وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Dan mereka berkata, "Dongeng-dongeng orang terdahulu yang ia tuliskan, lalu ia didiktekan kepadanya pagi dan petang."

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَاwa-qaaluu asaathiiru l-awwaliina ktatabahaadan mereka berkata, dongeng-dongeng orang terdahulu yang ia tuliskan
  2. فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًاfa-hiya tumlaa 'alayhi bukratan wa-ashiilanlalu ia didiktekan kepadanya pagi dan petang

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَقَالُواwa-qaaluudan mereka berkata
  2. أَسَاطِيرُasaathiirudongeng-dongeng
  3. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu
  4. اكْتَتَبَهَاktatabahaaia menuliskannya
  5. فَهِيَfa-hiyamaka ia
  6. تُمْلَىٰtumlaadibacakan
  7. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  8. بُكْرَةًbukratandi waktu pagi
  9. وَأَصِيلًاwa-ashiilandan petang

Inti bacaan

Tuduhan lain: 'dongeng-dongeng orang terdahulu yang ia tuliskan, lalu dibacakan kepadanya pagi dan petang', upaya menjelaskan fenomena luar biasa dengan penjelasan yang tampak masuk akal namun sebenarnya tidak berdasar.

Penjelasan pilihan kata

'Asaatiiru l-awwaliina' ('dongeng-dongeng orang terdahulu', akar sTr): tuduhan yang sama muncul di tempat lain dalam Al-Qur'an sebagai bentuk penolakan standar terhadap wahyu. 'Tumlaa' ('didiktekan', akar mlw) dipertahankan literal.

Tafsiran

Tuduhan kedua ini mencoba menjelaskan asal-usul wahyu dengan cerita yang tampak masuk akal secara mekanis (proses penulisan dan pendiktean rutin), sebagai cara menjauhkan diri dari kemungkinan bahwa itu benar-benar wahyu.

Renungan dan Hikmah

  • Tuduhan أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ terpakai sembilan kali di sembilan surah, jadi ia tuduhan yang paling sering diulang. Yang membuat ayat ini lain adalah tambahan yang menyusulnya, dan tambahan itu tak ada di delapan tempat lain: dua kata yang menerangkan cara kerjanya, اكْتَتَبَهَا dan تُمْلَىٰ عَلَيْهِ, dua-duanya sekali saja muncul. Tuduhan yang biasanya berhenti pada label, di sini diteruskan sampai ke mekanismenya.
  • Keterangan waktunya, بُكْرَةً وَأَصِيلًا, muncul empat kali, dan tiga yang lain semuanya tentang mengingat Allah: bertasbih pada pagi dan petang (33:42, 48:9) dan menyebut nama Tuhan pada pagi dan petang (76:25). Rumusan yang di tempat lain menandai ibadah yang tekun, di sini dipakai untuk menggambarkan pendiktean yang dituduhkan. Perhatikan juga tuduhan sebelumnya di 25:4, di sana yang dituduh mengarang sendiri dibantu kaum lain, di sini justru menyalin. Dua tuduhan berdampingan yang saling meniadakan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, s-t-r, a-w-l, k-t-b, m-l-w, b-k-r, a-s-l): asaatiir al-awwaliin diterjemahkan 'dongeng-dongeng orang terdahulu' (akar s-t-r + akar '-w-l); iktatabahaa diterjemahkan 'ia menuliskannya' (akar k-t-b); tumlaa diterjemahkan 'dibacakan (didiktekan)' (akar m-l-w); bukratan wa asiilan diterjemahkan 'pagi dan petang'. gloss '(oleh Nabi Muhammad)/(dongeng)' dibuang.