مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

Allah tidak mengambil seorang anak, dan tidak ada tuhan bersama-Nya. Jika demikian, niscaya setiap tuhan akan membawa apa yang diciptakannya, dan sebagian dari mereka akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍmaa ttakhadza llaahu min waladinAllah tidak mengambil seorang anak
  2. وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍwa-maa kaana ma'ahu min ilaahindan tidak ada tuhan bersama-Nya
  3. إِذًا لَذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَidzan la-dzahaba kullu ilaahin bi-maa khalaqajika demikian, niscaya setiap tuhan akan membawa apa yang diciptakannya
  4. وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍwa-la-'alaa ba'dhuhum 'alaa ba'dhindan sebagian dari mereka akan mengalahkan sebagian yang lain
  5. سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَsubhaana llaahi 'ammaa yashifuunaMahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan

Terjemahan per kata (24 kata)

  1. مَاmaatidaklah
  2. اتَّخَذَttakhadzamengambil
  3. اللَّهُllaahuAllah
  4. مِنْmindari
  5. وَلَدٍwaladinanak
  6. وَمَاwa-maadan tidaklah
  7. كَانَkaanaada
  8. مَعَهُma'ahubersamanya
  9. مِنْmindari
  10. إِلَٰهٍilaahintuhan
  11. إِذًاidzanjika demikian
  12. لَذَهَبَla-dzahabaniscaya pergi
  13. كُلُّkullusetiap
  14. إِلَٰهٍilaahintuhan
  15. بِمَاbi-maaapa yang
  16. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  17. وَلَعَلَاwa-la-'alaadan sungguh akan mengalahkan
  18. بَعْضُهُمْba'dhuhumsebagian mereka
  19. عَلَىٰ'alaaatas
  20. بَعْضٍba'dhinsebagian
  21. سُبْحَانَsubhaanaMahasuci
  22. اللَّهِllaahiAllah
  23. عَمَّا'ammaadari apa yang
  24. يَصِفُونَyashifuunamereka sifatkan

Inti bacaan

Argumen logis yang kuat menentang politeisme: jika ada banyak tuhan, 'setiap tuhan itu akan membawa apa yang diciptakannya dan sebagian akan mengalahkan sebagian yang lain', struktur kekuasaan yang terbagi secara inheren tidak stabil, mendukung kesimpulan keesaan yang tunggal.

Penjelasan pilihan kata

'Ittakhadza... waladin' ('mengambil seorang anak') dipertahankan literal, bukan 'mengangkat anak' yang dalam bahasa Indonesia secara spesifik berarti adopsi hukum, makna sempit yang tak sesuai konteks argumen teologis tentang keturunan ilahi. 'Wa-la-alaa ba'duhum alaa ba'din' ('sebagian akan mengalahkan sebagian yang lain', akar Elw) di sini bermakna 'mengungguli/menaklukkan' dalam konteks konflik hipotetis antar-tuhan, bukan bentuk doksologis ta'aalaa: dua penerapan akar yang sama namun kelas gramatikal sama sekali berbeda. 'Subhaana' ('Mahasuci') dipertahankan sesuai satu-satunya pengecualian terkunci dalam disiplin no-Maha proyek ini.

Tafsiran

Ayat ini menyajikan argumen logis yang ketat menentang gagasan banyak tuhan: jika ada lebih dari satu tuhan, konflik kepemilikan dan kekuasaan akan muncul secara inheren, setiap tuhan akan mengklaim ciptaannya sendiri dan bersaing untuk mendominasi yang lain. Ketertiban alam semesta yang teramati justru menjadi bukti keesaan, bukan sekadar klaim yang harus diterima tanpa alasan.

Renungan dan Hikmah

  • Argumen 'jika banyak tuhan, akan ada konflik dan dominasi di antara mereka' adalah argumen filosofis tentang struktur kekuasaan itu sendiri, kekuasaan yang terbagi secara inheren tidak stabil, bukan argumen berbasis wahyu semata, melainkan argumen yang bisa dipahami lewat penalaran tentang bagaimana kekuasaan bekerja.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

keluarga kbr/Elw: sebutan per takrif corpus ('besar'/'tinggi'; Sang bila takrif); istakbara diterjemahkan 'menyombongkan diri' & ta'aalaa (doksologi) pemakaian diteruskan; per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi kbr/Elw: kabiir diterjemahkan 'besar' (takrif 'Sang Besar'), aliyy diterjemahkan 'tinggi' (takrif 'Sang Tinggi'); formula al-'aliyyu l-kabiir diterjemahkan 'Sang Tinggi lagi Sang Besar' (22:62 dst.), kini beda dari al-'aliyyu l-'azhiim 2:255 'Sang Tinggi lagi Sang Agung'. Registri ukuran: besar=kabiir, agung='azhiim, tinggi='aliyy, luhur=majiid, mulia=kariim, digdaya='aziiz. ta'aalaa/muta'aal & hukm = sub-putusan belum diputuskan. keluarga memuat 'leluhur terbesar, atau tertua' (cabang usia). aliyy (-l-w): tinggi/exalted; a'laa = elatif.