إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka bersamanya dalam suatu urusan bersama, mereka tidak pergi sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan mereka, izinkanlah bagi siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan bagi mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (6 jeda)

  1. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِinnamaa l-mu'minuuna lladziina aamanuu bi-llaahi wa-rasuulihisesungguhnya orang-orang mukmin hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
  2. وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُwa-idzaa kaanuu ma'ahu 'alaa amrin jaami'in lam yadzhabuu hattaa yasta'dzinuuhudan apabila mereka bersamanya dalam suatu urusan bersama, mereka tidak pergi sebelum meminta izin kepadanya
  3. إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِinna lladziina yasta'dzinuunaka ulaa'ika lladziina yu'minuuna bi-llaahi wa-rasuulihisesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
  4. فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْfa-idzaa sta'dzanuuka li-ba'dhi sya'nihim fa-adzan li-man syi'ta minhummaka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan mereka, izinkanlah bagi siapa yang engkau kehendaki di antara mereka
  5. وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَwa-staghfir lahumu llaahadan mohonkanlah ampunan bagi mereka kepada Allah
  6. إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌinna llaaha ghafuurun rahiimunsesungguhnya Allah pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (39 kata)

  1. إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
  2. الْمُؤْمِنُونَl-mu'minuunaorang-orang beriman
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. آمَنُواaamanuuberiman
  5. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  6. وَرَسُولِهِwa-rasuulihidan Rasul-Nya
  7. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  8. كَانُواkaanuumereka adalah
  9. مَعَهُma'ahubersamanya
  10. عَلَىٰ'alaaatas
  11. أَمْرٍamrinurusan
  12. جَامِعٍjaami'inyang mengumpulkan
  13. لَمْlamtidak
  14. يَذْهَبُواyadzhabuumereka pergi
  15. حَتَّىٰhattaasampai
  16. يَسْتَأْذِنُوهُyasta'dzinuuhumereka meminta izin kepadanya
  17. إِنَّinnasesungguhnya
  18. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  19. يَسْتَأْذِنُونَكَyasta'dzinuunakamereka meminta izin kepadamu
  20. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  21. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  22. يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
  23. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  24. وَرَسُولِهِwa-rasuulihidan Rasul-Nya
  25. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  26. اسْتَأْذَنُوكَsta'dzanuukamereka meminta izin kepadamu
  27. لِبَعْضِli-ba'dhibagi sebagian
  28. شَأْنِهِمْsya'nihimurusan mereka
  29. فَأْذَنْfa-adzanmaka izinkanlah
  30. لِمَنْli-manbagi siapa yang
  31. شِئْتَsyi'taengkau kehendaki
  32. مِنْهُمْminhumdari mereka
  33. وَاسْتَغْفِرْwa-staghfirdan mohonlah ampun
  34. لَهُمُlahumubagi mereka
  35. اللَّهَllaahaAllah
  36. إِنَّinnasesungguhnya
  37. اللَّهَllaahaAllah
  38. غَفُورٌghafuurunpengampun
  39. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Ciri mukmin sejati adalah tidak meninggalkan urusan bersama tanpa meminta izin lebih dulu, kesediaan meminta izin dan bertanggung jawab atas kehadiran/ketidakhadiran dijadikan bukti komitmen sungguhan pada kolektif, bukan formalitas remeh. Konkretnya: dalam komitmen kelompok (kerja, proyek komunitas, rapat), perlakukan menghilang diam-diam tanpa pemberitahuan sebagai pelanggaran kepercayaan yang nyata, bukan jalan pintas yang tidak berbahaya.

Penjelasan pilihan kata

'Amrin jaami'in' ('urusan bersama', akar jmE) dipertahankan literal tanpa merinci jenis urusan yang tak disebut teks. 'Ghafuurun rahiimun' dipertahankan tanpa 'Maha', konsisten registri di seluruh teks ini.

Tafsiran

Ayat ini mendefinisikan ciri mukmin sejati bukan lewat pernyataan iman semata, melainkan lewat tindakan konkret: tidak meninggalkan urusan bersama tanpa meminta izin. Kesediaan meminta izin dijadikan bukti nyata komitmen, bukan formalitas kecil yang bisa diabaikan.

Renungan dan Hikmah

  • Pembuka إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ terpakai empat kali (8:2, 24:62, 49:10, 49:15), dan tiga yang lain menyebut ciri yang berlangsung di dalam diri: hati yang gemetar, iman yang bertambah, tawakal (8:2), tidak ragu lalu berjihad dengan harta dan jiwa (49:15). Ayat ini menyebut satu ciri yang bisa dilihat orang lain, tidak beranjak sebelum meminta izin. Rumusan yang sama membuka daftar sifat batin di tiga tempat, dan sebuah adab yang kasatmata di sini.
  • Rangkaian أَمْرٍ جَامِعٍ tak ada duanya, dan begitu pula وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ serta فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ. Yang terakhir itu memberi keleluasaan penuh kepada yang mengizinkan, tetapi ayat ini tak berhenti di situ: sesudah izin diberikan, yang mengizinkan disuruh memohonkan ampun bagi yang pergi. Kata يَسْتَأْذِنُونَكَ sendiri dua kali muncul, dan yang satunya 9:93 justru tentang orang yang meminta izin padahal berkecukupan, meminta izin ternyata bisa jadi tanda dua hal yang berlawanan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.