كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ

Telah ditetapkan atasnya bahwa siapa yang menjadikannya wali, maka ia akan menyesatkannya dan menuntunnya ke azab yang menyala-nyala.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. كُتِبَ عَلَيْهِkutiba 'alayhitelah ditetapkan atasnya
  2. أَنَّهُ مَنْ تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُannahu man tawallaahu fa-annahu yudhilluhubahwa siapa yang menjadikannya wali, maka ia akan menyesatkannya
  3. وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِwa-yahdiihi ilaa 'adzaabi s-sa'iiridan menuntunnya ke azab yang menyala-nyala

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. كُتِبَkutibadiwajibkan
  2. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  3. أَنَّهُannahubahwa ia
  4. مَنْmanorang yang
  5. تَوَلَّاهُtawallaahumenjadikannya pelindung
  6. فَأَنَّهُfa-annahumaka sesungguhnya Dia
  7. يُضِلُّهُyudhilluhumenyesatkannya
  8. وَيَهْدِيهِwa-yahdiihidan Dia menunjukinya
  9. إِلَىٰilaake
  10. عَذَابِ'adzaabiazab
  11. السَّعِيرِs-sa'iiriapi yang menyala

Inti bacaan

Konsekuensi mengikuti pengaruh destruktif tersebut: 'ditetapkan. akan menyesatkannya dan menuntunnya ke azab yang menyala-nyala', pola sebab-akibat yang jelas antara memilih sumber pengaruh yang salah dan hasil akhir yang merugikan.

Penjelasan pilihan kata

'Menuntunnya' (yahdiihi): akar hdy yang sama dengan facet petunjuk positif di tempat lain, di sini dipakai secara ironis untuk 'petunjuk' setan menuju azab, sebuah pembalikan gelap dari makna yang biasanya positif.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan konsekuensi tetap bagi siapa pun yang menjadikan setan sebagai wali, bukan kemungkinan, melainkan ketetapan yang sudah pasti: kesesatan dan tuntunan menuju kehancuran.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut telah ditetapkan atasnya bahwa siapa yang menjadikannya wali akan disesatkan. Sudah tertulis. Yang berlaku bukan kemungkinan, melainkan aturan yang berjalan.
  • Dua kata kerja dipakai: menyesatkan dan menuntun ke azab. Berurutan. Yang menyesatkan tidak meninggalkan; ia mengantar sampai ke ujung.
  • Syarat yang Dia sebut menjadikannya wali. Bukan mendengarnya. Yang menentukan bukan datangnya bisikan, melainkan keputusan menjadikannya sandaran.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar k-t-b, w-l-y, d-l-l, h-d-y, '-dz-b, s-'-r): kutiba diterjemahkan 'ditetapkan (dituliskan)' (akar k-t-b); tawallaahu diterjemahkan 'menjadikannya wali (berteman)' (akar w-l-y); yudilluhu diterjemahkan 'menyesatkannya' (akar d-l-l); yahdiihi diterjemahkan 'menuntunnya' (akar h-d-y HDY, inversi gelap hidaayah: setan 'menuntun' ke neraka); sa'iir diterjemahkan 'yang menyala'. gloss '(setan)/(neraka)' dibuang.