وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Kami tidak mengutus sebelummu melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka, bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْwa-maa arsalnaa qablaka illaa rijaalan nuuhii ilayhimKami tidak mengutus sebelummu melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka
  2. فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَfa-s'aluu ahla dz-dzikri in kuntum laa ta'lamuunamaka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  3. قَبْلَكَqablakasebelummu
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. رِجَالًاrijaalanpara lelaki
  6. نُوحِيnuuhiiKami wahyukan
  7. إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
  8. فَاسْأَلُواfa-s'aluumaka tanyakanlah kalian
  9. أَهْلَahlaahli
  10. الذِّكْرِdz-dzikriperingatan
  11. إِنْinjika
  12. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  13. لَاlaatidak
  14. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Semua rasul sebelumnya adalah 'beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu', manusia biasa penerima wahyu, bukan makhluk luar biasa; maka solusi bagi yang tidak tahu adalah 'bertanyalah kepada orang yang berilmu.' Konkretnya: jangan berpura-pura tahu di bidang yang bukan keahlianmu, kerendahan hati epistemik berarti secara aktif mencari dan bertanya kepada yang benar-benar menguasai, bukan menebak atau berasumsi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menjawab keberatan yang diajukan beberapa ayat sebelumnya, yaitu keheranan bahwa yang diutus ternyata manusia biasa.

Jawabannya tidak membantah kemanusiaan itu. Ia justru menegaskannya: yang diutus sebelum ini pun manusia yang diberi wahyu. Keluarbiasaannya tidak pernah terletak pada dirinya, melainkan pada apa yang dititipkan kepadanya. Menuntut utusan yang bukan manusia berarti menuntut sesuatu yang belum pernah terjadi, lalu menjadikan ketiadaannya sebagai alasan menolak.

Jalan keluar yang diberikan cuma satu kalimat, yaitu bertanyalah kepada “orang yang berilmu” (أَهْلَ الذِّكْرِ, ahla dz-dzikri). Sebutan itu muncul dua kali saja di dalam Al-Qur'an (16:43, 21:7), dan di kedua tempat itu ia dipakai untuk hal yang sama: mengarahkan orang yang meragukan pola kenabian agar memeriksa catatan umat sebelumnya.

Perintah itu diberi syarat, “jika kalian tidak mengetahui”. Syarat itu penting. Yang diminta bukan menyerahkan penilaian selamanya kepada orang lain, melainkan bertanya selama belum tahu. Bertanya di sini adalah langkah menuju mengetahui, bukan pengganti mengetahui.

Jawaban ini bukan jawaban sekali pakai. Rangkaian “beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka” (رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ, rijaalan nuuhii ilayhim) muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (12:109, 16:43, 21:7). Ketiganya menjawab keberatan yang sama, yaitu keheranan bahwa yang diutus ternyata manusia. Sebuah keberatan yang diulang tiga kali dijawab tiga kali dengan kalimat yang hampir sama persis, dan pengulangan itu sendiri menerangkan bahwa keberatannya memang lekat.

Yang perlu diperhatikan, jawabannya tidak berupa bukti melainkan pola. Tidak dikatakan bahwa utusan ini benar karena ini dan itu; yang dikatakan bahwa begitulah caranya selama ini. Menuntut sesuatu yang belum pernah terjadi lalu menjadikan ketiadaannya sebagai alasan menolak adalah bentuk penolakan yang tidak bisa dipuaskan oleh apa pun, sebab syaratnya disusun agar tak terpenuhi.

Kata yang dipakai untuk pihak yang harus ditanya juga tidak menyebut nama. Yang disebut “orang yang berilmu” (أَهْلَ الذِّكْرِ, ahla dz-dzikri), dan di dua tempat lain sebutan itu dipakai untuk keperluan yang sama. Yang diwariskan bukan daftar orang, melainkan ukuran untuk menilai siapa yang layak ditanya.

Syarat yang menutup perintah itu perlu dibaca sebagai bagian dari perintahnya, bukan sebagai tambahan. Bertanya diperintahkan selama seseorang belum tahu, dan dengan begitu bertanya diletakkan sebagai langkah di dalam perjalanan menuju tahu, bukan sebagai tempat berhenti. Perintah yang diberi syarat seperti itu tidak bisa dipakai untuk membenarkan penyerahan penilaian selamanya kepada orang lain.

Tafsiran

Ayat ini menjawab langsung keheranan tentang kemanusiaan para rasul (21:3), bukan hal baru, melainkan pola yang konsisten sepanjang sejarah, dan mereka yang meragukan diarahkan untuk memeriksa sendiri catatan sejarah itu. Cara menjawabnya yang paling patut diperhatikan: keberatan itu tidak dibantah, melainkan dibenarkan.

Yang diutus memang manusia. Ayat ini tidak menyangkalnya sedikit pun. Yang dipersoalkan bukan kenyataannya, melainkan kesimpulan yang ditarik darinya. Sebuah bantahan yang menerima kenyataan lawan lalu menolak kesimpulannya berdiri di tanah yang lebih kokoh daripada bantahan yang menyangkal kenyataannya.

Bentuk jawabannya pun bukan bukti melainkan pola, dan pilihan itu masuk akal. Terhadap orang yang menuntut sesuatu yang belum pernah ada, bukti apa pun tidak akan cukup, sebab syaratnya memang disusun agar tak terpenuhi. Yang bisa dilakukan hanya menunjukkan bahwa syarat itu tidak pernah menjadi syarat, dan itulah yang dikerjakan ayat ini dengan menyebut apa yang selama ini terjadi.

Jalan keluar yang ditawarkan di penutupnya sederhana sampai hampir terlewat, yaitu bertanya kepada yang tahu. Yang membuatnya tidak menjadi ajakan taklid adalah syarat yang menyertainya: perintah itu berlaku selama seseorang belum tahu. Bertanya diletakkan sebagai langkah menuju mengetahui, bukan sebagai penggantinya. Ukuran ini juga dipakai di 16:43 dengan kalimat yang hampir sama, dan pengulangan di dua surah membuatnya terbaca sebagai kaidah, bukan jawaban sekali pakai.

Renungan dan Hikmah

  • Jalan keluar yang diberikan Allah bagi yang tidak tahu cuma satu kalimat: bertanyalah kepada orang yang berilmu. Sederhana, dan hampir tak pernah dijalankan. Yang menahan orang bertanya biasanya bukan tidak tahu kepada siapa, melainkan tidak bersedia terlihat belum tahu. Perintah yang sama muncul lagi di 16:43 dengan susunan kalimat yang hampir sama pula, dan di kedua tempat itu ia menjawab keberatan yang sama.
  • Allah memberi syarat pada perintah itu: 'jika kalian tidak mengetahui'. Ia tidak menuntut siapa pun menyerahkan penilaiannya selamanya. Yang diminta satu pengakuan kecil di tempat yang tepat, dan pengakuan itulah yang paling sering dihindari orang. Syarat itu bekerja dua arah. Ia juga membatasi kedudukan yang ditanya, sebab yang ditanya cuma diletakkan sebagai jalan menuju tahu, bukan sebagai pemilik jawaban.
  • Yang diutus disebut manusia biasa yang diberi wahyu. Keluarbiasaannya bukan pada dirinya, melainkan pada apa yang dititipkan kepadanya. Menuntut utusan yang bukan manusia berarti menuntut sesuatu yang tak pernah terjadi sekali pun sepanjang yang mereka ketahui sendiri. Kalimatnya disusun sebagai pengecualian: tidak ada yang lain, kecuali yang ini. Bentuk seperti itu menutup kemungkinan lain sejak kalimatnya belum selesai.
  • Allah menyuruh bertanya kepada orang yang berilmu, tetapi memberi syarat jika kalian tidak mengetahui. Kalau bertanya itu langkah menuju mengetahui dan bukan penggantinya, di titik mana kita berhenti bertanya lalu mulai sekadar mengikuti? Pertanyaan itu jarang diputuskan sekali seumur hidup. Ia diputuskan ulang setiap kali ada perkara baru yang belum pernah kita periksa. Yang berat bukan pertanyaan pertamanya, melainkan pertanyaan kelima puluh, ketika bertanya sudah tidak lagi terasa sebagai kerendahan hati melainkan sebagai pengakuan bahwa kita memang belum sampai.
  • Sebutan أَهْلَ الذِّكْرِ muncul persis dua kali di seluruh Al-Quran, di 16:43 dan di ayat ini, dan dua-duanya berdiri di tempat yang sama dalam alur pembicaraan. Keduanya menjawab keberatan bahwa utusan Allah seharusnya bukan manusia biasa. Jawabannya bukan penjelasan panjang tentang hakikat kenabian, melainkan sebuah rujukan: tanyakan kepada yang menyimpan catatan umat terdahulu. Keberatan yang terdengar besar dijawab dengan pekerjaan yang sangat sederhana, yaitu memeriksa apa yang sudah pernah terjadi.
  • Allah tidak menyusun kalimat ini sebagai anjuran yang boleh diambil boleh tidak. Ia kata kerja perintah, sama bentuknya dengan perintah lain dalam kitab ini. Artinya menahan diri dari bertanya bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan meninggalkan sesuatu yang diperintahkan. Orang biasanya merasa aman karena tidak berbuat salah, padahal diam di depan perkara yang tidak dipahami juga sebuah tindakan. Dan tindakan itu punya akibat yang menumpuk pelan-pelan, karena keliru yang tidak pernah ditanyakan akan diwariskan kepada orang berikutnya sebagai kebenaran.