أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.

Terjemahan bertahap (5 jeda)
  1. أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِa-fa-lam yasiiruu fii l-arditidakkah mereka berjalan di bumi
  2. فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَاfa-takuuna lahum quluubun ya'qiluuna bihaasehingga hati mereka dapat memahami
  3. أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَاaw aadzaanun yasma'uuna bihaaatau telinga mereka dapat mendengar
  4. فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُfa-innahaa laa ta'maa l-absaarusesungguhnya bukanlah mata itu yang buta
  5. وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِwa-laakin ta'maa l-quluubu llatii fii s-suduuritetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada
Catatan pilihan kata (ringkas)

ayat verba/nomina smE-bSr non-sebutan: passthrough terjemahan lain (mendengar/melihat/pendengaran/penglihatan konsisten); pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (probe 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (-amandemen: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = passthrough (cabang mata-hati didokumentasi). ⚠ Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y. Lih.. sebagian penerjemah: '(Have they not travelled in the earth and had hearts with which to reason, or ears with which to hear? of dariir'; glos ilahi: 'He who sees all things, both what are apparent and what are occult, WITHOUT ANY ORGAN'; cabang-2: 'endowed with mental perception'.

Aplikasi

Wawasan penting: 'bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada', kebutaan sejati bersifat spiritual/moral, bukan fisik, sebuah pembedaan yang mengundang refleksi tentang jenis penglihatan yang sesungguhnya penting. Konkretnya: membedakan antara kemampuan melihat secara fisik dan kemampuan 'melihat' secara spiritual/moral (memahami makna dan konsekuensi) membantu mengidentifikasi jenis kebutaan yang lebih berbahaya untuk diatasi.