وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

Mengapa ketika kalian mendengarnya, kalian tidak berkata, "Tidak pantas bagi kami membicarakan ini. Mahasuci Engkau. Ini fitnah yang agung"?

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْwa-lawlaa idz sami'tumuuhu qultummengapa ketika kalian mendengarnya kalian tidak berkata
  2. مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَاmaa yakuunu lanaa an natakallama bi-haadzaatidak pantas bagi kami membicarakan ini
  3. سُبْحَانَكَsubhaanakaMahasuci Engkau
  4. هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌhaadzaa buhtaanun 'azhiimunini fitnah yang agung

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَلَوْلَاwa-lawlaadan sekiranya tidak
  2. إِذْidzketika
  3. سَمِعْتُمُوهُsami'tumuuhukalian mendengarnya
  4. قُلْتُمْqultumkalian berkata
  5. مَاmaatidaklah
  6. يَكُونُyakuunuadalah
  7. لَنَاlanaabagi kami
  8. أَنْanagar
  9. نَتَكَلَّمَnatakallamakami berbicara
  10. بِهَٰذَاbi-haadzaadengan ini
  11. سُبْحَانَكَsubhaanakaMahasuci Engkau
  12. هَٰذَاhaadzaaini
  13. بُهْتَانٌbuhtaanunkebohongan besar
  14. عَظِيمٌ'azhiimunyang agung

Inti bacaan

Ayat ini memberi skrip konkret yang seharusnya diucapkan sebelum ikut membicarakan sesuatu yang belum jelas: 'tidak pantas bagi kita membicarakan ini', sebuah jeda refleksif sebelum bicara, bukan sekadar cek kebenaran setelahnya. Konkretnya: bangun kebiasaan nyata untuk berhenti sejenak di momen tergoda bergosip dan bertanya apakah topik itu pantas dibicarakan sama sekali, bukan hanya mempertanyakan apakah kabarnya benar.

Penjelasan pilihan kata

'Subhaanaka' ('Mahasuci Engkau', akar sbH) dipertahankan sesuai satu-satunya pengecualian terkunci dalam disiplin no-Maha proyek ini. 'Buhtaanun' ('fitnah', akar bht) dipertahankan berbeda dari 'al-ifk' (berita bohong, akar Afk) yang dipakai sepanjang bagian ini, dua akar berbeda untuk dua nuansa: ifk = kebohongan yang dibuat-buat, buhtaan = tuduhan palsu yang menistakan kehormatan.

Tafsiran

Ayat ini memberikan skrip konkret yang seharusnya diucapkan sebelum ikut membicarakan sesuatu yang belum jelas: respons yang dibuka dengan seruan kesucian Allah, menandai bahwa keterlibatan dalam fitnah semacam ini bukan sekadar kesalahan sosial, melainkan sesuatu yang menyentuh wilayah spiritual.

Renungan dan Hikmah

  • Skrip respons yang diajarkan di sini, 'tidak pantas bagi kami membicarakan ini', adalah jeda refleksif sebelum ikut bicara, bukan sekadar verifikasi kebenaran sesudah mendengar; prinsip ini berlaku luas melampaui konteks fitnah spesifik yang dibicarakan ayat ini.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

ayat verba/nomina smE-bSr non-sebutan: pemakaian diteruskan terjemahan lain (mendengar/melihat/pendengaran/penglihatan konsisten); pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y.