الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
Ar-Rahman bersemayam di atas Arasy.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰar-rahmaanu 'alaa l-'arsyi stawaaAr-Rahman bersemayam di atas Arasy
Terjemahan per kata (4 kata)
- الرَّحْمَٰنُar-rahmaanuAr-Rahman
- عَلَى'alaaatas
- الْعَرْشِl-'arsyiArasy
- اسْتَوَىٰstawaaDia menuju
Inti bacaan
Deskripsi otoritas tertinggi: 'bersemayam di atas 'Arasy', gambaran kekuasaan yang menyeluruh dan tertata, mendahului penjabaran lebih lanjut tentang cakupan kepemilikan-Nya di ayat berikutnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini sangat pendek, dan justru kependekannya yang perlu diperhatikan.
Nama yang dipakai adalah Ar-Rahman, di dalam kalimat yang seluruhnya tentang kekuasaan. Bukan nama yang menunjuk kekuatan, padahal Arasy justru lambang kekuasaan. Di dalam terjemahan ini nama itu dibiarkan sebagai nama dan tidak dialihbahasakan.
Susunan katanya pun tak seperti biasanya. Di enam tempat lain, gambaran ini selalu disusun dengan kata kerjanya lebih dahulu, yaitu kemudian Dia bersemayam di atas Arasy (7:54, 10:3, 13:2, 25:59, 32:4, 57:4). Hanya di ayat ini susunannya dibalik: Arasy disebut lebih dahulu, kata kerjanya belakangan (عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ, 'ala l-'arsyi stawaa). Dalam bahasa Arab, mendahulukan keterangan seperti itu memberi tekanan padanya.
Kata “bersemayam” (اسْتَوَىٰ, istawaa) dibiarkan apa adanya di sini, tanpa ditambahi keterangan tentang bagaimana caranya. Penahanan itu disengaja. Ayatnya sendiri tidak menerangkan, dan menambahkan keterangan yang tidak ada di teks akan menyodorkan kepada pembaca sesuatu yang bukan berasal dari ayat ini.
Letaknya di dalam surah menerangkan mengapa nama itu yang dipilih. Ayat-ayat sebelumnya menyebut kitab ini diberikan bukan untuk menyusahkan, melainkan sebagai peringatan. Jadi sebelum kekuasaan disebut, yang lebih dahulu disebut adalah keringanan. Nama Ar-Rahman di ayat ini menyambung nada itu, bukan memutusnya.
Kata kerja yang dipakai berasal dari akar yang juga melahirkan kata untuk lurus dan sama rata. Bentuk “bersemayam” (اسْتَوَىٰ, istawaa) di dalam pemakaian yang lain bisa berarti tegak sempurna atau selesai tertata. Di dalam terjemahan ini tidak satu pun dari makna turunan itu dipakai untuk menerangkan ayat ini, sebab memilih salah satunya berarti memutuskan sesuatu yang ayatnya sendiri tidak putuskan.
Penahanan seperti itu punya alasan yang bisa diperiksa. Sepanjang kitab ini, gambaran tentang Arasy tidak pernah disertai keterangan tentang bentuk atau cara. Kalau di enam tempat lain pun keterangan itu tidak diberikan, maka ketiadaannya di sini bukan kelalaian melainkan pola. Menambahkan keterangan yang secara tetap tidak diberikan berarti menyodorkan kepada pembaca sesuatu yang bukan berasal dari teksnya.
Kependekan ayat ini pun bagian dari isinya. Empat kata saja, tanpa kata sambung dan tanpa keterangan tambahan. Sebuah pernyataan tentang perkara yang paling besar disampaikan dengan jumlah kata paling sedikit, dan perbandingan antara keduanya meninggalkan kesan yang tidak bisa dihasilkan oleh uraian panjang.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kedudukan Ar-Rahman di atas Arasy sebagai pernyataan langsung, tanpa elaborasi lebih jauh tentang bentuk atau cara: teks membiarkan pernyataan ini berdiri apa adanya. Yang paling perlu diperhatikan justru dua hal yang tidak ada di dalamnya, yaitu keterangan dan panjang kalimat.
Pilihan namanya berlawanan dengan yang diharapkan pembaca. Arasy adalah lambang kekuasaan, dan sebuah kalimat tentang kekuasaan biasanya memakai nama yang menunjuk kekuatan. Yang dipakai justru nama yang menunjuk kasih. Susunan seperti ini berulang di beberapa tempat lain di dalam kitab ini, dan pengulangannya membuat pilihan itu tidak bisa dibaca sebagai kebetulan.
Susunan katanya pun berbeda dari enam tempat lain yang memuat gambaran serupa. Di sana kata kerjanya selalu disebut lebih dahulu; hanya di sini Arasy yang didahulukan. Dalam bahasa Arab, mendahulukan keterangan seperti itu memberi tekanan padanya. Sebuah ayat yang sudah sangat pendek masih menyempatkan diri mengubah urutan, dan perubahan sekecil itu di tempat sesempit itu jarang tanpa maksud.
Yang paling menuntut kejujuran dari pembacanya adalah apa yang dibiarkan kosong. Tidak ada satu kata pun yang menerangkan bagaimana. Penahanan itu bukan kelalaian, sebab ia berulang di semua tempat yang memuat gambaran ini. Sikap yang paling sesuai dengan ayat semacam itu adalah membiarkannya sependek aslinya, dan dorongan untuk melengkapinya biasanya datang dari ketidaknyamanan pembacanya sendiri, bukan dari kekurangan teksnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai nama Ar-Rahman di ayat tentang kekuasaan. Bukan nama kekuatan. Yang bertakhta disebut dengan nama kasih. Ayat sesudahnya tidak berpindah ke ancaman. Yang disebut justru bahwa segala isi langit, isi bumi, ruang di antara keduanya, sampai apa yang tersimpan di bawah tanah adalah milik-Nya, lalu bahwa Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi. Kuasa seluas itu diperkenalkan lewat nama kasih, bukan lewat nama yang membuat gentar.
- Kalimatnya pendek dan tak diterangkan lebih jauh. Tanpa uraian. Yang tak bisa dibayangkan dibiarkan tak dijelaskan. Yang tidak diterangkan bukan perkara sepele. Ia justru perkara yang paling ingin diketahui orang, dan di titik itulah kalimatnya berhenti. Diamnya bukan kekurangan keterangan, melainkan penolakan halus terhadap segala bentuk yang bisa disusun pikiran manusia. Tiap keterangan yang ditambahkan sesudahnya datang dari kita, bukan dari ayatnya.
- Allah menaruhnya sesudah menyebut penciptaan langit dan bumi. Berurutan. Sesudah yang dibuat, disebut siapa yang bertakhta atasnya. Urutannya berlanjut lagi sesudah itu. Ayat setelahnya menyebut siapa pemilik segala yang ada, dan ayat setelahnya lagi menyebut siapa yang mendengar bahkan apa yang tidak diucapkan. Tiga langkah beruntun: yang membuat, yang berkuasa, yang mengetahui. Tak ada jeda yang membiarkan salah satunya berdiri sendirian.
- Allah menyatakan hal ini dalam satu kalimat pendek dan tidak menerangkan bagaimana caranya. Kalau ayatnya sendiri menahan diri, apa yang mendorong kita sering merasa perlu melengkapi keterangan yang memang sengaja tidak diberikan? Pertanyaan itu bukan soal ilmu, melainkan soal kesabaran. Ayat ini menahan diri persis di tempat yang paling menggoda untuk diisi, dan menahan diri itulah yang sedang diajarkan kepada pembacanya.
- Susunan عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ dengan tempat disebut lebih dahulu hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran, yaitu di ayat ini. Enam tempat lain memakai susunan sebaliknya, اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ, yaitu 7:54, 10:3, 13:2, 25:59, 32:4, dan 57:4. Perbedaannya kecil di mata, tetapi arah bacanya berbeda: di sana yang menonjol perbuatannya, di sini yang menonjol tempatnya. Dari tujuh tempat itu, dua di antaranya mendekatkan nama Ar-Rahman kepada Arasy, yaitu ayat ini dan 25:59, dan Ar-Rahman adalah nama Allah yang paling sering dipakai untuk kasih.
- Allah tidak menghapus perkara ini dari kitab-Nya hanya karena ia berada di luar jangkauan bayangan manusia. Ia tetap dinyatakan, dan dinyatakan dengan kalimat sependek-pendeknya. Ada bedanya antara sesuatu yang disembunyikan dan sesuatu yang disebut tanpa rincian. Yang pertama menutup pintu; yang kedua membuka pintu lalu menahan kita di ambangnya. Pembaca diberi tahu bahwa perkara itu benar adanya, sekaligus diberi tahu bahwa kemampuannya berhenti sampai di situ. Memegang dua hal itu bersamaan jauh lebih berat daripada memilih salah satu lalu melupakan yang lain.