Ayat 20:124

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit, dan Kami kumpulkan ia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيwa-man a'radha 'an dzikriidan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku
  2. فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًاfa-inna lahu ma'iisyatan dhankanmaka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit
  3. وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰwa-nahsyuruhu yawma l-qiyaamati a'maadan Kami kumpulkan ia pada hari Kiamat dalam keadaan buta

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. وَمَنْwa-mandan orang yang
  2. أَعْرَضَa'radhaberpaling
  3. عَنْ'andari
  4. ذِكْرِيdzikriiperingatan-Ku
  5. فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
  6. لَهُlahubaginya
  7. مَعِيشَةًma'iisyatanpenghidupan
  8. ضَنْكًاdhankansempit
  9. وَنَحْشُرُهُwa-nahsyuruhudan Kami mengumpulkannya
  10. يَوْمَyawmahari
  11. الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
  12. أَعْمَىٰa'maabuta

Inti bacaan

Konsekuensi bagi yang memilih berpaling: 'kehidupan yang sempit. dikumpulkan dalam keadaan buta', pilihan mengabaikan peringatan berdampak pada kualitas hidup yang dijalani sekarang, bukan hanya konsekuensi yang tertunda di masa depan.

Penjelasan pilihan kata

'Peringatan-Ku' (dzikrii): facet inti yang sama dengan seluruh kemunculan dzikr sepanjang surah ini. 'Buta' di sini tidak dirinci lebih jauh apakah literal atau metaforis oleh ayat ini sendiri: kejelasannya baru muncul dari respons orang tersebut di ayat berikutnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup pidato ilahi yang dimulai di 20:123 dengan konsekuensi bagi yang berpaling: dua akibat yang disebut berurutan, satu di dunia (kehidupan sempit) dan satu di akhirat (dikumpulkan buta).

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut siapa yang berpaling dari peringatan-Nya mendapat kehidupan yang sempit. Di dunia, bukan nanti. Akibatnya sudah berjalan sebelum hari perhitungan.
  • Kata yang dipakai sempit, bukan kekurangan. Yang digambarkan rasa, bukan jumlah. Kelapangan dan banyaknya harta ternyata dua hal yang bisa berpisah.
  • Allah menyebut ia dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Berpasangan dengan berpalingnya. Yang tak dipakai untuk melihat peringatan digambarkan tak ada lagi di sana.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar '-r-d, dz-k-r, '-y-sh, d-n-k, h-sh-r, y-w-m, q-w-m, '-m-y): a'rada an dhikrii diterjemahkan 'berpaling dari peringatan-Ku' (akar '-r-d + akar dz-k-r); ma'iishah dank diterjemahkan 'kehidupan yang sempit' (akar '-y-sh + akar d-n-k); nahshuruhu a'maa diterjemahkan 'mengumpulkannya buta' (akar h-sh-r + akar '-m-y). Selaras.

Ayat 20:125

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا

Ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal sungguh dahulu aku dapat melihat?”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰqaala rabbi li-ma hasyartanii a'maaia berkata, ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta
  2. وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًاwa-qad kuntu bashiiranpadahal sungguh dahulu aku dapat melihat

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. رَبِّrabbiTuhan
  3. لِمَli-mamengapa
  4. حَشَرْتَنِيhasyartaniiEngkau mengumpulkanku
  5. أَعْمَىٰa'maabuta
  6. وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
  7. كُنْتُkuntuaku adalah
  8. بَصِيرًاbashiiranmelihat

Inti bacaan

Pertanyaan protes yang jujur: 'mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?', kebingungan dan keberatan yang diungkapkan terus terang terhadap konsekuensi yang dialami, sebuah dialog yang jujur meski di tengah situasi yang sulit.

Penjelasan pilihan kata

'Dapat melihat' (basiiran): protes orang ini menegaskan bahwa ia dahulu memiliki penglihatan normal, membuka pertanyaan tentang jenis kebutaan apa yang dimaksud, yang akan dijawab di ayat berikutnya.

Tafsiran

Protes ini wajar secara manusiawi: seseorang yang dulu bisa melihat dengan normal mempertanyakan kebutaan yang tiba-tiba menimpanya, sebuah pertanyaan yang segera dijawab dengan penjelasan yang mengubah pemahaman tentang apa yang sebenarnya dimaksud.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam ia mengeluh kepada Tuhannya, bukan kepada siapa pun yang lain. Keluhan itu diajukan pada alamat yang benar. Bahkan di tempat itu, yang tersisa adalah menghadap.
  • Yang ia bandingkan keadaan dahulu: aku dapat melihat. Perbandingan itu yang menyakitkan. Kehilangan terasa paling berat oleh yang pernah memilikinya.
  • Allah menjawabnya di ayat berikutnya dengan menyebut ia dahulu melupakan tanda-tanda-Nya. Butanya sekarang berpasangan dengan lupanya dahulu. Yang tidak dipakai untuk melihat ternyata dihitung sebagai buta lebih dahulu.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

sebutan diterjemahkan 'melihat' per takrif corpus; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y.