang diri
Inti bacaan
Pengulangan tema kesendirian akhir: 'semuanya akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat dalam keadaan sendiri-sendiri', pengingat berulang bahwa pertanggungjawaban akhir bersifat sepenuhnya individual, tidak ada yang bisa diwakilkan atau dibagi bersama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan yang sebelumnya, dan menambahkan satu kata yang mengubah gambarannya.
Kata itu “sendiri-sendiri” (فَرْدًا, fardan). Ia muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an, dan ketiganya bernada berbeda. Di 19:80, beberapa ayat sebelum ini, ia dipakai untuk seorang yang membanggakan harta dan anaknya, lalu disebut datang seorang diri. Di sini kesendirian itu tidak lagi menjadi nasib khusus siapa pun; ia diberlakukan kepada semua orang. Dan di 21:89 ia justru menjadi permohonan, ketika Zakaria meminta agar tidak dibiarkan sendirian. Satu kata yang sama sekali waktu berupa ancaman, sekali berupa keadaan yang pasti, dan sekali berupa ketakutan yang diadukan.
Ada tautan halus di antara dua yang pertama dan yang terakhir. Di 19:80 dan di 21:89 kata itu berdampingan dengan pembicaraan tentang mewarisi. Yang datang sendirian adalah juga yang tak lagi memegang apa pun yang bisa diwariskan atau diwarisi.
Kata pembukanya “semuanya”, tanpa pengecualian. Yang merasa punya perantara dan yang tidak sama-sama tercakup. Segala yang di dunia ini selalu bergerak berombongan, yaitu keluarga, golongan, jabatan, dan pengikut, tidak disebut ikut datang.
Kata pembukanya menutup semua celah sebelum kalimatnya dimulai. Yang dipakai “dan semuanya” (وَكُلُّهُمْ, wa-kulluhum), bukan kebanyakan dan bukan pula orang-orang tertentu. Bentuk itu tidak menyisakan golongan mana pun, termasuk golongan yang merasa punya perantara. Justru di dalam surah yang membicarakan kedudukan istimewa, kata yang menutup semua kedudukan itulah yang dipakai.
Waktu yang disebut pun ditentukan, yaitu hari kiamat. Bukan kelak, bukan pada akhirnya. Penentuan waktu membuat pernyataan ini tidak bisa dibaca sebagai gambaran umum tentang kesendirian manusia dalam hidup. Yang dibicarakan satu peristiwa tertentu dengan satu keadaan tertentu.
Kata terakhirnya muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (19:80, 19:95, 21:89), dan dua di antaranya berada di surah ini, berjarak lima belas ayat. Yang lebih dahulu dipakai untuk seorang yang membanggakan harta dan anaknya. Yang ini memberlakukannya kepada semua orang. Sebuah nasib yang mula-mula disebut sebagai hukuman bagi seorang yang sombong ternyata keadaan yang berlaku bagi siapa pun, dan pergeseran itu terjadi di dalam satu surah.
Yang membuat pergeseran itu tidak menakutkan adalah ayat sesudahnya. Di 19:96 disebut bahwa orang yang beriman dan beramal saleh akan diberi kasih sayang. Datang sendirian tidak berarti datang tanpa apa-apa; yang tidak ikut hanyalah apa yang selama ini dikira menyertai.
Tafsiran
Kesendirian yang tadinya digambarkan sebagai nasib khusus sosok yang sombong (19:80) kini terungkap sebagai kondisi universal setiap orang: tidak ada yang datang membawa serta harta, anak, atau pengikutnya. Pergeseran itu terjadi di dalam satu surah, dan jaraknya hanya lima belas ayat.
Yang mula-mula terbaca sebagai hukuman ternyata keadaan biasa. Perpindahan seperti itu mengubah kedudukan pembacanya. Ketika kesendirian disebut sebagai nasib seorang yang membanggakan hartanya, pembaca berdiri di luar dan menonton. Ketika kata yang sama diberlakukan kepada semua, ia berpindah ke dalam gambaran itu tanpa sempat memilih.
Kata pembukanya menutup semua celah sebelum kalimatnya sempat dimulai. Semuanya, bukan kebanyakan. Di dalam surah yang sepanjang halamannya membicarakan kedudukan istimewa dan gagasan tentang anak, kata yang menutup semua kedudukan itulah yang dipakai. Susunan itu bukan kebetulan; ia jawaban terhadap seluruh tema surahnya.
Yang menjaga ayat ini dari menjadi gambaran yang mencekam adalah ayat sesudahnya. Di 19:96 disebut bahwa orang yang beriman dan beramal saleh akan diberi kasih sayang. Datang sendirian ternyata bukan datang tanpa apa-apa. Yang tidak ikut hanyalah hal-hal yang selama ini dikira menyertai, dan apa yang benar-benar menyertai justru disebut di ayat berikutnya, sesudah semua yang lain ditanggalkan.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut semuanya datang kepada-Nya sendiri-sendiri. Tak ada rombongan. Yang di dunia selalu bersama akan berdiri satu per satu di sana. Kata itu (فَرْدًا) muncul di tiga ayat, yaitu 19:80, 19:95, dan 21:89. Dua di antaranya di surah ini, dan yang ketiga adalah doa Zakariya yang memohon agar tidak dibiarkan seorang diri. Jadi satu kata yang sama menjadi keadaan yang ditakuti dalam sebuah doa dan menjadi keadaan yang pasti terjadi pada hari yang disebut di sini.
- Kata yang dipakai semuanya. Tanpa pengecualian. Yang merasa punya perantara dan yang tidak sama-sama masuk dalam kata itu. Kata yang dipakai mencakup seluruhnya tanpa satu pengecualian pun. Susunan itu menutup harapan yang paling wajar bagi orang yang punya banyak pendukung, yaitu harapan datang bersama rombongan. Yang dikumpulkan memang semuanya, tapi cara datangnya satu per satu, dan dua hal itu tidak saling membatalkan.
- Allah menempatkan ayat ini sesudah menyanggah anggapan Ar-Rahman punya anak. Semua disebut hamba yang datang sendiri-sendiri. Kedudukan istimewa yang dibayangkan orang dihapus dalam satu kalimat. Letak ayat ini tepat sesudah bantahan atas anggapan bahwa Ar-Rahman mengambil anak. Susunan itu menyediakan jawaban yang tidak berupa perdebatan. Kalau semua datang sendiri-sendiri sebagai hamba, maka tidak ada hubungan kekerabatan yang berlaku di sana, dan anggapan tadi runtuh tanpa perlu dibantah kata per kata.
- Allah menyebut semuanya datang sendiri-sendiri, tanpa pengecualian, sementara di dunia ini kita hampir tak pernah bergerak sendirian. Kalau keluarga, golongan, jabatan, dan pengikut tidak ikut datang, apa yang tersisa dari diri kita ketika semua itu ditanggalkan? Ada satu hal yang tidak disebutkan ayat ini, dan ketiadaannya berarti. Tidak disebutkan apa saja yang tidak ikut datang. Harta tidak disebut, kedudukan tidak disebut, dan pengikut tidak disebut. Yang dinyatakan cuma bahwa yang datang seorang diri, dan pembacanya sendiri yang menyusun daftar apa saja yang tertinggal.
- Ayat ini sangat pendek, dan ia menutup rangkaian panjang tentang anggapan yang paling berat di dalam surah ini. Perbandingan panjang itu sendiri berbicara. Bantahan yang panjang menuntut pembacanya mengikuti seluruh alurnya, sedangkan satu kalimat pendek bisa diingat utuh oleh siapa pun. Apa yang tersisa di kepala pembaca sesudah surah ini ditutup? Bukan susunan bantahannya, melainkan satu gambaran: setiap orang datang seorang diri, dan Allah menaruh gambaran itu di tempat yang paling mudah diingat.
- Keadaan sendiri-sendiri di ayat ini tidak disebut sebagai siksaan dan tidak disebut sebagai akibat dari kesalahan. Ia disebut sebagai cara kedatangan yang berlaku bagi semuanya, termasuk bagi yang paling dekat kepada Allah. Perbedaan itu menahan satu pembacaan yang menakutkan. Yang menakutkan bukan sendirinya, melainkan datang sendiri tanpa membawa apa pun yang pantas ditunjukkan, dan yang kedua itulah yang masih bisa dikerjakan sekarang.