وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَ وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ

Dan sungguh Kami telah menciptakan di atas kalian tujuh jalan, dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ خَلَقْنَا فَوْقَكُمْ سَبْعَ طَرَائِقَwa-la-qad khalaqnaa fawqakum sab'a tharaa'iqadan sungguh Kami telah menciptakan di atas kalian tujuh jalan
  2. وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَwa-maa kunnaa 'ani l-khalqi ghaafiliinadan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. خَلَقْنَاkhalaqnaaKami ciptakan
  3. فَوْقَكُمْfawqakumdi atas kalian
  4. سَبْعَsab'atujuh
  5. طَرَائِقَtharaa'iqajalan-jalan
  6. وَمَاwa-maadan tidaklah
  7. كُنَّاkunnaaKami adalah
  8. عَنِ'aniterhadap
  9. الْخَلْقِl-khalqipenciptaan
  10. غَافِلِينَghaafiliinaorang-orang yang lalai

Inti bacaan

Penciptaan 'tujuh jalan' di atas manusia dipasangkan dengan jaminan: 'Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan', skala penciptaan yang luas tetap disertai perhatian yang detail dan berkelanjutan.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini berpindah dari penciptaan manusia ke sesuatu yang jauh lebih luas, lalu menutup dengan satu penegasan yang mengikat keduanya.

Yang disebut “tujuh jalan” (سَبْعَ طَرَائِقَ, sab'a tharaa'iqa), dan rangkaian itu hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Kata keduanya berarti jalan atau lapisan yang bertumpuk. Di dalam terjemahan ini kata itu dibiarkan sebagaimana bunyinya, tidak diganti menjadi tujuh langit. Pembacaan yang memastikannya sebagai lapisan langit adalah penafsiran yang sudah lama dikenal, tetapi ia bukan arti kata itu sendiri, dan ayatnya sendiri tidak menerangkannya.

Penahanan seperti ini bukan sikap ragu-ragu. Ia mengembalikan kepada pembaca apa yang memang tidak dijelaskan teksnya, alih-alih menyodorkan satu kesimpulan seolah-olah kesimpulan itu bagian dari ayatnya.

Penutupnya menyebut Dia tidak lengah terhadap ciptaan. Letaknya sesudah menyebut sesuatu yang jauh di atas manusia. Yang paling besar dan yang paling jauh pun tetap dalam perhatian, sehingga keluasan yang baru disebut tidak berarti keterlepasan.

Kata penutupnya berulang di beberapa tempat. Bentuk “lengah” (غَافِلِينَ, ghaafiliina) muncul delapan kali di dalam Al-Qur'an (6:156, 7:136, 7:146, 7:172, 7:205, 10:29, 12:3, 23:17). Di hampir semua tempat lain kata itu dipakai untuk keadaan manusia. Hanya di sini ia dipakai dalam bentuk penyangkalan terhadap Allah, sehingga kata yang biasanya menggambarkan kelalaian manusia dipakai untuk menyatakan ketiadaannya pada Yang menciptakan.

Perpindahan pemakaian itu bekerja sebagai perbandingan yang tak diucapkan. Manusia lengah terhadap tanda yang ada di depannya; Yang menciptakan tidak lengah terhadap ciptaan-Nya. Dua keadaan diletakkan pada satu kata, dan yang membedakan hanya penyangkalan.

Letak penyangkalan itu pun tepat sesudah penyebutan sesuatu yang jauh di atas manusia. Urutan itu menutup satu pembacaan yang mudah muncul, yaitu bahwa yang besar dan yang jauh berada di luar perhatian. Keluasan yang baru disebut tidak dijadikan alasan untuk keterlepasan; justru sesudah keluasan itu disebutlah bahwa tidak ada yang lepas dari perhatian.

Bagian pertama ayat ini sendiri memakai bentuk penegasan, yaitu sungguh Kami telah menciptakan. Penegasan biasanya dipakai untuk sesuatu yang diperdebatkan atau diragukan. Yang menarik, apa yang ditegaskan justru dibiarkan tanpa keterangan lebih lanjut. Ditegaskan bahwa ia ada, dan tidak dijelaskan apa ia sebenarnya, dan kedua hal itu berdiri dalam satu kalimat pendek. Yang ditegaskan keberadaannya, bukan bentuknya.

Tafsiran

Ayat ini beralih dari penciptaan manusia ke penciptaan yang lebih luas di atas manusia, disertai penegasan bahwa penciptaan ini tidak pernah luput dari perhatian. Dua bagiannya bergerak ke arah yang berlawanan, dan justru itu yang membuatnya bekerja.

Bagian pertama memperluas, bagian kedua mendekatkan. Sesudah perhatian pembaca dibawa ke sesuatu yang jauh di atasnya, ia dikembalikan dengan pernyataan bahwa tidak ada yang lepas dari perhatian. Keluasan dan kedekatan disebut dalam satu kalimat pendek, dan tidak ada kata yang mempertentangkan keduanya.

Yang paling menuntut kejujuran adalah bagian yang dibiarkan kosong. Apa yang disebut tujuh jalan itu tidak diterangkan. Pembacaan yang memastikannya sebagai lapisan langit sudah lama dikenal dan mungkin saja benar, tetapi ia bukan arti kata itu sendiri, dan ayat ini tidak memberikan keterangan apa pun tentangnya. Membiarkannya kosong bukan sikap ragu-ragu; ia mengembalikan kepada pembaca apa yang memang tidak diputuskan teksnya.

Kata yang dipakai di penutupnya berulang di tujuh tempat lain, dan di hampir semuanya ia menggambarkan keadaan manusia. Hanya di sini ia dipakai dalam bentuk penyangkalan terhadap Yang menciptakan. Satu kata, dua pemakaian yang berlawanan, dan perbandingannya tidak perlu diucapkan: manusia lengah terhadap tanda yang ada tepat di depan matanya, sementara yang menciptakan tanda itu tidak pernah lengah terhadap apa yang Ia ciptakan.

Renungan dan Hikmah

  • 'Tujuh jalan' dibiarkan tanpa penjelasan lebih lanjut oleh teks itu sendiri. Pembacaan yang memastikannya sebagai tujuh lapis langit berasal dari tradisi tafsir, bukan dari kata itu sendiri, kejujuran atas batas ini dijaga daripada memaksakan kepastian yang tidak dimiliki teks. Menahan diri seperti ini lebih mahal daripada kelihatannya, sebab pembaca umumnya menganggap keterangan yang tegas lebih bermutu daripada pengakuan tidak tahu.
  • Rangkaian tujuh jalan ini cuma sekali muncul di seluruh Al-Quran. Sekali saja. Dan Allah tidak menerangkan apa persisnya. Rangkaian yang dimaksud adalah سَبْعَ طَرَائِقَ. Tidak ada ayat kedua yang memakainya, sehingga tidak ada tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya dari dalam kitab ini sendiri.
  • Allah menutup dengan menyebut Dia tidak lengah terhadap ciptaan, tepat sesudah menyebut sesuatu yang jauh di atas manusia. Yang paling besar pun tetap dalam perhatian. Keluasan tidak berarti keterlepasan. Kalimat penutupnya وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ juga hanya muncul sekali di sini. Bagian yang menenangkan itu ternyata sama uniknya dengan bagian yang tidak diterangkan.
  • Allah menyebut tujuh jalan tanpa menerangkan apa persisnya, dan penutupnya justru menegaskan Dia tak lengah terhadap ciptaan. Ketika kita menemukan sesuatu yang tidak diterangkan, apa yang biasanya kita lakukan: menunggu, atau segera mengisinya dengan keterangan kita sendiri? Menunggu terasa seperti kekalahan, padahal ia satu-satunya sikap yang jujur ketika bahan untuk menyimpulkan memang belum ada. Mengisinya lebih cepat memang menenangkan, tetapi yang ditenangkan bukan perkaranya melainkan rasa tidak nyaman kita sendiri. Dan keterangan yang lahir dari rasa tidak nyaman hampir selalu lebih rapi daripada yang sebenarnya diketahui. Kerapian itu sendiri semestinya sudah menjadi tanda peringatan.
  • Ayat ini tersusun dari dua bagian yang keduanya tidak dipakai ulang di mana pun: سَبْعَ طَرَائِقَ pada awalnya dan وَمَا كُنَّا عَنِ الْخَلْقِ غَافِلِينَ pada penutupnya. Yang pertama menyebut sesuatu yang tidak bisa kita periksa, dan yang kedua menyebut sesuatu yang paling ingin kita pastikan. Keduanya diberikan tanpa pengulangan, tanpa ayat pendukung, tanpa uraian tambahan. Bagian yang gelap dan bagian yang terang sama-sama disampaikan sekali saja, dan pembaca diminta menerima keduanya dengan cara yang sama.
  • Sesudah menyebut sesuatu yang jauh di atas kepala manusia, Allah langsung berpindah ke air hujan yang diturunkan dengan ukuran tertentu lalu ditetapkan di bumi. Dari yang paling tidak terjangkau ke yang paling sehari-hari, tanpa jeda. Perpindahan seperti itu bukan kebetulan susunan. Ia memperlihatkan bahwa perhatian yang disebut pada penutup ayat ini bukan istilah yang mengambang, melainkan sesuatu yang bisa ditunjuk wujudnya: air yang turun tidak berlebih dan tidak berkurang, tepat pada takarannya.