وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian enggan memberi kepada kerabat, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian? Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِwa-laa ya'tali uluu l-fadhli minkum wa-s-sa'atijanganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian enggan
- أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِan yu'tuu ulii l-qurbaa wa-l-masaakiina wa-l-muhaajiriina fii sabiili llaahimemberi kepada kerabat, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah
- وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُواwa-l-ya'fuu wa-l-yashfahuuhendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada
- أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْa-laa tuhibbuuna an yaghfira llaahu lakumapakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian
- وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimunAllah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (26 kata)
- وَلَاwa-laadan janganlah
- يَأْتَلِya'talibersumpah
- أُولُوuluuorang-orang yang memiliki
- الْفَضْلِl-fadhlikarunia
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- وَالسَّعَةِwa-s-sa'atidan kelapangan
- أَنْanuntuk
- يُؤْتُواyu'tuumereka memberikan
- أُولِيuliipemilik
- الْقُرْبَىٰl-qurbaakekerabatan
- وَالْمَسَاكِينَwa-l-masaakiinadan orang-orang miskin
- وَالْمُهَاجِرِينَwa-l-muhaajiriinadan orang-orang yang berhijrah
- فِيfiidi
- سَبِيلِsabiilijalan
- اللَّهِllaahiAllah
- وَلْيَعْفُواwa-l-ya'fuudan hendaklah mereka memaafkan
- وَلْيَصْفَحُواwa-l-yashfahuudan hendaklah mereka memaafkan
- أَلَاa-laatidakkah
- تُحِبُّونَtuhibbuunakalian mencintai
- أَنْanbahwa
- يَغْفِرَyaghfiramengampuni
- اللَّهُllaahuAllah
- لَكُمْlakumbagi kalian
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Perintah kepada orang berkelebihan rezeki untuk tidak bersumpah menahan bantuan dari kerabat yang pernah bersalah, disertai pertanyaan 'apakah kalian tidak suka Allah mengampuni kalian?', mengaitkan langsung kesediaanmu memaafkan orang lain dengan harapanmu sendiri diampuni. Konkretnya: ketika kerabat atau orang dekat yang pernah mengecewakanmu telah bertobat, jangan biarkan dendam menghentikan dukungan/bantuan yang biasa kamu berikan, kaitkan permintaanmu akan ampunan Allah dengan kesediaanmu sendiri mengampuni.
Penjelasan pilihan kata
'Ya'tali...an yu'tuu' ('enggan memberi', akar Alw+Aty) dipertahankan sebagai satu unit makna, tanpa memecahnya menjadi struktur sumpah-negatif yang lebih rumit dari yang diperlukan. 'Ghafuurun rahiimun' ('pengampun lagi pengasih') dipertahankan tanpa 'Maha', konsisten registri di seluruh teks ini.
Tafsiran
Ayat ini mengaitkan langsung kesediaan memberi dan memaafkan orang lain dengan harapan pribadi akan ampunan Allah: pertanyaan retoris di tengah ayat menjadikan hubungan sebab-akibat ini eksplisit, bukan sekadar anjuran terpisah.
Renungan dan Hikmah
- Empat rangkaian di ayat ini tak berulang di tempat lain: يَأْتَلِ, أُولُو الْفَضْلِ, وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا, dan أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ. Kata pertama itu berakar pada bersumpah, jadi yang dilarang bukan sekadar enggan memberi, melainkan mengikat keengganan itu dengan sumpah; menutup pintu dengan cara yang menyulitkan diri sendiri untuk membukanya kembali.
- Perintah memaafkan dan berlapang dada muncul lagi dengan bentuk tunggal di 5:13, dan di sana ia ditujukan kepada satu orang menghadapi pengkhianatan sebuah kaum. Di sini bentuknya jamak, dan yang dihadapi kerabat sendiri. Perhatikan juga letaknya: 24:21 baru saja memperingatkan tentang mengikuti langkah-langkah setan, lalu menyebut karunia Allah. Ayat ini menyusul dengan memakai kata yang seakar untuk menyebut orang berkelebihan, karunia yang di ayat sebelumnya diterima, di ayat ini diminta dialirkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.