قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا
Ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal sungguh dahulu aku dapat melihat?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰqaala rabbi li-ma hasyartanii a'maaia berkata, ya Tuhanku, mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta
- وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًاwa-qad kuntu bashiiranpadahal sungguh dahulu aku dapat melihat
Terjemahan per kata (8 kata)
- قَالَqaalaberkata
- رَبِّrabbiTuhan
- لِمَli-mamengapa
- حَشَرْتَنِيhasyartaniiEngkau mengumpulkanku
- أَعْمَىٰa'maabuta
- وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
- كُنْتُkuntuaku adalah
- بَصِيرًاbashiiranmelihat
Inti bacaan
Pertanyaan protes yang jujur: 'mengapa Engkau mengumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?', kebingungan dan keberatan yang diungkapkan terus terang terhadap konsekuensi yang dialami, sebuah dialog yang jujur meski di tengah situasi yang sulit.
Penjelasan pilihan kata
'Dapat melihat' (basiiran): protes orang ini menegaskan bahwa ia dahulu memiliki penglihatan normal, membuka pertanyaan tentang jenis kebutaan apa yang dimaksud, yang akan dijawab di ayat berikutnya.
Tafsiran
Protes ini wajar secara manusiawi: seseorang yang dulu bisa melihat dengan normal mempertanyakan kebutaan yang tiba-tiba menimpanya, sebuah pertanyaan yang segera dijawab dengan penjelasan yang mengubah pemahaman tentang apa yang sebenarnya dimaksud.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam ia mengeluh kepada Tuhannya, bukan kepada siapa pun yang lain. Keluhan itu diajukan pada alamat yang benar. Bahkan di tempat itu, yang tersisa adalah menghadap.
- Yang ia bandingkan keadaan dahulu: aku dapat melihat. Perbandingan itu yang menyakitkan. Kehilangan terasa paling berat oleh yang pernah memilikinya.
- Allah menjawabnya di ayat berikutnya dengan menyebut ia dahulu melupakan tanda-tanda-Nya. Butanya sekarang berpasangan dengan lupanya dahulu. Yang tidak dipakai untuk melihat ternyata dihitung sebagai buta lebih dahulu.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
sebutan diterjemahkan 'melihat' per takrif corpus; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y.