يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

Wahai manusia, suatu perumpamaan telah dibuat, maka simaklah! Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk itu. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali darinya. Lemah yang menyembah dan yang disembah.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُyaa ayyuhaa n-naasu dhuriba matsalun fa-stami'uu lahuwahai manusia, suatu perumpamaan telah dibuat, maka simaklah
  2. إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُinna lladziina tad'uuna min duuni llaahi lan yakhluquu dzubaaban wa-lawi jtama'uu lahusesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk itu
  3. وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُwa-in yaslubhumu dz-dzubaabu syay'an laa yastanqidzuuhu minhujika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali darinya
  4. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُdha'ufa th-thaalibu wa-l-mathluubulemah yang menyembah dan yang disembah

Terjemahan per kata (29 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. النَّاسُn-naasumanusia
  4. ضُرِبَdhuribadibuat
  5. مَثَلٌmatsalunperumpamaan
  6. فَاسْتَمِعُواfa-stami'uumaka dengarkanlah kalian
  7. لَهُlahubaginya
  8. إِنَّinnasesungguhnya
  9. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  10. تَدْعُونَtad'uunakalian seru
  11. مِنْmindari
  12. دُونِduuniselain
  13. اللَّهِllaahiAllah
  14. لَنْlantidak akan
  15. يَخْلُقُواyakhluquumereka menciptakan
  16. ذُبَابًاdzubaabanlalat
  17. وَلَوِwa-lawidan sekiranya
  18. اجْتَمَعُواjtama'uumereka berkumpul
  19. لَهُlahubaginya
  20. وَإِنْwa-indan jika
  21. يَسْلُبْهُمُyaslubhumumerampas dari mereka
  22. الذُّبَابُdz-dzubaabulalat
  23. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  24. لَاlaatidak
  25. يَسْتَنْقِذُوهُyastanqidzuuhumereka merebutnya kembali
  26. مِنْهُminhudarinya
  27. ضَعُفَdha'ufalemah
  28. الطَّالِبُth-thaalibuyang mencari
  29. وَالْمَطْلُوبُwa-l-mathluubudan yang dicari

Inti bacaan

Perumpamaan lalat yang menohok: sesembahan palsu 'sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun. jika lalat itu merampas sesuatu, mereka tidak dapat merebutnya kembali', kelemahan ekstrem yang digambarkan melalui makhluk sekecil lalat menyingkap absurditas total dari pengabdian yang keliru.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini membuka dengan meminta perhatian, lalu menyodorkan perbandingan yang sengaja dibuat serendah mungkin.

Makhluk yang dipilih adalah “lalat” (ذُبَابًا, dzubaaban), dan kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Pilihannya bukan gajah, bukan gunung, bukan langit. Yang hendak ditunjukkan bukan betapa jauh jaraknya, melainkan betapa rendah ambangnya. Kalau yang paling remeh pun tak sanggup dibuat, perbandingan dengan yang besar tak perlu lagi diajukan.

Lalu ditambahkan lapisan kedua yang lebih tajam. Bukan hanya tak sanggup membuat, melainkan juga tak sanggup merebut kembali apa yang dirampas lalat itu. Yang pertama soal mencipta, yang kedua soal mempertahankan. Ketidakmampuan yang kedua lebih memalukan, sebab merebut kembali tidak menuntut kuasa mencipta apa-apa.

Penutupnya menyebut “yang menyembah dan yang disembah” (الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ, ath-thaalibu wa-l-mathluubu) sama-sama lemah, dan pasangan kata itu pun hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Keduanya tidak dipisahkan. Orang yang bersandar pada sesuatu yang lemah ikut menanggung kelemahannya, sebab sandaran memang menentukan tegak tidaknya yang bersandar.

Kata kerja untuk ketidaksanggupan kedua itu tak terulang. Bentuk “merebutnya kembali” (يَسْتَنْقِذُوهُ, yastanqidzuuhu) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Akarnya berkaitan dengan menyelamatkan sesuatu dari genggaman. Yang digambarkan bukan gagal mengalahkan, melainkan gagal mengambil kembali sesuatu yang sudah diambil dari mereka.

Perbandingan antara dua ketidaksanggupan itu menaik, bukan menurun. Yang pertama menuntut kuasa mencipta, dan gagal di situ masih bisa dimaklumi. Yang kedua tidak menuntut apa-apa selain kekuatan biasa, dan gagal di situ tidak bisa dijelaskan dengan alasan apa pun. Susunan yang menaruh yang lebih memalukan di urutan kedua membuat perumpamaan ini bekerja dua tahap.

Perintah pembukanya pun perlu diperhatikan. Ayat ini dibuka dengan seruan kepada seluruh manusia, lalu menyuruh menyimak. Sebuah perumpamaan yang didahului permintaan perhatian secara eksplisit jarang ditemukan, dan permintaan itu masuk akal: perumpamaan yang memakai lalat mudah dianggap main-main kalau tidak didahului peringatan bahwa ia sungguh-sungguh.

Penutupnya menyamakan kedudukan dua pihak yang biasanya dianggap berbeda derajat. Yang menyembah dan yang disembah disebut sama-sama lemah, dan rangkaian kata itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Kalau sandaran menentukan tegaknya yang bersandar, maka kelemahan sandaran memang berpindah kepada yang menyandarkan diri padanya, dan penyamaan itu bukan penghinaan melainkan keterangan.

Tafsiran

Perumpamaan lalat ini adalah salah satu argumen paling tajam di dalam Al-Qur'an menentang penyembahan berhala: bukan hanya tidak mampu menciptakan, bahkan tidak mampu mempertahankan diri dari makhluk sekecil lalat, sebuah kelemahan ganda yang menimpa penyembah dan yang disembah sekaligus. Yang membuatnya bekerja adalah pilihan ambangnya.

Sebuah perbandingan bisa disusun dengan memperbesar jarak, misalnya dengan menyebut langit dan bumi. Di sini yang dilakukan sebaliknya, yaitu memperkecil ambang sampai serendah mungkin. Kalau yang paling remeh pun tak sanggup dibuat, maka perbandingan dengan yang besar tidak perlu lagi diajukan. Cara ini lebih telak daripada memperbesar jarak, sebab ia tidak menyisakan tingkatan.

Lapis keduanya menaik, bukan menurun. Tidak sanggup mencipta masih bisa dimaklumi, sebab mencipta memang menuntut kuasa. Tidak sanggup merebut kembali apa yang dirampas tidak menuntut apa-apa selain kekuatan biasa. Menaruh yang lebih memalukan di urutan kedua membuat perumpamaan ini menutup dua kemungkinan pembelaan sekaligus.

Penutupnya adalah bagian yang paling sulit dibaca tanpa berhenti. Yang menyembah dan yang disembah disebut sama-sama lemah, dan keduanya tidak dipisahkan. Pernyataan itu tidak berhenti pada benda yang disembah; ia berpindah kepada orang yang menyembahnya. Kalau sandaran menentukan tegaknya yang bersandar, maka memilih sandaran adalah juga memilih kadar ketegakan diri sendiri, dan pilihan itu berlaku jauh di luar perkara berhala.

Renungan dan Hikmah

  • Perumpamaan yang dipakai Allah seekor lalat. Bukan gajah atau gunung. Yang hendak ditunjukkan bukan besarnya jarak, melainkan bahwa jaraknya tetap sama besar meski diukur dengan yang paling kecil. Perumpamaan ini juga dibuka dengan perintah menyimak. Pendengarnya disiapkan lebih dahulu, seakan yang akan disampaikan berat, padahal isinya seekor binatang yang sehari-hari diusir tanpa dipikirkan.
  • Dua hal disebut: tidak sanggup menciptakan lalat, dan tidak sanggup merebut kembali apa yang dirampasnya. Yang kedua lebih telak. Tidak bisa mencipta masih bisa dimaklumi; tidak bisa mempertahankan diri sendiri tidak. Susunannya menurun, bukan menaik. Biasanya orang menyusun bukti dari yang ringan ke yang berat; di sini tuntutannya justru diturunkan terus sampai serendah mungkin, dan tetap tidak terpenuhi.
  • Penutupnya menyebut yang menyembah dan yang disembah sama-sama lemah. Allah tidak memisahkan keduanya. Orang yang bersandar pada sesuatu yang rapuh ikut menanggung rapuhnya, dan itu bagian yang paling jarang dihitung. Kalimat penutup itu tidak menyebut siapa yang dimaksud dengan yang menyembah. Ia dibiarkan terbuka, sehingga pembaca yang merasa tidak termasuk pun tidak punya alasan untuk merasa aman.
  • Allah memilih lalat, bukan gunung, lalu menambahkan bahwa merebut kembali pun tak sanggup. Kalau ambangnya sengaja diturunkan serendah itu dan tetap tak terlampaui, apa yang sebenarnya kita andalkan ketika kita bersandar pada sesuatu selain Dia? Yang kita andalkan biasanya tidak pernah diuji, sebab ia jarang diminta melakukan apa pun selain menemani kita merasa tenang. Yang diandalkan tanpa pernah diuji sebetulnya bukan sandaran, melainkan kebiasaan. Perumpamaan ini bekerja dengan cara menaruh sebuah ujian yang sangat kecil di depan sesuatu yang selama ini tidak pernah diminta membuktikan apa-apa. Ujian sekecil itu tidak dirancang untuk mempermalukan, melainkan untuk memperlihatkan ukuran yang sebenarnya.
  • Ayat ini memuat dua rangkaian yang masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Quran: ذُبَابًا dan الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ. Yang pertama nama binatang yang tidak disebut di mana pun lagi dalam kitab ini, dan yang kedua pasangan istilah yang juga tidak dipakai ulang. Perumpamaan ini memang dibangun dari bahan yang khusus dibuat untuknya. Allah tidak mengambil gambaran yang sudah tersedia lalu memakainya kembali; Dia menyusun satu yang baru, dan sesudah dipakai sekali, tidak dipakai lagi.
  • Ayat berikutnya menyebut bahwa mereka tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Kalimat itu bukan tambahan, melainkan kesimpulan dari perumpamaan yang baru saja diberikan. Akar perkaranya bukan kebodohan tentang lalat, melainkan kekeliruan dalam menakar Allah. Orang yang menakar-Nya terlalu kecil pasti akan menakar yang lain terlalu besar, dan dua kekeliruan itu selalu datang berpasangan. Perumpamaan tadi cuma membuat ukurannya kelihatan.