فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Tinggilah Allah, Sang Raja Yang Nyata. Janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum selesai pewahyuannya kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّfa-ta'aalaa llaahu l-maliku l-haqqutinggilah Allah, Sang Raja Yang Nyata
- وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُwa-laa ta'jal bi-l-qur'aani min qabli an yuqdhaa ilayka wahyuhujanganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum selesai pewahyuannya kepadamu
- وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًاwa-qul rabbi zidnii 'ilmandan katakanlah, ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku
Terjemahan per kata (17 kata)
- فَتَعَالَىfa-ta'aalaamaka Mahatinggi
- اللَّهُllaahuAllah
- الْمَلِكُl-malikuSang Raja
- الْحَقُّl-haqqukebenaran
- وَلَاwa-laadan janganlah
- تَعْجَلْta'jalengkau tergesa
- بِالْقُرْآنِbi-l-qur'aanipada Al-Qur'an
- مِنْmindari
- قَبْلِqablisebelum
- أَنْanbahwa
- يُقْضَىٰyuqdhaadiputuskan
- إِلَيْكَilaykakepadamu
- وَحْيُهُwahyuhuwahyunya
- وَقُلْwa-quldan katakanlah
- رَبِّrabbiTuhan
- زِدْنِيzidniitambahkanlah kepadaku
- عِلْمًا'ilmanpengetahuan
Inti bacaan
Instruksi penting bagi penerima wahyu: 'janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum selesai pewahyuannya' disertai doa yang indah: 'Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku', kesabaran menerima proses secara utuh dipasangkan dengan sikap terus-menerus haus akan pengetahuan lebih lanjut. Konkretnya: menahan diri dari ketergesaan memahami sesuatu secara sepotong-sepotong (sebelum informasi lengkap tersedia) dipasangkan dengan sikap rendah hati terus memohon pengetahuan lebih lanjut adalah kombinasi kebijaksanaan yang bisa diterapkan dalam proses belajar apa pun.
Penjelasan pilihan kata
'Tinggilah' (ta'aalaa): akar yang sama dengan aliyy/ulaa yang dipertahankan tanpa 'Maha' di seluruh teks, kini dalam bentuk kata kerja doa/seruan; dijaga konsisten dengan seluruh keluarga akar ini, bukan diperlakukan sebagai pengecualian.
Tafsiran
Ayat ini memuat instruksi penting tentang adab menerima wahyu: jangan tergesa-gesa sebelum penyampaian selesai, diikuti doa permintaan tambahan ilmu, bukan klaim sudah cukup tahu.
Renungan dan Hikmah
- Larangan وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ tak ada duanya, tetapi larangan sejenisnya muncul sekali lagi dengan gambaran yang lebih ragawi: 75:16 menyebut “janganlah engkau menggerakkan lidahmu karenanya untuk tergesa-gesa dengannya”. Yang di sana dilarang gerak tubuhnya, yang di sini dilarang mendahului prosesnya. Doa penutupnya, رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا, juga sekali saja muncul, dan tak satu pun tokoh lain dalam Quran tercatat meminta hal itu.
- Rangkaian pembukanya, فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ, berulang hampir persis di 23:116, dan di sana ia berdiri di penghujung surah, disusul penegasan tiada tuhan selain Dia. Di sini ia justru membuka, lalu disusul dua hal yang berkaitan dengan pembacanya sendiri: jangan tergesa, dan mintalah tambahan ilmu. Kalimat yang di satu tempat menutup pembicaraan tentang Allah, di sini membuka pembicaraan tentang cara menerima.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
kata-kata akar -l-m di ayat ini (mengetahui/ilmu/mengajarkan/lebih-mengetahui) mengikuti profil terjemahan lain yang sudah selaras; orang-kedua ayat ini murni 2MS/2FS, '-mu/engkau' terjemahan lain SAH. Konvensi lm: C1 aliim diterjemahkan 'berilmu', C2 aalamiin diterjemahkan 'seisi alam', C3 verba/nomina = pemakaian diteruskan terjemahan lain (selaras).