أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ

Maka tidakkah mereka merenungkan firman itu, ataukah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka yang terdahulu?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَa-fa-lam yaddabbaruu l-qawlamaka tidakkah mereka merenungkan firman itu
  2. أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَam jaa'ahum maa lam ya'ti aabaa'ahumu l-awwaliinaataukah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka yang terdahulu

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. أَفَلَمْa-fa-lammaka tidakkah
  2. يَدَّبَّرُواyaddabbaruumereka merenungkan
  3. الْقَوْلَl-qawlaperkataan
  4. أَمْamatau
  5. جَاءَهُمْjaa'ahumdatang kepada mereka
  6. مَاmaaapa yang
  7. لَمْlamtidak
  8. يَأْتِya'timendatangkan
  9. آبَاءَهُمُaabaa'ahumubapak-bapak mereka
  10. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Pertanyaan reflektif penting: 'tidakkah mereka merenungkan firman itu?', kegagalan menerima kebenaran sering berakar dari kurangnya perenungan mendalam, bukan ketiadaan akses terhadap pesan itu sendiri. Konkretnya: sebelum menolak sebuah gagasan atau kritik, memastikan sudah benar-benar merenungkannya secara mendalam (bukan menolak sekilas) adalah kejujuran intelektual yang perlu dilatih.

Penjelasan pilihan kata

'Yaddabbaruu' ('merenungkan', akar dbr): kata kerja yang menekankan perenungan mendalam atas kesatuan/koherensi suatu wacana, bukan sekadar mendengar sepintas.

Tafsiran

Pertanyaan retoris penutup rangkaian ini mengajukan dua kemungkinan: kegagalan mereka merenungkan pesan yang sampai, atau anggapan bahwa pesan ini datang tanpa acuan apa pun bagi leluhur mereka; keduanya sama-sama menyingkap bahwa penolakan bukan soal kurangnya bukti, melainkan kurangnya kesediaan merenungkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja yang dipakai di sini berbentuk يَدَّبَّرُوا, dan seluruh Quran cuma memuatnya dua kali: ayat ini dan 38:29. Dua-duanya menyoal hal yang sama dari arah berlawanan. Di 38:29 ia jadi alasan sebuah Kitab diturunkan, “supaya mereka menghayati tanda-tandanya”. Di sini ia jadi teguran karena tak dikerjakan. Bentuk sepupunya, يَتَدَبَّرُونَ, juga dua kali (4:82, 47:24), dan dua-duanya menyebut objeknya terang-terangan: Al-Qur'an. Ayat ini tidak, objeknya “firman itu” saja, tanpa nama.
  • Dalih pembanding yang ditawarkan ayat ini menarik justru karena ia diajukan sebagai kemungkinan yang setara: ataukah telah datang sesuatu yang belum pernah sampai kepada leluhur mereka. Rumusan “nenek moyang mereka yang terdahulu” tak muncul di tempat lain mana pun. Yang ditawarkan sebagai dua pilihan sebetulnya satu keengganan yang sama: kalau bukan karena tak direnungkan, tentu karena dianggap belum pernah ada presedennya. Dua-duanya alasan untuk tak memikirkan, bukan hasil memikirkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar d-b-r, q-w-l, j-y-a, a-t-y, a-b-w, a-w-l): yaddabbaruu l-qawl diterjemahkan 'merenungkan firman (perkataan)' (akar d-b-r + akar q-w-l), prinsip tadabbur: menelaah wacana Ilahi demi koherensinya, pilar metode (sepasang 4:82 a-fa-laa yatadabbaruuna l-qur'aan). Selaras.