لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ
Sekiranya pada keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa; maka Mahasuci Allah, Tuhan pemilik Arasy, dari apa yang mereka sifatkan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَاlaw kaana fiihimaa aalihatun illaa llaahu la-fasadataasekiranya pada keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa
- فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَfa-subhaana llaahi rabbi l-'arsyi 'ammaa yashifuunamaka Mahasuci Allah, Tuhan pemilik Arasy, dari apa yang mereka sifatkan
Terjemahan per kata (13 kata)
- لَوْlawsekiranya
- كَانَkaanaadalah
- فِيهِمَاfiihimaapada keduanya
- آلِهَةٌaalihatuntuhan-tuhan
- إِلَّاillaakecuali
- اللَّهُllaahuAllah
- لَفَسَدَتَاla-fasadataasungguh keduanya akan rusak
- فَسُبْحَانَfa-subhaanamaka Mahasuci
- اللَّهِllaahiAllah
- رَبِّrabbiTuhan
- الْعَرْشِl-'arsyiArasy
- عَمَّا'ammaadari apa yang
- يَصِفُونَyashifuunamereka sifatkan
Inti bacaan
Argumen kosmologis 'sekiranya pada keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa' menunjukkan keteraturan alam semesta sebagai bukti otoritas tunggal, bukan otoritas yang terbagi dan saling bersaing. Konkretnya: dalam struktur apa pun yang kau pimpin atau ikuti, waspadai pola otoritas ganda tanpa kejelasan siapa bertanggung jawab, itu resep kekacauan, sama seperti argumen ayat ini terhadap banyak tuhan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memuat argumen keteraturan kosmik: banyak tuhan yang berkuasa atas ranah yang sama akan meniscayakan benturan kehendak dan kekacauan, sebuah bukti rasional keesaan, bukan sekadar klaim yang harus diterima tanpa alasan. 'Mahasuci' dipertahankan sesuai konvensi terkunci untuk subhaana.
Tafsiran
Argumen ini adalah salah satu penalaran logis paling langsung dalam Al-Qur'an untuk keesaan Tuhan: jika langit dan bumi tetap teratur dan tidak binasa, itu sendiri adalah bukti bahwa tidak ada lebih dari satu kehendak tertinggi yang mengaturnya, karena kehendak yang berbeda-beda akan saling bertabrakan.
Renungan dan Hikmah
- Argumen keesaan Tuhan di sini bukan klaim yang harus diterima atas dasar otoritas semata, melainkan penalaran logis: keteraturan yang bertahan pada langit dan bumi itu sendiri menjadi bukti tidak adanya lebih dari satu kehendak tertinggi yang saling bertentangan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar k-w-n, a-l-h, f-s-d, s-b-h, r-b-b, '-r-sh, w-s-f): law kaana fiihimaa aalihah illaa llaah la-fasadataa diterjemahkan 'sekiranya ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu (langit & bumi) binasa', argumen keteraturan kosmik (ilaah + akar f-s-d): banyak tuhan meniscayakan kekacauan diterjemahkan bukti rasional keesaan; yasifuun diterjemahkan 'menyifatkan' (akar w-s-f). gloss '(langit dan bumi)' dibuang.