وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ

Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, dan bahwa Allah penyambut tobat lagi penuh hikmah…

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُwa-lawlaa fadhlu llaahi 'alaykum wa-rahmatuhuseandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian
  2. وَأَنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌwa-anna llaaha tawwaabun hakiimundan bahwa Allah penyambut tobat lagi penuh hikmah

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَلَوْلَاwa-lawlaadan sekiranya tidak
  2. فَضْلُfadhlukarunia
  3. اللَّهِllaahiAllah
  4. عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
  5. وَرَحْمَتُهُwa-rahmatuhudan rahmat-Nya
  6. وَأَنَّwa-annadan bahwa
  7. اللَّهَllaahaAllah
  8. تَوَّابٌtawwaabunpenerima tobat
  9. حَكِيمٌhakiimunbijaksana

Inti bacaan

Penutup rangkaian li'an ini menegaskan bahwa yang mencegah kehancuran total rumah tangga akibat tuduhan berat bukan sekadar prosedur hukum, melainkan karunia dan rahmat Allah yang aktif, tawwaab berarti Dia sendiri bergerak kembali kepada hamba, bukan pasif menunggu. Konkretnya: dalam konflik rumah tangga yang menyakitkan, jangan hanya menunggu pihak lain mendekat lebih dulu, ambil inisiatif aktif untuk memperbaiki hubungan, meneladani pola 'bergerak menuju' ini, bukan menunggu pasif.

Penjelasan pilihan kata

'Tawwaabun' ('penyambut tobat', akar twb): dipertahankan dalam bentuk aktif-bergerak (Allah yang menyambut/berpaling-kembali), bukan pasif-menerima; perbedaan ini didukung ayat lain dalam Al-Qur'an yang menunjukkan gerakan-Nya mendahului tobat hamba. Ayat ini adalah kalimat pengandaian ('seandainya bukan karena...') yang secara gramatikal sengaja tidak menyebutkan akibatnya (pola retoris yang sama dengan 21:39), dipertahankan tanpa menyisipkan kelanjutan kalimat yang tak ada di teks Arab, ditandai dengan elipsis.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian mekanisme li'an dengan pengingat tentang karunia Allah yang menyelamatkan dari konsekuensi terberat: kalimat yang sengaja dibiarkan menggantung ini mengundang pembaca merenungkan sendiri seberapa berat akibat yang terhindarkan, tanpa dinyatakan eksplisit.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini berhenti sebelum menyebutkan akibatnya: 'seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya...'. Bagian yang hilang itu bukan kelalaian, melainkan ruang yang diserahkan kepada pembacanya. Akibat yang disebutkan akan selalu lebih kecil daripada yang dibayangkan sendiri oleh orang yang tahu apa yang nyaris terjadi padanya.
  • Rahmat di sini disebut bukan sebagai pengganti prosedur yang baru saja diatur, melainkan sesudahnya. Aturannya tetap berjalan sampai selesai. Yang dilakukan karunia Allah bukan membatalkan hukum, melainkan menjaga agar hukum tidak menjadi keseluruhan cerita.
  • Kalimat pengandaian ini mengukur apa yang kaupunya dengan membayangkan ketiadaannya. Cara berterima kasih yang tidak biasa, dan mungkin satu-satunya yang bekerja: nikmat yang sedang berlangsung hampir tak pernah terasa sampai seseorang membayangkan hidup tanpanya barang sebentar.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain 'menerima tobat / Maha Penerima Tobat' = glos tafsir yang MEMBALIK AGENSI (Allah jadi penerima pasif, padahal taaba alaa = Dia BERGERAK kembali kepada hamba). Bukti internal: 9:118 'taaba alayhim LI-YATUuBUu', berpaling-Nya MENDAHULUI tobat hamba; terjemahan lain terpaksa menambal dgn tambahan 'tetap dalam'. Pembeda leksikal nyata: saat Qur'an bermaksud 'MENERIMA', ia memakai akar q-b-l (yaqbalu 9:104 & 42:25; qaabili t-tawb 40:3), terjemahan lain meratakan keduanya. terjemahan ini: 'menyambut tobat' (aktif-menuju); takrif diterjemahkan 'Sang Penyambut Tobat'. Rumus at-tawwaabu r-rahiim (takrif) di 2:37, 2:54, 2:128, 2:160, 9:104, 9:118 diterjemahkan 'Sang Penyambut Tobat lagi Sang Pengasih'; indefinit (4:16, 4:64, 24:10, 49:12, 110:3) diterjemahkan 'penyambut tobat'. 2:222 at-tawwaabiin = MANUSIA dgn lema yang sama diterjemahkan kesaling-kembalian; 9:117 taaba alaa NABI (yang tak berdosa di peristiwa itu) diterjemahkan menegaskan taaba alaa = berpaling-dgn-karunia, tak mensyaratkan dosa. Corpus: akar t-w-b di ayat ini. 'accepted his repentance' hanya berlabel (Jel) = tafsir Jalaalayn, bukan leksikal. utk manusia (2:222 at-tawwaabiin!) 'orang yang banyak bertobat'.