وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ
Dan Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelummu; maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَwa-maa ja'alnaa li-basyarin min qablika l-khuldadan Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelummu
- أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَa-fa-in mitta fahumu l-khaaliduunamaka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- جَعَلْنَاja'alnaaKami menjadikan
- لِبَشَرٍli-basyarinbagi manusia
- مِنْmindari
- قَبْلِكَqablikasebelummu
- الْخُلْدَl-khuldakekekalan
- أَفَإِنْa-fa-inmaka apakah jika
- مِتَّmittaengkau mati
- فَهُمُfahumumaka mereka
- الْخَالِدُونَl-khaaliduunaorang-orang yang kekal
Inti bacaan
'Kami tidak menjadikan keabadian bagi seorang manusia pun sebelummu', bahkan Nabi sendiri fana; pertanyaan 'apakah mereka akan kekal?' menegaskan tidak ada pengecualian. Konkretnya: jangan menaruh harapan dan rasa aman utamamu pada kelanggengan sosok manusia mana pun, betapa pun dihormati, kefanaan itu universal, maka arahkan kepercayaanmu pada yang benar-benar tidak fana.
Penjelasan pilihan kata
'Keabadian' (khuld): akar yang sama dengan 'kekal' (khaaliduun) yang dominan di seluruh teks, kini ditegaskan secara eksplisit bahwa tidak satu manusia pun, termasuk para nabi, pernah diberikan keabadian.
Tafsiran
Pertanyaan retoris ini menjawab kekhawatiran tersirat tentang kefanaan Nabi: kematiannya bukan sesuatu yang aneh atau tak terduga, melainkan nasib yang sama dengan setiap manusia sebelumnya tanpa kecuali.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tidak seorang manusia pun sebelumnya diberi keabadian. Termasuk para nabi. Sebuah keterangan yang tidak menyisakan pengecualian menutup harapan yang diam-diam digantungkan orang pada sosok tertentu.
- Pertanyaan yang menyusul apakah mereka akan kekal. Perkaranya dibalik ke penanya. Orang yang mempersoalkan kefanaan orang lain diminta lebih dahulu memeriksa kefanaan dirinya sendiri.
- Yang dibantah Allah bukan bahwa ia akan wafat, melainkan anggapan bahwa wafatnya sesuatu yang ganjil. Kefanaan itu justru ditegaskan. Yang diluruskan bukan kenyataannya, melainkan harapan yang dipasang orang di atasnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar j-'-l, b-sh-r, q-b-l, kh-l-d, m-w-t): bashar diterjemahkan 'manusia' (akar b-sh-r, Nabi pun fana); khuld diterjemahkan 'keabadian' (akar kh-l-d); mitta diterjemahkan 'engkau wafat' (akar m-w-t); khaaliduun diterjemahkan 'kekal' (akar kh-l-d). gloss '(Nabi Muhammad)' dibuang.