فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰ
Maka Musa memendam rasa takut dalam dirinya.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَىٰfa-awjasa fii nafsihi khiifatan muusaamaka Musa memendam rasa takut dalam dirinya
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَأَوْجَسَfa-awjasamaka ia merasa
- فِيfiidi dalam
- نَفْسِهِnafsihidirinya
- خِيفَةًkhiifatanketakutan
- مُوسَىٰmuusaaMusa
Inti bacaan
Kejujuran tentang perasaan manusiawi Musa: 'memendam rasa takut dalam dirinya', bahkan seorang nabi yang diutus dengan misi besar mengalami ketakutan yang wajar saat menghadapi demonstrasi kekuatan lawan yang mengesankan.
Penjelasan pilihan kata
'Dalam dirinya' (fii nafsihi): memakai kata nafs (diri), bukan kata untuk hati; rasa takut ini dipendam dalam diri, tidak ditampilkan keluar, sebuah detail yang dipertahankan sesuai teks.
Tafsiran
Pengakuan rasa takut Musa yang sesaat ini, meski sudah diyakinkan sebelumnya (20:68), menunjukkan bahwa jaminan ilahi tidak selalu menghapus reaksi manusiawi secara instan: keduanya bisa berdampingan.
Renungan dan Hikmah
- Musa masih memendam rasa takut sesaat sebelum jaminan Tuhannya menyusul di ayat berikutnya, perasaan takut yang manusiawi tidak dianggap sebagai kegagalan keyakinan, melainkan kondisi yang diakui apa adanya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar w-j-s, n-f-s, kh-w-f): awjasa diterjemahkan 'memendam' (akar w-j-s); khiifah diterjemahkan 'rasa takut' (akar kh-w-f); fii nafsih diterjemahkan 'dalam dirinya' (akar n-f-s, nafs='diri', bukan 'hati'). gloss '(perasaan)/(hati)' dibuang.