وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian enggan memberi kepada kerabat, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian? Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِwa-laa ya'tali uluu l-fadli minkum wa-s-sa'atijanganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian enggan
- أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِan yu'tuu ulii l-qurbaa wa-l-masaakiina wa-l-muhaajiriina fii sabiili llaahimemberi kepada kerabat, orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah
- وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُواwa-l-ya'fuu wa-l-yasfahuuhendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada
- أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْa-laa tuhibbuuna an yaghfira llaahu lakumapakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian
- وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimunAllah pengampun lagi pengasih
Catatan pilihan kata (ringkas)
terjemahan lain di ayat ini: “Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. ⚠ Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:,. sebagian penerjemah: 'And let not swear those of bounty and abundance among you against giving to relatives, and the poor, and the émigrés in the cause of God; and let them pardon and overlook. Would you not love that God should forgive you? And God is forgiving and merciful.1' Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.
Aplikasi
Perintah kepada orang berkelebihan rezeki untuk tidak bersumpah menahan bantuan dari kerabat yang pernah bersalah, disertai pertanyaan 'apakah kalian tidak suka Allah mengampuni kalian?', mengaitkan langsung kesediaanmu memaafkan orang lain dengan harapanmu sendiri diampuni. Konkretnya: ketika kerabat atau orang dekat yang pernah mengecewakanmu telah bertobat, jangan biarkan dendam menghentikan dukungan/bantuan yang biasa kamu berikan, kaitkan permintaanmu akan ampunan Allah dengan kesediaanmu sendiri mengampuni.