Ayat 23:68

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ

Maka tidakkah mereka merenungkan firman itu, ataukah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka yang terdahulu?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَa-fa-lam yaddabbaruu l-qawlamaka tidakkah mereka merenungkan firman itu
  2. أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَam jaa'ahum maa lam ya'ti aabaa'ahumu l-awwaliinaataukah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka yang terdahulu

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. أَفَلَمْa-fa-lammaka tidakkah
  2. يَدَّبَّرُواyaddabbaruumereka merenungkan
  3. الْقَوْلَl-qawlaperkataan
  4. أَمْamatau
  5. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  6. مَاmaaapa yang
  7. لَمْlamtidak
  8. يَأْتِya'timendatangkan
  9. آبَاءَهُمُaabaa'ahumubapak-bapak mereka
  10. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Pertanyaan reflektif penting: 'tidakkah mereka merenungkan firman itu?', kegagalan menerima kebenaran sering berakar dari kurangnya perenungan mendalam, bukan ketiadaan akses terhadap pesan itu sendiri. Konkretnya: sebelum menolak sebuah gagasan atau kritik, memastikan sudah benar-benar merenungkannya secara mendalam (bukan menolak sekilas) adalah kejujuran intelektual yang perlu dilatih.

Penjelasan pilihan kata

'Yaddabbaruu' ('merenungkan', akar dbr): kata kerja yang menekankan perenungan mendalam atas kesatuan/koherensi suatu wacana, bukan sekadar mendengar sepintas.

Tafsiran

Pertanyaan retoris penutup rangkaian ini mengajukan dua kemungkinan: kegagalan mereka merenungkan pesan yang sampai, atau anggapan bahwa pesan ini datang tanpa acuan apa pun bagi leluhur mereka; keduanya sama-sama menyingkap bahwa penolakan bukan soal kurangnya bukti, melainkan kurangnya kesediaan merenungkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja yang dipakai di sini berbentuk يَدَّبَّرُوا, dan seluruh Quran cuma memuatnya dua kali: ayat ini dan 38:29. Dua-duanya menyoal hal yang sama dari arah berlawanan. Di 38:29 ia jadi alasan sebuah Kitab diturunkan, “supaya mereka menghayati tanda-tandanya”. Di sini ia jadi teguran karena tak dikerjakan. Bentuk sepupunya, يَتَدَبَّرُونَ, juga dua kali (4:82, 47:24), dan dua-duanya menyebut objeknya terang-terangan: Al-Qur'an. Ayat ini tidak, objeknya “firman itu” saja, tanpa nama.
  • Dalih pembanding yang ditawarkan ayat ini menarik justru karena ia diajukan sebagai kemungkinan yang setara: ataukah telah datang sesuatu yang belum pernah sampai kepada leluhur mereka. Rumusan “nenek moyang mereka yang terdahulu” tak muncul di tempat lain mana pun. Yang ditawarkan sebagai dua pilihan sebetulnya satu keengganan yang sama: kalau bukan karena tak direnungkan, tentu karena dianggap belum pernah ada presedennya. Dua-duanya alasan untuk tak memikirkan, bukan hasil memikirkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar d-b-r, q-w-l, j-y-a, a-t-y, a-b-w, a-w-l): yaddabbaruu l-qawl diterjemahkan 'merenungkan firman (perkataan)' (akar d-b-r + akar q-w-l), prinsip tadabbur: menelaah wacana Ilahi demi koherensinya, pilar metode (sepasang 4:82 a-fa-laa yatadabbaruuna l-qur'aan). Selaras.

Ayat 23:69

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ

Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, sehingga mereka mengingkarinya?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْam lam ya'rifuu rasuulahumataukah mereka tidak mengenal rasul mereka
  2. فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَfa-hum lahu munkiruunasehingga mereka mengingkarinya

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. أَمْamatau
  2. لَمْlamtidak
  3. يَعْرِفُواya'rifuumereka mengenal
  4. رَسُولَهُمْrasuulahumrasul mereka
  5. فَهُمْfa-hummaka mereka
  6. لَهُlahubaginya
  7. مُنْكِرُونَmunkiruunaorang-orang yang mengingkari

Inti bacaan

Pertanyaan lain yang mengungkap: 'Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka?', penolakan terhadap pembawa pesan yang sudah dikenal baik menunjukkan bahwa masalahnya bukan ketidaktahuan, melainkan penolakan yang disengaja.

Penjelasan pilihan kata

'Munkiruuna' ('mengingkari', akar nkr) menandai penolakan aktif, bukan sekadar ketidaktahuan, pertanyaan retoris ini justru menyiratkan jawaban sebaliknya: mereka mengenal rasul itu dengan baik.

Tafsiran

Pertanyaan ini melanjutkan rangkaian kemungkinan penyebab penolakan yang dimulai di 23:68: masing-masing pertanyaan retoris menyingkirkan satu alasan yang mungkin dipakai untuk membenarkan penolakan, menyisakan kesimpulan bahwa penolakan itu disengaja.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan ini adalah bagian dari rangkaian pertanyaan retoris (23:68-70) yang satu demi satu menyingkirkan alasan-alasan yang mungkin dipakai untuk membenarkan penolakan, menyisakan kesimpulan bahwa penolakan itu disengaja, bukan berdasar kekurangan informasi.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar '-r-f, r-s-l, n-k-r): ya'rifuu diterjemahkan 'mengenal' (akar '-r-f); munkiruun diterjemahkan 'mengingkari' (akar n-k-r). gloss '(Nabi Muhammad)' dibuang.

Ayat 23:70

أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ ۚ بَلْ جَاءَهُمْ بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

Ataukah mereka berkata, "Padanya ada kegilaan"? Padahal ia telah datang membawa kebenaran kepada mereka, tetapi kebanyakan mereka membenci kebenaran itu.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌam yaquuluuna bihi jinnatunataukah mereka berkata, padanya ada kegilaan
  2. بَلْ جَاءَهُمْ بِالْحَقِّbal jaa'ahum bi-l-haqqipadahal ia telah datang membawa kebenaran kepada mereka
  3. وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَwa-aktsaruhum li-l-haqqi kaarihuunatetapi kebanyakan mereka membenci kebenaran itu

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. أَمْamatau
  2. يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
  3. بِهِbihipadanya
  4. جِنَّةٌjinnatungila
  5. بَلْbalbahkan
  6. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  7. بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
  8. وَأَكْثَرُهُمْwa-aktsaruhumdan kebanyakan mereka
  9. لِلْحَقِّli-l-haqqipada kebenaran
  10. كَارِهُونَkaarihuunaorang-orang yang benci

Inti bacaan

Tuduhan 'kegilaan' dijawab tegas: 'ia telah datang membawa kebenaran. kebanyakan mereka membenci kebenaran itu', penyingkapan bahwa akar masalahnya adalah kebencian terhadap kebenaran itu sendiri, bukan kekurangan bukti.

Penjelasan pilihan kata

'Jinnatun' ('kegilaan', akar jnn): akar yang sama persis dengan tuduhan di 23:25 (dikonfirmasi morfologi), tuduhan yang berulang dari kaum berbeda terhadap pembawa pesan berbeda. 'Kaarihuuna' ('membenci', akar krh) menyingkap akar masalah sesungguhnya: bukan kekurangan bukti, melainkan kebencian terhadap kebenaran itu sendiri.

Tafsiran

Ayat ini membalikkan tuduhan kegilaan dengan kontras tajam: bukan pembawa pesan yang gila, melainkan kebanyakan orang yang justru membenci kebenaran yang dibawanya, sebuah pembalikan yang menempatkan masalah pada penerima, bukan pada pesan itu sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Tuduhan 'kegilaan' yang sama persis muncul lagi di sini seperti di 23:25, pola tuduhan yang berulang lintas kisah, menunjukkan ini bukan penilaian objektif terhadap pembawa pesan, melainkan reaksi standar yang dipakai berulang terhadap siapa pun yang menyampaikan pesan yang tidak disukai.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, j-n-n, j-y-a, h-q-q, k-ts-r, k-r-h): bihi jinnah diterjemahkan 'padanya kegilaan (kerasukan)' (akar j-n-n, selaras 23:25); bi-l-haqq diterjemahkan 'dengan kebenaran' (akar h-q-q); kaarihuun diterjemahkan 'membenci' (akar k-r-h), kebanyakan MEMBENCI kebenaran (tema kebenaran≠hawa-nafsu). gloss '(Nabi Muhammad)' dibuang.