الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Perempuan pezina dan laki-laki pezina, cambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan, dan janganlah iba terhadap keduanya mencekam kalian dalam pertanggungjawaban Allah, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah hukuman atas keduanya disaksikan oleh segolongan orang-orang beriman.

Terjemahan bertahap (5 jeda)

  1. الزَّانِيَةُ وَالزَّانِيaz-zaaniyatu wa-z-zaaniiperempuan pezina dan laki-laki pezina
  2. فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍfa-jliduu kulla waahidin minhumaa mi'ata jaldatincambuklah masing-masing dari keduanya seratus kali cambukan
  3. وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِwa-laa ta'khudzkum bihimaa ra'fatun fii diini llaahidan janganlah iba terhadap keduanya mencekam kalian dalam pertanggungjawaban Allah
  4. إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِin kuntum tu'minuuna bi-llaahi wa-l-yawmi l-aakhirijika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir
  5. وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَwa-l-yasyhad 'adzaabahumaa thaa'ifatun mina l-mu'miniinadan hendaklah hukuman atas keduanya disaksikan oleh segolongan orang-orang beriman

Terjemahan per kata (26 kata)

  1. الزَّانِيَةُaz-zaaniyatuperempuan pezina
  2. وَالزَّانِيwa-z-zaaniidan laki-laki pezina
  3. فَاجْلِدُواfa-jliduumaka cambuklah kalian
  4. كُلَّkullasetiap
  5. وَاحِدٍwaahidinsatu
  6. مِنْهُمَاminhumaadari keduanya
  7. مِائَةَmi'ataseratus
  8. جَلْدَةٍjaldatincambukan
  9. وَلَاwa-laadan janganlah
  10. تَأْخُذْكُمْta'khudzkummenimpa kalian
  11. بِهِمَاbihimaapada keduanya
  12. رَأْفَةٌra'fatunbelas kasihan
  13. فِيfiidalam
  14. دِينِdiiniagama
  15. اللَّهِllaahiAllah
  16. إِنْinjika
  17. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  18. تُؤْمِنُونَtu'minuunakalian beriman
  19. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  20. وَالْيَوْمِwa-l-yawmidan hari
  21. الْآخِرِl-aakhiriakhir
  22. وَلْيَشْهَدْwa-l-yasyhaddan hendaklah menyaksikan
  23. عَذَابَهُمَا'adzaabahumaaazab keduanya
  24. طَائِفَةٌthaa'ifatunsegolongan
  25. مِنَminadari
  26. الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman

Inti bacaan

Larangan 'iba. mencegah kalian menjalankan pertanggungjawaban hukum Allah' menunjukkan bahwa rasa kasihan pribadi terhadap pelaku yang bersalah tidak boleh membatalkan penegakan keadilan yang sudah terbukti, sekaligus ayat berikutnya (24:4) menaruh bar pembuktian yang sangat tinggi agar hukum ini tidak disalahgunakan. Konkretnya: waspadai godaan melindungi kerabat atau teman dari akibat wajar perbuatan salah mereka yang sudah terbukti jelas, hanya karena kedekatan emosional.

Penjelasan pilihan kata

'Ra'fah' ('iba', akar rAf) dibedakan tegas dari rahmah ('pemberian', akar rHm), ra'fah adalah perasaan (kelembutan yang lebih halus dari rahmah), sementara rahmah adalah tindakan memberi; pembedaan ini didukung tata bahasa ayat ini sendiri: kata kerja 'ta'khudzkum' ('mencekam kalian') hanya masuk akal untuk sebuah perasaan yang menguasai seseorang, bukan untuk sebuah pemberian. 'Diini llaahi' ('pertanggungjawaban Allah', akar dyn): konsisten dengan konvensi terkunci proyek ini.

Tafsiran

Ayat ini menetapkan hukuman pertama dalam rangkaian hukum surah ini, sekaligus langsung memperingatkan agar perasaan iba pribadi tidak menghalangi penegakannya: sebuah keseimbangan antara kemanusiaan (perasaan diakui ada) dan ketegasan hukum (perasaan itu tidak boleh mendikte penerapan).

Renungan dan Hikmah

  • Larangan membiarkan iba mencekam pelaksanaan hukuman ini berdampingan langsung dengan syarat pembuktian yang sangat berat di ayat berikutnya (empat saksi), dua ayat ini bersama-sama menyeimbangkan ketegasan penegakan dengan bar pembuktian yang tinggi, bukan hukum yang mudah disalahgunakan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain 'rasa belas kasihan' pada dasarnya BENAR (ia menangkap perasaan), terjemahan ini menormalkannya ke 'iba' demi konsistensi lintas-ayat & menghindari tabrakan: 'kasihan' seakar dgn 'kasih' diterjemahkan bertabrakan dgn 'pengasih' (rahiim). Kandidat lain gugur: 'penyantun' (santun=adab, bukan perasaan, GAGAL di ayat ini: 'kesantunan mencekam kalian'?); 'belas' (mudah salah-baca 'BALAS', fatal justru di ayat DERA ini, sebab 'pembalasan' malah masuk akal & artinya KEBALIKAN); 'welas' (KBBI: welas='belas; KASIH', contohnya 'welas asih' diterjemahkan tabrakan resmi). 'agama (hukum) Allah' terjemahan lain diterjemahkan terjemahan ini 'pertanggungjawaban Allah' (konvensi diin). PALANG LOLOS TELAK utk akar r-a-f: 'wa laa TA'KHUDHKUM bihimaa ra'fatun fii diini llaah', ra'fah MENCEKAM/MENGAMBIL seseorang & menghalanginya menjalankan hukuman. 'Rahmat'/'pemberian' MUSTAHIL di sini: pemberian tak mencekam orang; hanya PERASAAN bisa. (Bandingkan rahmaan & g-f-r yang GAGAL palang, kejanggalan saja tak cukup.) 57:27 menguatkan dari arah lain: 'Kami tempatkan dalam HATI mereka ra'fatan wa rahmatan', keduanya BERSAMA, di hati diterjemahkan harus BEDA. Akibat lintas-akar: pasangan 'ra'uufun rahiim' (10 ayat) = 'penuh iba lagi pengasih' = PERASAAN dan TINDAKAN, bukan dua kata untuk satu makna, persis logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Ia juga MENGUATKAN temuan rahmah=pemberian dari arah yang bebas. terjemahan lain memakai 'Maha Pengasih' utk ra'uuf di 4 ayat, kata yang SAMA dipakainya utk rahmaan (53×) & rahiim (10×): tabrakan TIGA arah. Kalau berhenti di situ diterjemahkan sinonim, dan itu melanggar prinsip non-redundansi (10/13 ra'uuf berdampingan dgn rahiim). Dua entri, dua halaman diterjemahkan ra'fah memikul KELEMBUTAN, rahmah memikul PEMBERIAN. Corpus: ra'fatun = INDEF.