إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
kecuali mereka yang bertobat setelah itu dan memperbaiki diri; maka sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُواillaa lladziina taabuu min ba'di dzaalika wa-ashlahuukecuali mereka yang bertobat setelah itu dan memperbaiki diri
- فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌfa-inna llaaha ghafuurun rahiimunmaka sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (11 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- تَابُواtaabuubertobat
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- وَأَصْلَحُواwa-ashlahuudan memperbaiki
- فَإِنَّfa-innamaka sesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Pengecualian bagi 'mereka yang bertobat setelah itu dan memperbaiki diri' menunjukkan bahwa hukuman legal (24:4) bukanlah stempel identitas permanen, pintu pemulihan tetap terbuka bagi siapa pun yang sungguh berubah. Konkretnya: jangan memperlakukan kesalahan besar seseorang di masa lalu sebagai diskualifikasi abadi jika orang itu telah nyata-nyata bertobat dan memperbaiki diri, praktikkan kesediaan memberi kepercayaan ulang, bukan pengucilan permanen.
Penjelasan pilihan kata
'Ghafuurun rahiimun' ('pengampun lagi pengasih') dipertahankan tanpa 'Maha': bentuk tak-bertakrif, konsisten dengan registri gelar di seluruh teks ini; dua tindakan berbeda (menutupi dosa, memberi) bukan sinonim berulang.
Tafsiran
Pengecualian ini membuka jalan keluar bagi penuduh yang gagal membuktikan tuduhannya: hukuman kehilangan hak kesaksian bukan status permanen tanpa jalan kembali, selama disertai pertobatan dan perbaikan diri yang nyata.
Renungan dan Hikmah
- Rumusan تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا terpakai tiga kali, dan ketiganya menyusul perkara yang berat: 3:89 sesudah orang yang kufur seusai beriman, 16:119 sesudah orang yang berbuat buruk karena kebodohan, dan di sini sesudah tuduhan zina yang gagal dibuktikan. Kata “setelah itu” di ketiganya menunjuk ke belakang, ke perkara yang baru saja disebut, jadi yang ditawarkan bukan tobat pada umumnya, melainkan tobat tepat dari hal yang barusan divonis.
- Tobat di sini tak berdiri sendiri; ia selalu ditambah وَأَصْلَحُوا, “memperbaiki”. Sambungan itu terpakai lima kali (2:160, 3:89, 4:146, 16:119, 24:5), dan tak sekali pun tobat disebut cukup tanpa perbaikan yang menyusulnya. Perhatikan juga apa yang tidak dibatalkan ayat ini: 24:4 menjatuhkan dua hal, cambuk dan penolakan kesaksian selama-lamanya. Pengecualian ini datang sesudah keduanya, jadi yang dipulihkan kedudukan orangnya, bukan hukuman badannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.