قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي

Ia menjawab, “Aku melihat sesuatu yang tidak mereka lihat. Kemudian, aku ambil segenggam dari jejak sang rasul, lalu aku lemparkan itu. Demikianlah nafsuku membujukku.”

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِqaala bashurtu bi-maa lam yabshuruu bihiia menjawab, aku melihat sesuatu yang tidak mereka lihat
  2. فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِfa-qabadhtu qabdhatan min atsari r-rasuulikemudian aku ambil segenggam dari jejak sang rasul
  3. فَنَبَذْتُهَاfa-nabadztuhaalalu aku lemparkan itu
  4. وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِيwa-ka-dzaalika sawwalat lii nafsiidemikianlah nafsuku membujukku

Terjemahan per kata (16 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. بَصُرْتُbashurtuaku melihat
  3. بِمَاbi-maaapa yang
  4. لَمْlamtidak
  5. يَبْصُرُواyabshuruumereka melihat
  6. بِهِbihipadanya
  7. فَقَبَضْتُfa-qabadhtumaka aku mengambil
  8. قَبْضَةًqabdhatansegenggam
  9. مِنْmindari
  10. أَثَرِatsarijejak
  11. الرَّسُولِr-rasuuliRasul
  12. فَنَبَذْتُهَاfa-nabadztuhaamaka aku melemparkannya
  13. وَكَذَٰلِكَwa-ka-dzaalikadan demikianlah
  14. سَوَّلَتْsawwalatmemperindah
  15. لِيliibagiku
  16. نَفْسِيnafsiidiriku

Inti bacaan

Pengakuan jujur Samiri: 'Demikianlah nafsuku membujukku', kejujuran mentah tentang bagaimana keinginan pribadi (bukan paksaan eksternal) yang mendorong tindakan destruktifnya, sebuah pengakuan tanggung jawab yang langka dalam narasi kegagalan moral.

Penjelasan pilihan kata

'Sang rasul' (ar-rasuul): teks tidak menyebut nama utusan yang dimaksud di sini; identifikasinya sebagai malaikat tertentu adalah pembacaan tradisi, bukan pernyataan eksplisit ayat ini. 'Segenggam dari jejak' juga tidak dirinci lebih jauh: apa isinya dan bagaimana cara kerjanya dibiarkan seperti apa adanya dalam teks.

Tafsiran

Penjelasan Samiri ini janggal dan tidak sepenuhnya jelas: ia mengklaim melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, namun penjelasan itu sendiri tidak menghilangkan tanggung jawabnya, sebagaimana ia sendiri mengakui di kalimat penutup bahwa itu adalah bujukan nafsunya.

Renungan dan Hikmah

  • Ia menutup sendiri penjelasannya dengan demikianlah nafsuku membujukku. Tidak ada yang memaksanya berkata begitu. Allah merekam pengakuan itu tanpa komentar, dan pengakuan yang keluar dari mulut pelakunya sendiri tak menyisakan apa pun untuk dibantah.
  • Apa yang ia lihat dan apa isi genggamannya tidak dirinci sama sekali. Ceritanya dibiarkan bercelah. Yang penting dalam ayat ini rupanya bukan bagaimana ia melakukannya, melainkan mengapa.
  • Ia membuka dengan mengaku melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Allah merekam kalimat pembuka itu utuh. Merasa melihat yang tak dilihat orang banyak memang sering jadi pintu pertama sebelum seseorang merasa boleh mengerjakan yang tak dikerjakan orang.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

ayat verba/nomina smE-bSr non-sebutan: pemakaian diteruskan terjemahan lain (mendengar/melihat/pendengaran/penglihatan konsisten); pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y.