حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang mereka, ia berkata, "Tuhanku, kembalikanlah aku,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُhattaa idzaa jaa'a ahadahumu l-mawtuhingga apabila kematian datang kepada salah seorang mereka
- قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِqaala rabbi rji'uuniia berkata, tuhanku, kembalikanlah aku
Terjemahan per kata (8 kata)
- حَتَّىٰhattaasampai
- إِذَاidzaaapabila
- جَاءَjaa'adatang
- أَحَدَهُمُahadahumusalah seorang mereka
- الْمَوْتُl-mawtukematian
- قَالَqaalaberkata
- رَبِّrabbiTuhan
- ارْجِعُونِrji'uunikembalikanlah aku
Inti bacaan
Adegan mengharukan saat kematian tiba: 'Tuhanku, kembalikanlah aku', permintaan kesempatan kedua yang muncul tepat di momen yang sudah terlambat, sebuah pengingat keras tentang pentingnya bertindak sekarang, bukan menunggu momen kritis.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membuka adegan baru dengan 'qaala' eksplisit: pergeseran dari doa Nabi (23:93-98) menuju kutipan ucapan orang yang sekarat, ditandai jelas oleh teks sendiri. 'Irji'uuni' ('kembalikanlah aku', akar rjE): permohonan kesempatan kedua yang diucapkan tepat pada momen yang sudah terlambat.
Tafsiran
Adegan ini beralih drastis dari doa-doa personal Nabi menuju momen universal yang dihadapi setiap orang: kematian, dan permohonan putus asa untuk kembali yang muncul tepat ketika sudah tidak mungkin lagi dikabulkan.
Renungan dan Hikmah
- Kata ارْجِعُونِ hanya sekali muncul di seluruh Quran, dan bentuknya janggal: ia jamak, “kembalikanlah aku” yang ditujukan kepada lebih dari satu pihak, padahal seruan yang mendahuluinya tunggal; “Tuhanku”. Satu napas memuat dua alamat sekaligus, dan yang jamak itu tak diterangkan ayat ini maupun sesudahnya. Permintaan itu diucapkan tanpa tahu pasti kepada siapa ia dialamatkan.
- Jawabannya datang di 23:100, dan bukan berupa penolakan lebih dulu melainkan penilaian atas ucapannya: “sekali-kali tidak, itu hanyalah perkataan yang ia ucapkan”. Yang dibantah bukan isi permintaannya, melainkan bobotnya, ia digolongkan sebagai kata-kata belaka. Ayat itu lalu menutup dengan بَرْزَخٌ, pembatas, yang cuma dua kali muncul: di sana, dan di 55:20 tentang dua laut yang tak saling melampaui. Kata yang di alam menandai batas air, di sini menandai batas yang tak bisa dilangkahi mundur.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar j-y-a, a-h-d, m-w-t, q-w-l, r-b-b, r-j-'): mawt diterjemahkan 'kematian' (akar m-w-t); irji'uun diterjemahkan 'kembalikanlah aku' (akar r-j-'). gloss '(Demikianlah keadaan…)/(ke dunia)' dibuang.